Pelita News | Cirebon Timur – Heboh! Terhitung baru saja tiga bulan lalu diresmikan, Jembatan Babakan Losari Lor, Kabupaten Cirebon kini roboh pada bagian dinding atau tembok penahan tanah. Sontak, kabar tersebut cepat meluas dan menjadi perbincangan hangat dikalangan masyarakat umum. Peristiwa amblas dan robohnya dinding jembatan tersebut terjadi pada Sabtu malam (15/11/2025).
Jembatan Babakan Losari Lor sendiri dibangun dengan menelan anggaran mencapai 13,8 Milyar dan diresmikan pada Sabtu, 23 Agustus 2025 lalu oleh Direktorat Jenderal Bina Marga (DJBM) dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Peresmian tersebut menandai berfungsinya jembatan gantung yang menghubungkan Desa Babakan Losari Lor (Cirebon, Jawa Barat) dengan Desa Babakan Losari (Brebes, Jawa Tengah).
Pantauan Pelita News dilokasi, jembatan penghubung wilayah Provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah ini sementara waktu ditutup demi menjaga keselamatan masyarakat dari hal – hal yang tidak diinginkan.
Aktivis Buruh Cirebon, Doddy mengungkapkan rasa ironis sekaligus miris di tengah perjuangan rakyat Cirebon Timur agar wilayahnya bisa menjadi maskot atau mercusuar bagi para investor untuk datang dan berinvestasi, namun sangat di sayangkan dengan peristiwa infrastruktur jembatan gantung yang menjadi salah satu faktor penunjang kemudahan akses transformasi di bangun dengan kesan asal-asalan.
“Kejadian ambruk atau robohnya jembatan gantung ini sedang menjadi buah bibir khususnya dikalangan masyarakat Cirebon Timur, sekaligus obrolan warung kopi kaum pemerhati sosial lingkungan,“ ujarnya.
Ia pun mengungkapkan adanya keseragaman asumsi publik, banyak pertanyaan besar muncul hingga menjadi bola liar. Kenapa jembatan yang diresmikan oleh Kementerian PUPR yang dihadiri para pejabat tinggi ini menggunakan material pasangan batu dan urugan tanah ? Jembatan baru 3 bulan selesai dikerjakan namun kini sudah amblas, saat peresmian heboh pejabat. Mana tanggung jawab pejabat yang hadir dalam peresmian ?
“Tidak ada banjir besar dan tidak ada cuaca ekstrem, tapi jembatan ambruk. Ini bukti lemahnya kontrol dan pengawasan proyek. Tuntut pelaksana dan pengawas!,“ tegas Doddy, Minggu (16/11/2025).
Doddy pun mengungkapkan rasa iba terhadap nasib masyarakat, jembatan vital ini seharusnya menjadi solusi, bukan ancaman. Untuk itu ia meminta kepada pihak yang bertanggung jawab agar segera dilakukan perbaikan, jangan menunggu ada korban.
“Standar keamanan apa yang digunakan untuk proyek ini? Ini bukan hanya kerusakan, ini potensi bencana. BPK RI saatnya melakukan audit!,“ imbuhnya.
Doddy kembali mempertanyakan langkah konkret pemerintah untuk memperbaiki jembatan, jangan biarkan jembatan ini menjadi monumen kegagalan. Menurutnya, masyarakat tidak membutuhkan klarifikasi, namun butuh aksi nyata.
“Perbaiki jembatan, usut tuntas, dan hukum yang bertanggung jawab. Jangan sampai rakyat indonesia menilai ini sebagai preseden buruk bagi kinerja para pejabat dan instansi dalam pengawasan pekerjaan yang berbasis kerakyatan,“ katanya.
Ia mendesak kepada pihak berwenang dan berkompeten agar segera turun tangan untuk melakukan identifikasi, mengobservasi sebab akibatnya dan segera di perbaiki agar dapat di pergunakan kembali sedia kala. Mengingat jembatan ini sebagai jalur alternative penghubung Provinsi Jabar dan Jateng.
“Kembali pada nilai-nilai luhur para leluhur wong cerbon. Isun titip tajug lan fakir miskin adalah wasiat dari Sunan Gunung Jati yang memiliki arti Aku titip masjid (atau mushola/langgar) dan fakir miskin,“ tuturnya. @Ries















