Cirebon | Pelita News – Ketua Yayasan Pendidikan Swadaya Gunung Jati (UGJ), Prof. Dr. H. Mukarto Siswoyo, Drs., M.Si., menegaskan bahwa pertumbuhan perguruan tinggi di daerah justru menjadi angin segar bagi dunia pendidikan nasional. Menurutnya, semakin banyak universitas berdiri, semakin luas pula pilihan masyarakat untuk menyekolahkan putra-putri terbaiknya.
“Bagi UGJ, saya dan Rektor UGJ Prof.Dr.Ir.H.Achmad Faqih.SP, MM., IPU. CIRR, sepakat bahwa bertumbuhnya universitas di daerah Cirebon atau Ciayumajakuninh adalah hal yang patut disambut baik. Artinya masyarakat semakin punya banyak pilihan untuk menentukan perguruan tinggi terbaik bagi anak-anaknya,” ujar Prof. Mukarto.
Namun, di tengah meningkatnya jumlah perguruan tinggi, UGJ memilih fokus pada peningkatan kualitas agar tetap dipercaya masyarakat. Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah penguatan sumber daya manusia, khususnya dosen.
Prof. Mukarto mengungkapkan, UGJ menargetkan seluruh dosen bergelar doktor. “Rektor punya target ke depan, tidak ada lagi dosen bergelar S2. Semuanya harus doktor. Untuk itu, kami dari yayasan menyiapkan beasiswa internal bagi dosen yang belum mendapatkan beasiswa eksternal,” jelasnya.
Tak hanya SDM, UGJ juga melakukan lompatan besar dalam penguatan sarana dan prasarana. Saat ini, seluruh ruang kelas di UGJ telah dilengkapi dengan fasilitas *smart class*.
“Hari ini tidak ada lagi ruang kelas yang memakai papan tulis atau triplek. Semua sudah menggunakan Smart TV dan sistem pembelajaran digital. Ini bagian dari kesungguhan kami dalam menyiapkan putra-putri masyarakat dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang memadai,” tegasnya.
Menurutnya, kualitas pendidikan tidak bisa dilepaskan dari dukungan fasilitas modern yang relevan dengan perkembangan zaman dan kebutuhan mahasiswa.
Selain itu, komitmen peningkatan layanan juga menjadi perhatian utama. Seluruh elemen kampus—mulai dari yayasan, pimpinan universitas, dosen, hingga tenaga kependidikan—diikat dalam satu komitmen untuk terus meningkatkan mutu pelayanan akademik dan non-akademik.
“Kualitas layanan adalah kebutuhan utama hari ini. Kami sadar, masyarakat menilai bukan hanya dari nama, tapi dari pengalaman dan pelayanan yang mereka rasakan,” ujarnya.
UGJ juga terus menyesuaikan diri dengan regulasi, kebijakan pemerintah, serta tuntutan pasar kerja. Prof. Mukarto menekankan pentingnya *link and match* antara kurikulum kampus dengan kebutuhan dunia industri dan dunia kerja.
“Kita tidak bisa hanya berkutat pada apa yang kita anggap benar. Di luar sana tuntutannya semakin tinggi. Karena itu, UGJ terus beradaptasi agar lulusan memiliki skill dan pengetahuan yang sesuai dengan kebutuhan pasar,” katanya.
Menariknya, Prof. Mukarto menegaskan bahwa UGJ tidak memandang perguruan tinggi lain sebagai pesaing.
“Kami tidak menganggap mereka sebagai kompetitor, tetapi sebagai partner dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Semua punya peran, dan tujuan kita sama,” pungkasnya.
Dengan strategi peningkatan kualitas SDM, fasilitas modern, dan kurikulum adaptif, UGJ optimistis tetap menjadi pilihan utama masyarakat di tengah dinamika dunia pendidikan tinggi yang kian kompetitif.@Bams















