
Cirebon PN
Desa Gegesik Kulon, Kecamatan Gegesik, Kabupaten Cirebon, Baru baru ini sering di jadikan studi banding dari berbagai wilayah, bahkan bukan dari Provinsi Jawa Barat saja, seperti Hari ini jum’at 5 Agustus Tahun 2022, dijadikan studi banding dari Provinsi Jakarta yaitu Jakarta selatan dan Jakarta Barat,
Bahkan Di alun alun Desa Gegesik maupun di sekitar kantor Kuwu nya pun penuh dengan berbagai aneka makanan khas Desa Gegesik Kulon, termasuk seni tari Topeng, Dan Gamelan Musik Cirebonan,
Ya, desa wisata di Desa Gegesik Kulon ini adalah memiliki peringkat 50 besar se Indonesia, dan bisa berhasil menembus desa wisata terbaik menurut Dr.Rosmawati Hilderiah Panjaitan S Sos M T C P R C I C S,
Yang biasa dipanggil Bunda Rosya, Dosen Universitas Mercu Buana, sebuah Universitas swasta dengan Akreditasi, A di Jakarta, Indonesia, Didirikan pada tanggal 22 Oktober 1985, kampus utama yang juga dinamakan Kampus Meruya terletak di daerah Meruya, Jakarta Barat,
Jalan Raya, RT 4, RW 1, Meruya Selatan,Kecamatan Kembangan, Jakarta, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11650
Menurut Bunda Rosya, memang secara konsisten menerapkan desa wisata yang berkelanjutan,” katanya
Masih menurut Bunda Rosya, keberadaan Desa Gegesik kulon ini, ia juga sering di kunjungi, oleh Menkarekraf, Sandiaga Solehudin Uno Dan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo Termasuk kami juga mengunjungi Desa tersebut karena menjadi urutan ke 50 se Indonesia, juga banyak menjadi lokasi studi banding dari desa wisata lainnya.
“Sekarang karena Desa Gegesik Kulon ini menjadi urutan ke 50 besar dan menjadi tempat studi banding atau studi tiru. Sehingga banyak dari desa wisata di seluruh Indonesia akan datang ke Desa Gegesik Kulon, karena Mereka selalu konsisten, dan sekarang mendapatkan limpahan kunjungan dan tingkat keterisian sangat tinggi di atas 70-80 persen,” tegas Bunda Rosya,
“Ini merupakan fenomena kebangkitan masyarakat, khususnya Gegesik Kulon dalam menopang Pariwisata dan Ekonomi Kreatifnya sehingga ke depan bisa membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, masuknya Desa Gegesik Kulon adalah even yang Di Anugerah Desa Wisata Indonesia atau disingkat Adwi, ini karena desa tersebut bisa mempertahankan potensi pariwisata dan kebudayaan melalui kearifan lokal masyarakatnya.
Menurutnya Adwi pada tahun 2021 lalu merupakan ajang pemberian penghargaan kepada desa-desa wisata yang memiliki prestasi dengan kriteria-kriteria penilaian dari Universitas Mercu Buana Jakarta Barat,
Bahkan, event ini bertujuan menjadikan desa wisata Indonesia sebagai destinasi pariwisata berkelas dunia dan berdaya saing tinggi.
“Memang di sini tidak mempunyai potensi alam yang indah, akan tetapi bentuk kearifan lokal yang terjaga dengan baik, sehingga Desa Gegesik Kulon menjadi salah satu desa budaya seni yang patut dipersandingkan ditingkat nasional,” dan saya juga banyak terimakasih kepada Kuwu Desa Gegesik Kulon, juga patut mengacungi jempol, dan juga warga desa nya yang sudah menyambut saya dengan meriah, karena dari mulai penyambutannya, yang ramah dan sopan,
termasuk penyambutan saya ketika memasuki Desa Gegesik Kulon ini disambut oleh tarian seni topeng, itulah yang membuat saya haru kepada Desa Gegesik Kulon ini, jadi pantas di Gegesik Kulon ini mendapat predikat desa wisata,”Tutup Rosmawati Hilderiah Panjaitan, jum’at 5 Agustus 2022
Disisi lain PN mewawancarai Gatot Sutrisno, selaku Kuwu Desa Gegesik Kulon, Kecamatan Gegesik, Kabupaten Cirebon, menurutnya, Alhamdulilah Desa Gegesik Kulon ini di anugerahi desa wisata ke 50 besar dari seribu delapan ratus tiga puluh satu desa di seluruh Indonesia, saya juga banyak terimakasih kepada Universitas Mercu Buana yang sudah singgah ke Desa Gegesik Kulon ini, memang Desa Gegesik Kulon ini tidak memiliki alam yang indah, akan tetapi ke arifan lokal wilayah Gegesik Kulon ini yang bisa menjadi ke 50 besar se Indonesia, karena dari mulai seni tari topeng, dan seni lukis, dan kuliner khas Gegesik Kulon ini masih kental dan juga masih dilestarikan,
Tutup Gatot Sutrisno, selaku Kuwu Desa Gegesik kulon, jum’at 5 Agustus
Sambil memberikan cindera mata ke Suku Dinas Pariwisata Jakarta Barat, yaitu seni lukis wayang kulit, dalam tokoh pewayangan nya,”Betara Guru atau Sanghyang Manik Maya, sebagai raja manik loka, di kahyangan.(Sukadi)















