Kabupaten Cirebon,PN
Terus naiknya harga kedelai putih berimbas pada merosotnya penjualan dan pendapatan pengerajin tempe, hal tersebut dirasa terus dialami sejak adanya pandemi Covid 19 hingga saat ini, tidak hanya itu pengerajin bahkan dibuat bingung dengan hasil olahan yang dijual dengan harga tetap namun komposisi terus berkurang, yang mengakibatkan pengerajin tempe terus mendapat pertanyaan dengan komposisi yang semakin berkurang.
Salah satu pengerajin tempe wilayah Desa Tegalkarang Kecamatan Palimanan Kabupaten Cirebon bernama Awas dan biasa disapa Ndut, Dia selalu mendistribusikan hasil olahannya ke beberapa pasar di wilayah Kabupaten Cirebon yakni Pasar Jamblang, Pasar Minggu Palimanan dan Pasar Danawinangun memaparkan, dengan adanya kondisi saat ini pendapatan dari hasil tempe disebutkannya sangat menurun.
“saya merasakan sendiri, dengan adanya covid 19, ekonomi atau pendapatan dari tempe turun merosot, sedangkan dampak dari kenaikan sangat berpengaruh pada omset pendapatan harian,” paparnya.
Disebutkannya, walaupun bahan baku tempe masih ada dipsaran, namun Awas sampaikan harga kedelai untuk bahan baku tempe yang sebelumnya hanya berada dikisaran harga Rp.7.000 perkilo, namun saat ini bisa mencapai hingga kisaran Rp.12.000 perkilonya, sehingga dengan adanya hal tersebut, Ndut terus mengupayakan agar harga tetap dengan komposisi yang terus berkurang. “bahan baku masih tetap ada, yang bikin kendala itu harganya sangat melabung tinggi, dari yang semula hanya kisaran Rp.7.000 perkilo saat ini bisa mencapai harga kisaran Rp.12.000 perkilo, jadi potongan tempe juga kami perkecil,”ucapnya.
Ndut sangat mengkhawatirkan dampak dari terus merangkak naiknya harga kedelai untuk bahan baku tempe terhadap para pembeli, sehingga Ndut meminta kepada pemerintah pusat maupun pihak yang berkait langsung agar bisa menanggulangi masalah harga kedelai dan keberadaan kedelai untuk para pengerajin tahu dan tempe.
“berbagai macam cara kita lakukan, entah itu dinaikan harga atau kurangi komposisi, namun ini tetap saja berdampak, nanti pembeli itu malah semakin tidak ada, karena tahu dan tempe itu bahan pokok pangan, tapi kelas menengah kebawah, banyak yang mengatakan nggak beli tahu dan tempe pasti beli yang lainnya, saya harap pemerintah pusat bisa menaggulangi harga kedelai dengan memberikan subsidi harga,”paparnya.(sur)















