
Pelita News | Cirebon Timur – Tingginya intensitas curah hujan di wilayah hulu Kabupaten Kuningan sejak Sabtu siang 17 Mei 2025 hingga malam hari, menyebabkan sebagian besar wilayah di Cirebon Timur kembali dikepung banjir sejak. Pantauan Pelita News pada Minggu pagi 18 Mei 2025, nampak sejumlah desa yang tersebar di beberapa kecamatan di Cirebon Timur terdampak dan terendam banjir.
Untuk di Kecamatan Waled, terdapat 4 desa yang saat ini masih terendam banjir, diantaranya Desa Ciuyah, Ambit, Mekarsari dan Gunungsari. Banjir yang merendam pemukiman warga ini mencapai ketinggian 85 centimeter akibat luapan Sungai Ciberes dan beberapa saluran irigasi.
Sementara di Kecamatan Pangenan, terpantau sejumlah pemukiman di wilayah Desa Astanamukti turut tergenang banjir. Berikutnya, banjir juga menggenangi pemukiman di Desa Babakanlosarilor Kecamatan Pabedilan.
Tentu saja bencana yang terus berulang-ulang dan menjadi langganan banjir setiap kali musim hujan menjadi sorotan masyarakat. Salah satunya seperti yang di ungkapkan salah seorang warga Kecamatan Waled, R Hamzaiya S.Hum. Menurutnya, selama bertahun-tahun wilayah Waled selalu terendam banjir tanpa adanya solusi struktural yang tuntas dari pihak berwenang.
“Banjir ini bukan bencana baru, setiap tahun kami menghadapi persoalan yang sama. Rumah-rumah warga terendam, sekolah diliburkan, sawah gagal panen, serta fasilitas Ibadah dan fasilitas umum mengalami kerusakan. Tapi tidak ada langkah serius dari Bupati Cirebon apalagi Gubernur Jawa Barat untuk mengakhiri penderitaan ini,“ ungkapnya.
Menurutnya, bencana banjir yang terjadi di Kabupaten Cirebon khususnya di wilayah timur bukan semata karena curah hujan tinggi. Tetapi, lebih pada akibat dari buruknya tata kelola lingkungan, pendangkalan sungai, hingga pembangunan yang tidak tertata dengan baik.
“Sampai kapan kami harus menunggu keadilan?,“ ujar Hamzaiya dengan nada prihatin.
Ia pun menambahkan bahwa pemerintah seharusnya melakukan pendekatan komprehensif yang melibatkan normalisasi sungai, perbaikan tanggul, pembangunan sistem drainase terpadu, serta edukasi dan pelibatan masyarakat dalam menjaga lingkungan.
“Ini soal kebijakan dan keberpihakan. Kalau pemerintah benar-benar peduli, semestinya sudah ada perencanaan matang untuk jangka pendek, menengah, dan panjang. Bukan sekadar datang saat banjir, bawa bantuan mie instan dan berfoto di lokasi bencana. Kami ingin solusi, bukan sandiwara,“ imbuhnya.
Di akuinya, iya dan warga masyarakat pada umumnya berkali-kali menyuarakan kebutuhan perbaikan infrastruktur, pengendalian banjir, serta pemerataan pembangunan, namun hasilnya nihil.
“Pembangunan selalu berat sebelah. Kita di timur seperti di anak tirikan. Padahal kami juga bagian dari Kabupaten Cirebon dan Jawa Barat,“ tuturnya.
Hamzaiya mengingatkan, bahwa jika situasi ini terus dibiarkan, maka kerugian ekonomi dan sosial yang ditanggung masyarakat akan semakin besar dan meninggalkan trauma berkepanjangan, terutama bagi anak-anak dan kelompok rentan.
“Saya kira ini saatnya pemerintah membuktikan bahwa mereka benar-benar hadir untuk rakyat. Jangan tunggu korban jiwa dulu baru bertindak. Banjir di Cirebon Timur adalah alarm keras yang tak boleh lagi diabaikan,“ tegasnya. @Ries















