Pelita News | Cirebon Timur – Harapan masyarakat Kecamatan Pabuaran, Babakan dan Gebang, Kabupaten Cirebon, untuk menikmati akses jalan yang layak di bulan Juli kembali pupus. Janji pembangunan jalan yang seharusnya dimulai bulan ini ternyata hanya tinggal ucapan janji tanpa aksi. Tak ada tanda-tanda pengerjaan dimulai, bahkan papan proyek pun belum terlihat di lokasi.
Kekecewaan pun semakin memuncak. Warga merasa terus dipermainkan oleh Pemerintah Kabupaten Cirebon yang dinilai hanya memberikan janji manis dari tahun ke tahun, tanpa realisasi yang nyata.
Tokoh masyarakat Cirebon Timur, R. Hamzaiya S. Hum, angkat bicara keras. Dalam pernyataannya, ia menilai bahwa Pemerintah Kabupaten Cirebon telah gagal memahami urgensi dan kebutuhan mendasar rakyatnya.
“Pemkab Cirebon selalu memberikan harapan kosong kepada masyarakat Cirebon. Ketika ditanya, mereka berkelit dengan dalih teknis seperti proses lelang dan regulasi. Tapi sudah bertahun-tahun, apa yang terjadi? Jalan tetap hancur, janji tinggal angan,“ ujar Hamzaiya geram.
Menurutnya, perbaikan jalan bukanlah sebuah proyek yang bisa ditunda-tunda, melainkan kebutuhan dasar yang sangat mendesak. Jalan rusak bukan hanya memperlambat aktivitas ekonomi masyarakat, tapi juga membahayakan keselamatan pengguna jalan setiap hari.
“Ini bukan sekadar proyek, ini soal keselamatan dan hak dasar warga. Jangan terus menjadikan prosedur sebagai tameng untuk menunda kewajiban. Kalau memang tidak mampu, katakan saja!“ tegasnya.
Kebingungan masyarakat pun makin dalam. Saat aspirasi disampaikan ke Gubernur Jawa Barat, jawabannya justru menyudutkan: “Itu jalan kabupaten, bukan urusan saya.” Di saat yang sama, anggota DPRD Provinsi pun melepas tangan, seperti yang disampaikan oleh salah satu anggotanya, Pak Ono, bahwa itu bukan kewenangan mereka. Dan ketika kembali diarahkan ke Bupati Cirebon, warga hanya menemukan keheningan dan janji-janji yang terus menguap.
“Kami sudah tidak tahu lagi harus meminta ke siapa. Gubernur lepas tangan, DPRD menghindar, bupati selalu menghilang. Rakyat terus menjadi korban, jalan rusak menjadi kuburan harapan kami,“ pungkas Hamzaiya.
Warga kini hanya bisa berharap ada tekanan lebih luas dari masyarakat sipil dan media untuk menuntut tanggung jawab nyata dari Pemerintah Kabupaten Cirebon. Jalan rusak bukan hanya kerikil di aspal, tapi simbol dari retaknya komitmen negara terhadap rakyatnya. @Ries















