Cirebon | Pelita News — Komisi VII DPR RI memberikan apresiasi tinggi kepada PLTU Cirebon Power, yang dinilai sukses menjadi role model pembangkit listrik ramah lingkungan di Indonesia.

Kunjungan kerja yang dipimpin Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Dony Maryadi Oekon, itu menyoroti komitmen Cirebon Power dalam menerapkan teknologi bersih dan praktik pengelolaan energi berkelanjutan.
Rombongan DPR meninjau langsung dua unit pembangkit—berkapasitas 1.000 megawatt (MW) dan 660 MW—yang menggunakan teknologi terbaru guna menekan emisi dan meningkatkan efisiensi energi.
“PLTU Cirebon adalah contoh konkret bahwa pembangkit listrik berbasis batubara pun bisa dikelola dengan teknologi ramah lingkungan. Ini bisa menjadi percontohan nasional,” ujar Dony Maryadi di sela kunjungan.
Dony mengungkapkan kekagumannya terhadap sistem manajemen energi dan logistik PLTU Cirebon yang dinilai stabil dan efisien.
“Cirebon Power memiliki stok batubara aman hingga 20 hari karena bekerja sama dengan pemasok tambang sendiri. Sementara banyak pembangkit lain hanya bertahan tiga hari atau bahkan hampir nol,” jelasnya.
Menurutnya, kondisi tersebut harus menjadi alarm bagi pemerintah untuk memastikan ketersediaan pasokan batubara nasional tidak terganggu akibat kebijakan ekspor yang berlebihan.
“Prioritas utama tetap kebutuhan dalam negeri. Kita tidak boleh biarkan pembangkit kekurangan pasokan karena orientasi ekspor,” tegas Dony.
Selain aspek teknis, DPR RI juga menilai program Corporate Social Responsibility (CSR) Cirebon Power berjalan efektif dan menyentuh kebutuhan riil masyarakat sekitar.
“Dari hasil kunjungan, kami melihat program CSR Cirebon Power bukan sekadar formalitas, tapi benar-benar memberi manfaat nyata. Ini bisa menjadi contoh bagi pembangkit lain di seluruh Indonesia,” ungkap Dony.
Hal senada disampaikan Anggota Komisi VII DPR RI, Rokhmat Ardian, yang menilai Cirebon Power berhasil menyeimbangkan antara produktivitas energi dan keberlanjutan lingkungan.
“Kami melihat sendiri bagaimana perusahaan ini tidak hanya menerangi Pulau Jawa, tetapi juga menumbuhkan ekosistem lingkungan yang sehat dan sejahtera. Ini investasi yang berkelanjutan,” katanya.
Wakil Direktur Utama Cirebon Power, Joseph Pangalila, menegaskan komitmen perusahaan untuk selalu menjalankan operasional sesuai dengan standar lingkungan yang ditetapkan pemerintah.
“Kami berkomitmen mengoperasikan pembangkit dengan prima, memperhatikan lingkungan hidup, dan terus menjalankan tanggung jawab sosial untuk masyarakat sekitar,” ujar Joseph.
Terkait pertanyaan DPR RI mengenai rencana pensiun dini PLTU Cirebon Unit 1, Joseph memastikan perusahaan telah menyiapkan strategi transisi yang matang.
“Tiga tahun sebelum program pensiun dini dijalankan, kami akan mempersiapkan berbagai langkah—baik untuk karyawan, masyarakat penerima CSR, maupun mitra vendor—agar kebijakan ini tidak menimbulkan dampak negatif,” jelasnya.
Kunjungan DPR RI ke PLTU Cirebon Power menjadi momentum penting untuk menegaskan bahwa transisi energi tidak harus mengorbankan stabilitas listrik nasional.
Dengan inovasi teknologi dan pengelolaan berkelanjutan, Cirebon Power membuktikan bahwa energi bersih dan efisien bisa berjalan seiring dengan tanggung jawab sosial dan ekonomi.
“Cirebon Power adalah bukti nyata bahwa industri energi Indonesia mampu bertransformasi menuju masa depan yang lebih hijau, mandiri, dan berkelanjutan,” pungkas Dony Maryadi. @Bams















