Pelita News | Cirebon Timur – 10 Muharram Anak Yatim adalah momen istimewa dalam kalender Islam yang sering disebut sebagai Hari Raya Anak Yatim atau Idul Yatama. Tanggal ini, yang jatuh pada 10 Muharram, menjadi waktu yang penuh makna bagi umat Islam untuk menunjukkan kasih sayang dan kepedulian kepada anak-anak yatim.
Dalam mengisi momentum 10 Muharram ini, Pemerintah Desa Kaligawe Wetan bersama Fatayat NU dan warga masyarakat kompak menyelenggarakan kegiatan “Santunan Anak Yatim Piatu” dengan menyalurkan bingkisan dan uang untuk anak-anak yatim dan piatu bertempat di Masjid Baitul Muttaqin, Ahad (6/7/2025) atau 10 Muharram 1447 H.
Kuwu Desa Kaligawe Wetan, Lilis Krisnawati mengatakan, tradisi 10 Muharram ini memiliki makna yang mendalam dan telah mengakar kuat khususnya di kalangan masyarakat Muslim, sebagai wujud nyata dari ajaran Rasulullah SAW untuk memuliakan anak yatim. Hari Asyura, yang jatuh pada tanggal 10 Muharram, dikenal sebagai hari penuh keberkahan. Dalam konteks anak yatim, hari ini menjadi momen untuk mengenang ajaran Rasulullah SAW yang sangat menekankan pentingnya menyantuni anak yatim.
“Dalam hadits riwayat Bukhari, Rasulullah SAW bersabda, “Saya dan orang yang mengurus anak yatim di surga seperti ini,” sambil menunjukkan dua jari yang dirapatkan. Hadits ini menegaskan bahwa 10 Muharram Anak Yatim adalah waktu untuk memperbanyak kebaikan kepada mereka yang kehilangan ayahnya,“ terangnya.
Secara etimologi, Lilis kembali menjelaskan, kata “yatim” dalam bahasa Arab berarti seseorang yang kehilangan ayah sebelum mencapai usia baligh. Pada 10 Muharram Anak Yatim, umat Islam dianjurkan untuk memberikan perhatian khusus kepada anak-anak ini, baik melalui santunan, kasih sayang, maupun doa.
“Tradisi ini tidak hanya mencerminkan nilai kemanusiaan, tetapi juga menjadi sarana untuk mendapatkan keberkahan dan pahala dari Allah SWT. Jadi bagi yang menyantuni anak yatim pada hari ini dianggap sebagai salah satu amalan mulia yang mendatangkan keutamaan besar,“ tuturnya.
Lilis pun mengungkapkan keutamaan 10 Muharram Anak Yatim yang juga terkait dengan nilai-nilai syukur. Hari Asyura mengingatkan umat Islam pada peristiwa bersejarah, seperti keselamatan Nabi Musa AS dari kejaran Fir’aun. Dalam konteks ini, menyantuni anak yatim menjadi wujud syukur atas nikmat Allah SWT.
“Memberikan santunan pada 10 Muharram Anak Yatim bukan hanya membantu secara materi, tetapi juga memberikan kehangatan emosional kepada anak-anak yang kehilangan figur ayah dalam hidup mereka,“ jelasnya.
Selain itu, 10 Muharram Anak Yatim juga menjadi pengingat akan tanggung jawab sosial umat Islam. Anak yatim sering kali berada dalam kondisi rentan, baik secara ekonomi maupun emosional. Dengan memberikan perhatian pada hari ini, umat Islam dapat memperkuat solidaritas sosial dan menciptakan masyarakat yang penuh kasih sayang.
“Tradisi ini juga mengajarkan pentingnya berbagi kebahagiaan dengan mereka yang membutuhkan. Di Indonesia, tradisi 10 Muharram Anak Yatim telah menjadi bagian dari budaya masyarakat Muslim. Banyak komunitas, masjid, dan yayasan yang mengadakan acara santunan anak yatim pada hari ini,“ imbuh Lilis.
Diketahui bersama, 10 Muharram Anak Yatim juga dikenal sebagai Idul Yatama atau Lebaran Anak Yatim di beberapa daerah di Indonesia. Istilah ini mencerminkan semangat kegembiraan yang ingin dibagikan kepada anak yatim.
Menurut KH Sholeh Darat dalam kitab Lathaifut Thaharah wa Asrarus Shalah, 10 Muharram Anak Yatim adalah hari untuk bergembira dengan sedekah, bukan hanya untuk anak yatim, tetapi juga untuk fakir miskin dan keluarga. Tradisi ini menunjukkan bahwa Muharram adalah bulan penuh keberkahan.
Peristiwa lain yang dikaitkan dengan 10 Muharram Anak Yatim adalah penerimaan taubat Nabi Adam AS, keselamatan Nabi Nuh AS, dan kembalinya kerajaan Nabi Sulaiman AS. Peristiwa-peristiwa ini memperkuat makna Hari Asyura sebagai waktu untuk bersyukur dan berbuat baik. Dalam konteks ini, menyantuni anak yatim menjadi salah satu cara untuk meneladani akhlak mulia para nabi.
Secara historis, 10 Muharram Anak Yatim juga menjadi momen untuk mempererat hubungan sosial. Rasulullah SAW sangat mencintai anak yatim dan sering menjamu mereka pada Hari Asyura. Tradisi ini diteruskan oleh para ulama dan masyarakat Muslim hingga saat ini, menjadikan 10 Muharram Anak Yatim sebagai simbol kepedulian dan kasih sayang. @Ries















