Indramayu,PN
Sejarah kabupaten Indramayu, seperti halnya kabupaten kota lainnya di Jawa Barat, sangat tekait dengan proses perjalannnya di masa lampau.
Salah satunya di era kolonial belanda yang menguasai bumi pertiwi saat itu. Di masa penjajahan belanda perkembangan kota Indramayu juga dipengaruhi oleh kawasan bisnis dan perekonomian teruatama di sekitar kawasan aliran sungai Cimanuk yang saat itu masih membelah kota Indramayu. Sungai yang tegolong cukup besar saat itu, langsung bermuara ke laut Utara Indramayu.
Konon katanya pada saat itu, sungai Cimanuk yang berada tidak jauh dari alun alun dan pendopo Indramayu merupakan lalulintas periaran yang ramai dibidang pedagangan, tentunya Indramayu sebagai kawasan penghasil beras dan hasil tangkapan ikan laut serta aneka hasil bumi lainnya.
Kali Cimanuk saat ini dilintasi sejumlah kapal para juragan baik asal timur tengah maupun negeri cina, hal ini dibuktikan dengan masih berdirinya sejumlah gudang milik para juragan kapal yang hingga saat ini masih berdiri kokoh disepanjang sungai Cimanuk, mulai dari jalan Veteran, Kelurahan Paoman , Desa Penganjang hingga sepanjang DAS jalan Cimanuk Timur dan Barat.
Sebagai bukti sejarah kawasan perekonomian pada saat itupun masih bisa kita saksikan dengan banyaknya bangunan bernuansa tionghoa, pabrik es, sejumlah gudang beras serta hasil bumi lainnya yang kini menjadi saksi bisu sejarah indramayuj di masa lalu.
Bahkan sepanjang daerah aliran sungai Cimanuk kota Indramayu ini mewujudkan tiga komunitas warga sepanjang pergudangan cimanuk merupakan kawasan pecinan lengkap dengan gereja dan klenteng yang berusia ratusan tahun , sedangkan seberang sungai merupakan kawasan kampung Arab yang merupakan perkampungan warga timur tengah poros islamisasi yang mungkin saat itu banyak terlibat dalam bisnis perdagangan dengan warga pribumi ataupun kaum tionghoa .
Selain dua kawasan perkampungan pecinan dan kampung arab, juga tepat di sebelah barat pendopo ditemukan pula kawasan pemerintahan kolonial belanda yang berada di wilayah Desa Pengajang tepatnya kini menjadi komplek asrama penganjang (Aspeng) dimana dilokasi ini masih ditemukan bangunan peninggalan pemerintahan belanda yang kini dikenal warga sekitar sebagai kampung welanda (belanda) .
Disebut kampung Welanda karena tidak jauh dilokasi tesebut ditemukan bangunan besar sebagai pusat pemerintahan Belanda pada saat itu yang kini lebih dikenal warga dengan “Gedong Duwur “.
Selain itu dikawasan ini juga dinyakini merupakan kawasan Pendidikan pertama di era belanda yaitu Holland Intenasional School (HIS) serta kawasan pusat pemakaman warga beturunan belanda ( Kerkoff).
Seperti dituturkan Kuwu Pengajang Drs.Darsono M.Si keberadaan kampung Belanda di wilayah Desa Penganjang ini memang dibuktikan dengan sejumlah bangunan tua peninggalan belanda yang kini masih lestari.” Disebut kampung welanda memang karena dikawasan ini merupakan pusat pemerintahan dan Pendidikan dijaman Balanda,tentunya ini harus tejaga kelestariannya dan semestinya menjadi asset berharga bagi kabupaten Indramayu yang harus terus dijaga dan dilestarikan keberadaannya agar anak cucu kita nanti masih melihat bukti sejarah secara langsung bukan hanya gambar di dalam buku,” tandas dia.
Selain dimiliki bukti sejarah berupa bangunan peninggalan, perjalanan Indramayu di era itupun mencatatkan sejumlah nama tokoh ulama Indramayu yang tekenal pada saat itu diantaranya
KH. Singub (Babadan kepuh) Syek Yusuf Ahmad penganut thoriqoh Asysyadzilyah yang makamnya berada di kebon kelapa, dan memiliki murid yang bernama Kiyai Bajuri yang berada di blok Tajug Sudimampir. “Beliau memiliki santri yang bernama Habib Luthfi yang hari ini dikenal sebagai mufti atau pimpinan Thoriqoh seluruh dunia dan juga menjadi musyid thorigoh Asysyadzaliyah ,” tuturnya.
Penyikapi dengan keberadaan sejumlah peninggalan sejarah Indramayu, ia mengharapkan bila tiga kawasan tesebut bisa dilestarikan oleh Pemkab Indramayu melalui pemerintahan baru Bupati Indramayu Ninna SH MH – Lucky Hakim.” Kami sangat mengharapkan bila kawasan tersebut bisa dijadikan cagar budaya oleh Pemkab Indramayu saat ini, sehingga warisan budaya bangsa khususnya warga Indramayu ini bisa tetap lestari,” ungkapnya.
Sementara itu, bagaikan gayung bersambut bila belakangan sosok bupati Indramayu saat ini Ninna SH MH yang merupakan putri tebaik Indramayu ini pun berjanji akan berusaha melestarikan kawasan tersebut sebagai kawasan cagar budaya,” Informasinya ibu bupati pun sudah melihat langsung lokasi kawasan kampung belanda, pecinan dan kampung Arah yang ada di kota Indramayu, mudah mudahan ada Langkah kongkrit untuk bisa melestarikan warisan budaya indramayu tempo dulu,” tutur sumber.**( ichsan).















