Kabupaten,PN
Banyak yang beranggapan bahwa aktivitas minat baca di masyarakat telah hilang sejak menjamurnya gadget. Para remaja dikatakan lebih memilih main game, atau menjelajah di medsos untuk bersenda gurau dalam menghabiskan waktu luang ketimbang membaca.
Namun Sekretaris Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Cirebon, Kasina, mempunyai pendapat yang berbeda. Ia mengatakan, hal tersebut tidaklah demikian.
“Banyak yang menganggap, bahwa setelah maraknya gadget, android, ya, itu anak-anak kita jadi jauh dari membaca. Lebih senang bermain game dan medsos. Akan tetapi, saya lihat salah. Masih banyak kok yang gemar membaca,” ungkap Kasina ketika berbincang dengan wartawan Harian Pelita di Kantor Disarpus Kabupaten Cirebon, Senin 31 Januari, pekan lalu.
Hal tersebut ia sampaikan setelah turut serta dalam penyelenggaran Safari Literasi dari Gol A Gong dan Perpusnas yang diselenggarakan di SMPN 1 Sumber akhir 20 Januari 2022.
“Anak-anak itu begitu antusias dalam acara tersebut. Bahkan ya, ketika ada pertanyaan dari Gol A Gong terkait buku ini dan itu, penulis ini dan itu mereka bisa menjawabnya dengan senang,”tuturnya, sambil mengatakan bahwa nama-nama buku dan penulis yang ditanya termasuk baru dan mungkin orang dewasa belum tentu mengenalnya.
“Ya, orang dewasa seumuran saya khususnya, sudah tidak tahu nama-nama penulis dan buku-buku baru itu,” tambahnya.
Ia mengatakan, bahwa fenomena ini adalah hal positif yang harus kita sambut dengan baik.
Kmunitas Sebagai Penopang
Lebih jauh, ia juga menyampaikan bahwa hal ini juga harus diketahui tidak terjadi begitu saja. Ada peran komunitas sebagai penopang.
“Tetapi saya kira ada peran komunitas ya. Jadi di SMPN 1 itu ternyata ada kelompok siswa yang dibentuk dan dikawal oleh guru dan jadwal kegiatan khusus untuk kegiatan literasi tersebut. Ini yang menjadi penopang,” tuturnya menjelaskan mengapa anak-anak masih gemar pada aktivitas literasi.
Ia juga menambahkan bahwa peran komunitas ini berlaku juga di lingkup masyarakat yang lebih luas. Tak hanya yang berbasis sekolah.
“Peran ini juga mirip seperti yang terjadi di masyarakat. Komunitas menjadi penggerak adanya kegiatan literasi,” ungkapnya sambil menyinggung kegiatan donasi buku yang pernah dilakukan di tahun 2021 yang bekerjasama dengan komunitas.
“Seperti tahun lalu, ada kegiatan yang itu bekerja sama dengan komunitas. Kita kan selaku pihak pemerintah tak bisa menjangkau masyarakat sampai jauh ke Desa-desa kecuali dalam agenda khusus. Tetapi komunitas bisa, karena lebih dekat dengan masyarakat,” lanjutnya.
Dalam akhir perbincangan, ia mengatakan bahwa pihak Dinas di era saat ini tak bisa melakukan banyak hal untuk masyarakat. Masyarakat harus lebih aktif mencanangkan program yang diajukan, sehingga pihak dinas bisa memfasilitasi.
“Jadi, sekarang itu program sifatnya dari bawah. Bukan lagi top down. Melalui komunitas masyarakat bisa mengusungnya. Melalui rapat di tingkat Desa, Kecamatan, Musrembang. Sampai diketuk. Itulah penntingnya keberadana komunitas,” jelasnya secara rinci.
Ia menegaskan, jika tak demikian maka akan sulit apa yang diinginkan bisa terealisasi.
“Sulit, jika tidak demikian. Jika program-program harus dirumuskan dari kami. Sebab itu terlihat datangnya tidak dari kebutuhan masyarakat,” tutupnya. (SA)















