Cirebon | Pelita News – Universitas Swadaya Gunung Jati (UGJ) terus memperkuat posisinya sebagai perguruan tinggi dengan tingkat serapan kerja lulusan yang tinggi, termasuk di kancah internasional. Hal ini disampaikan langsung oleh Rektor UGJ, Prof. Dr. Ir. H. Achmad Faqih, SP., MM., IPU., CIRR., dalam pemaparan strategi penguatan mutu dan daya saing lulusan.
Menurut Prof. Faqih, salah satu fokus utama UGJ saat ini adalah mempertahankan akreditasi Unggul, sekaligus memastikan lulusan memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
“Mempertahankan akreditasi unggul tidak cukup hanya dengan perencanaan kegiatan. Kami lebih menekankan pada peningkatan kualitas program, terutama yang berdampak langsung pada mahasiswa dan lulusan,” tegasnya.
Memasuki tahun akademik 2025–2026, UGJ menargetkan peningkatan signifikan pada kinerja internasional. Langkah ini diyakini mampu mendongkrak keunggulan kampus sekaligus membuka peluang kerja global bagi mahasiswa.
Sejumlah program internasional pun terus diperkuat, di antaranya kerja sama dengan perguruan tinggi dan industri di Eropa melalui program RMS Plus, peningkatan kegiatan visiting professor, dosen UGJ yang mengajar di luar negeri, hingga kolaborasi riset dan seminar internasional.
“Semua kegiatan internasional ini bukan sekadar pencitraan, tetapi berdampak langsung pada peningkatan kompetensi mahasiswa dan pengakuan UGJ di level global,” jelas Prof. Faqih.
Dampak nyata dari strategi tersebut terlihat pada tingginya serapan kerja mahasiswa, khususnya di Fakultas Pertanian. Prof. Faqih mencontohkan, pada tahun sebelumnya mahasiswa pertanian UGJ dikirim untuk bekerja dan magang di Jepang.
“Hasilnya sangat signifikan. Tahun akademik 2026, jumlah mahasiswa Fakultas Pertanian yang mengikuti program ini meningkat hingga 120 persen,” ungkapnya.
Program ini memungkinkan mahasiswa belajar sambil bekerja di industri internasional selama satu tahun penuh. Mereka tidak hanya memperoleh penghasilan, tetapi juga pengalaman kerja global yang bernilai tinggi.
“Mahasiswa bekerja di industri luar negeri, mendapatkan gaji dan pengalaman, lalu kembali ke Indonesia untuk menyelesaikan skripsi. Setelah itu mereka wisuda dengan bekal pengalaman kerja internasional,” tambahnya.
Menurut Prof. Faqih, inilah yang menjadi daya tarik utama UGJ bagi calon mahasiswa. Kampus tidak hanya menawarkan gelar akademik, tetapi juga jalur karier nyata setelah lulus.
“Banyak mahasiswa memilih UGJ karena melihat peluang masa depan. Kuliah bukan hanya soal teori, tapi juga tentang kesiapan kerja dan kemandirian,” pungkasnya.
Dengan penguatan program internasional dan kurikulum berbasis kebutuhan industri, UGJ optimistis mampu terus mencetak lulusan yang cepat terserap di dunia kerja, baik nasional maupun global.@Bams















