Pelita News | Lemahabang – Proyek perbaikan jalan di jembatan depan SMAN 1 Lemahabang, Desa Cipeujeuh Wetan kembali menuai sorotan. Hasil penimbunan material dan hotmix ulang guna melandaikan jalan di kedua sisi jembatan yang curam baru saja rampung dikerjakan pada Jum’at 3 Juli 2026 kemarin, kini sudah hancur dan terkelupas lagi.
Publik menilai CV Dwi Yanti selaku pelaksana proyek Gorong-gorong senilai Rp278.530.000,- dari APBD tahun 2026 berulang kali gagal menangani persoalan di titik “Zona Merah” tersebut. Minggu (5/7/2026).
Berdasarkan catatan dan keluhan warga, kegagalan pada hasil proyek tersebut terjadi secara berulang:
1. Proyek gorong-gorong yang difungsikan sebagai jembatan dibangun terlalu tinggi dari jalan, akibatnya jalan di kedua sisi jembatan menjadi curam. Kondisi ini menjadi penyebab banyaknya korban jatuh, bahkan hingga kritis.
2. Perbaikan terkesan asal-asalan. Upaya pelandaian jalan di kedua sisi jembatan dengan menimbun material dan hotmix ulang tidak bertahan lama. Baru sehari dikerjakan, kini kondisi hotmix sudah mengelupas dan material dasar urugan terlihat lagi.
3. Banjir Belum Tersentuh. Persoalan banjir dan genangan di sebelah selatan jembatan belum ada solusi. Saat hujan turun, air tidak bisa mengalir karena jembatan terlalu tinggi. Akibatnya air berbalik dan menggenangi jalan. Bahkan pembuatan sodetan ke sungai justru menjadi masalah baru, saat sungai meluap maka air keluar ke jalan, hal ini disebabkan badan jalan lebih rendah dari sungai yang ada di sebelah timur.
“Ini bukti kerja tidak tuntas. Yang satu dibetulin, yang lain dibiarkan. Ujung-ujungnya jalan kembali membahayakan karena hotmix rusak lagi, padahal baru diberesin kemarin,” ujar Yanto warga setempat yang tengah turut mengambil dokumentasi kerusakan jalan
Atas kegagalan berulang ini, publik mendesak Pemerintah Kabupaten Cirebon melalui DPUTR Kabupaten Cirebon untuk memberikan sanksi tegas.
“Kami minta CV Dwi Yanti di-blacklist dari seluruh proyek di Kabupaten Cirebon. Jangan sampai dikasih kerja lagi kalau hasilnya merugikan dan membahayakan nyawa orang,” tegas Yanto.
Warga juga mendesak DPUTR segera melakukan audit dan memerintahkan kontraktor membongkar serta memperbaiki ulang sesuai standar dan tidak asal-asalan.
Hingga berita ini diturunkan, pihak DPUTR dan CV Dwi Yanti belum memberikan klarifikasi terkait kerusakan yang terjadi sehari setelah perbaikan. @Ries















