
Pelita News | Kab. Cirebon — Melalui kegiatan “Menarik Gemilang”, SMA Negeri 1 Beber, Kabupaten Cirebon melakukan transformasi visual pada tampilan fisik gedung. Jika sebelumnya, sekolah tersebut identik dengan nuansa krem cokelat yang memberikan kesan klasik, kini tampilannya telah berubah menjadi perpaduan hitam dan putih yang kontras dan elegan.
Transformasi ini diharapakan tidak sekadar penyegaran estetika, tetapi juga menjadi simbol semangat baru dan profesionalisme bagi seluruh warga SMA Negeri 1 Beber dalam menjalani aktifitas belajar mengajar. Jum’at (27/2/2026).
Pantauan Pelita News, kegiatan “Menarik Gemilang” yang diikuti seluruh keluarga besar SMA Negeri 1 Beber ini merupakan implementasi dari program Pesantren Ekologi Ramadhan yang diluncurkan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat Tahun 2026 / 1447 H. “Menarik Gemilang” merupakan akronim Menarik (Mengecat Bareng & Aksi Ekologi) — Gemilang (Gerakan Memuliakan Lingkungan).
Kepala SMA Negeri 1 Beber, Ahmad Abung Suud, S.Pd., M.Pd mengatakan, Pesantren Ekologi adalah sebuah program keagamaan khusus di Bulan Suci Ramadhan yang mengintegrasikan pendidikan spiritual Islam dengan kesadaran menjaga ekosistem. Berbeda dengan pesantren kilat konvensional, kegiatan ini menitikberatkan pada pemahaman bahwa menjaga alam merupakan bagian dari manifestasi iman kepada Allah SWT.
“Pesantren Ekologi Ramadhan ini sebagai ruang belajar yang menumbuhkan keimanan sekaligus kepedulian terhadap bumi. Momentum Ramadhan ini menjadi langkah bersama untuk membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara spiritual, tetapi juga berkarakter peduli lingkungan,“ terangnya.
Menurutnya, Ibadah Ramadan tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan ritual, tetapi juga harus diimplementasikan dalam perilaku sehari-hari, khususnya dalam menjaga dan mencintai lingkungan. Untuk itu, sekolah memiliki peran sangat penting dalam membentuk karakter peserta didik agar memiliki kesadaran lingkungan sejak dini.
“Alhamdulillah hari ini seluruh warga sekolah antusias dan kompak mengikuti kegiatan mengecat gedung sekolah. Untuk perpaduan harmonis warna hitam dan putih pada tampilan gedung ini memiliki makna ketegasan dan kesucian,“ ujar Ahmad Abung.
Ahmad Abung pun menegaskan, kegiatan “Menarik Gemilang” bukan sekadar mempercantik ruang belajar, goresan monokrom di setiap dinding ini menjadi simbol kesederhanaan dan keseimbangan. Mengingatkan bahwa dalam kehidupan, perlu ketegasan prinsip dan kesucian hati.
“Program ini berpadu dengan Aksi Ekologi sebagai implementasi nyata Program Pesantren Ekologi Ramadan 1447 H di Jawa Barat. Bahwa belajar tidak hanya di dalam kelas, tetapi juga bersentuhan langsung dengan alam dan menjaga lingkungan adalah bagian dari menjaga iman,“ imbuhnya.
Berdasarkan pemantauan Pelita News, berbagai kegiatan Pesantren Ekologi Ramadhan 2026 dilaksanakan di SMA Negeri 1 Beber. Salah satunya adalah Kajian Kitab Kuning sebagai momentum memperdalam makna antara ilmu dan tanggung jawab. Siswa — siswi belajar bahwa menjaga lingkungan bukan hanya kewajiban sosial, tetapi juga bagian dari nilai-nilai keimanan.
Setiap pembahasan membuka pemahaman bahwa manusia diciptakan sebagai penjaga bumi. Alam bukan untuk dieksploitasi, melainkan dirawat, dijaga, dan dilestarikan keseimbangannya.
Pesantren Ekologi mengajarkan siswa bahwa kepedulian terhadap lingkungan dimulai dari kesadaran diri. Dari ilmu yang dipelajari, tumbuh komitmen untuk lebih bijak dalam bertindak, lebih peduli terhadap sekitar, dan lebih bertanggung jawab terhadap amanah yang diberikan.
Melalui kajian kitab kuning ini, siswa — siswi kembali diingatkan bahwa menjaga bumi adalah bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual. Ilmu yang dipelajari hari ini menegaskan bahwa keseimbangan alam sejalan dengan keseimbangan sikap dan akhlak. Ketika manusia mampu menjaga dirinya, maka ia pun akan mampu menjaga lingkungannya.
Pesantren Ekologi bukan hanya tentang memahami teori, tetapi tentang membentuk kesadaran dan karakter. Dari sini siwa — siswi belajar bahwa perubahan besar dimulai dari langkah kecil yang konsisten. Di sini, siswa — siswi tidak hanya mendalami khazanah kitab kuning untuk memahami syariat, tetapi juga merefleksikan bagaimana ajaran Islam sangat menjunjung tinggi nilai-nilai pelestarian lingkungan (ekologi).
Belajar kitab kuning mengajarkan siswa — siswi tentang adab dan tanggung jawab manusia sebagai khalifah fil ardh (pemimpin di muka bumi). Menjaga alam bukan sekadar tren, tapi bagian dari menjalankan amanah agama. Setiap ayat, setiap penjelasan, menjadi pengingat bahwa kepedulian terhadap lingkungan adalah bagian dari akhlak dan tanggung jawab bersama. @Ries















