“Suasana Balai Kota Cirebon mendadak menjadi ruang diskusi panas namun penuh keakraban. Puluhan mahasiswa dari Aliansi BEM Cirebon Raya datang membawa kritik tajam terhadap kinerja pemerintah kota. Namun alih-alih defensif, Wali Kota Cirebon Effendi Edo justru menyambutnya dengan santai—bahkan mengaku senang disorot.”
Cirebon Kota | Pelita News – Dialog terbuka antara Pemerintah Kota Cirebon dan Aliansi BEM Cirebon Raya berlangsung hangat di Balai Kota, Rabu (4/3/2026). Pertemuan tersebut menjadi ruang evaluasi satu tahun kepemimpinan Wali Kota Cirebon Effendi Edo bersama Wakil Wali Kota Siti Farida Rosmawati.
Didampingi Penjabat Sekretaris Daerah Sumanto dan jajaran perangkat daerah, Effendi Edo menghadapi langsung kritik dan aspirasi mahasiswa yang menyoroti berbagai persoalan pembangunan di Kota Cirebon.
Dalam forum itu, Wali Kota menegaskan pemerintah tidak anti kritik. Bahkan menurutnya, sorotan mahasiswa adalah tanda bahwa pemerintah sedang bekerja.
“Kami dari jajaran pemerintahan tidak antikritik. Saya justru senang teman-teman mahasiswa hadir dan menyoroti kinerja kami. Kalau tidak disorot, saya justru khawatir jangan-jangan saya tidak melakukan apa-apa,” ujar Effendi Edo di hadapan peserta dialog.
Presiden Mahasiswa BEM Universitas Swadaya Gunung Jati, Alief Bintang Angkasa, menyampaikan sejumlah tuntutan yang dianggap menjadi persoalan nyata di masyarakat.
Mahasiswa mendesak pemerintah kota mengambil langkah konkret untuk mewujudkan visi pembangunan SETARA (Sejahtera, Tertata, Aspiratif, Religius, dan Aman).
Beberapa isu yang disoroti antara lain: Kesejahteraan guru honorer, Pemerataan sarana dan prasarana pendidikan, Perbaikan drainase untuk mengatasi banjir, Penataan transportasi umum, Penerangan jalan umum (PJU), Transparansi data bantuan sosial, Kepastian BPJS Kesehatan bagi warga kurang mampu.
“Masalah-masalah ini langsung dirasakan masyarakat. Kami ingin ada langkah nyata dan terukur dari pemerintah kota,” kata Alief dalam pemaparannya.
Menanggapi berbagai tuntutan tersebut, Effendi Edo mengajak mahasiswa memahami proses dan dinamika birokrasi pemerintahan.
Ia juga mengaku memiliki ikatan emosional dengan Kota Cirebon karena merupakan kota kelahirannya. Karena itu, ia memiliki ambisi agar Cirebon mampu bersaing dengan kota-kota lain di Jawa Barat.
“Wong kita asli wong Cirebon. Saya ingin kota ini bisa sejajar dengan kota-kota besar lainnya di Jawa Barat,” ujarnya.
Meski begitu, ia mengingatkan bahwa visi pembangunan lima tahun tidak bisa diwujudkan secara instan dalam satu tahun masa pemerintahan.
Dalam dialog tersebut, Effendi Edo juga menyampaikan harapan agar mahasiswa yang aktif mengkritik pemerintah saat ini bisa menjadi pemimpin di masa depan.
Menurutnya, regenerasi kepemimpinan harus berjalan dengan prinsip mempertahankan program yang baik dan memperbaiki yang masih kurang.
“Dulu saya juga pernah jadi mahasiswa seperti teman-teman. Mudah-mudahan nanti ada yang dari sini jadi Wali Kota atau Bupati. Yang tidak baik kita buang, yang baik kita teruskan,” ujarnya.
Pertemuan antara pemerintah kota dan mahasiswa ini diharapkan menjadi ruang komunikasi terbuka untuk menyelaraskan kebijakan pemerintah dengan kebutuhan masyarakat.
Pemerintah Kota Cirebon berharap dialog seperti ini dapat memperkuat partisipasi publik dalam pembangunan kota.
“Tujuan kita sama, yaitu mewujudkan Kota Cirebon yang lebih sejahtera dan tertata,” kata Effendi Edo.@Bams















