Indramayu,PN
Tak bisa dipungkiri,bila sektor ekonomi negeri ini terkoyak akibat pandemic covid 19. Meski tak terbuka atau tak teekspose media bila banyak sektor usaha kini “lesu darah” bahkan gulung. tikar akibat menurunya daya beli masyarakat.Sudah tak rehitung warga yang kehilangan pekerjaan (PHK) atau kehilangan penghasilan akibat pandemic.
Sektor bisnis baik sekala kecil (home idustri) maupun sekala besar (pabrik atau perusahaan ) yang kini harus menelan kenyataan menghadapi berbagai persoalan , mulai dengan penurunan produksi akibat permintaan pasar menurun, dilanda ancaman pandemi bagi para karyawan, mengeluarkan dana rutin untuk Rapid Test, Swab, PCR yang harus ditanggung perusahaan yang kalau dihitung nilainya tidak sedikit, sebagai syarat masih bisa beroperasinya kegiatan pabrik oleh pemerintah.
Pemandangan senderhana di lingkungan usaha kecil disentra produksi krupuk Dukuh Indramayu yang mengaku mengalami kelesuan darah karena bisnisnya kini sepi dari permintaan pasar.
Menurut H.Kasan salah seorang pengusaha kerupuk udang Blok Dukuh, permintaan krupuk ke luar wilayah mengalami penurunan sangat signifikan.” Kalau dulu sebelum Covid permintanaan ke kota Jakarta dan kota besar lainnya mencapai 2 s.d 3 ton krupuk namun kini jumlah permintaan hanya kisaran maksimal 200 bal ( satu bal krupuk kemasan 5 Kg). sehingga tepaksa proses produksi dikurangi,” Karena masih banyak stok krupuk, maka untuk sementara kita membatasi produksi biasanya hampir setiap hari, kini dalam sepekan hanya 1 sampai dengan 2 hari saja,” keluhnya.
Hal senada juga dibenarkan sejumlah pengusaha krupuk Dukuh yang kini mengalami penurunan omset penjualan. Mereka mengaku tidak tahu sampai kapan mereka bisa betahan ditengah tekanan ekonomi seperti saat ini.
Bagi banyak pihak pandemic Covid 19 ini, telah melumpuhkan semua sektor kehidupan masyarakat. Bahkan banyak masyarakat ini sudah mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup,” terus terang masa ditengah covid 19 ini, untuk bisa bertahan makan sehari-sehari saja sudah cukup, bahkan tepaksa utang sembako ke warung tetangga, baru dibayar kalau ada rejeki agak gede,” tutur Bambang, 53 warga Kelurahan Margadadi Indramayu.
Ia menyebutkan, bila ada anekdot tentang ciri terkena Covid 19 yaitu gejala sesak nafas, kalau gejala bokek (tak punya uang) maka nafas tersengal- sengal alias menggap mesah (red.jawa) , demikian juga dengan gejala pusing yang dirasakan, bagi orang yang bokek justru gejalanya pusing sekali, sulit makan malah tejadi “apa yang dimakan” karena tidak ada uang.” Betul itu mas fakta sebenarnya, kondisi masyarakat saat ini, yang jelas waspada akan kondisi krisis ekonomi yang bisa melanda cukup hebat bagi bangsa ini,” Pungkasnya dia.**(ichsan/biro)















