
Pelita News I Indramayu – Sampah, menjadi persoalan serius untuk ditangani. Penanganan sampah tidak melulu menjadi tanggug jawab pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama. Kalau pengangan sampah abai, maka ceceran sampah akan meluas dan akan merusak lingkungan dan imbasnya mengancam ekosistem dengan merusak habitat, membahayakan satwa liar karena terjerat dan termakan, serta mencemari tanah, air, dan rantai makanan bahkan mengancam kesehatan manusia.
Berangkat dari kepedulian akan lingkungan, Matori, warga Desa/Kecamatan Balongan, Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat mengedukasi dan mengajak warga sekitar untuk bersih-besih lingkungan dan dirinya siap menampung berbagai jenis sampah yang dikumpulkan warga. Dari kepedulian itu, dengan cara jual beli, Matori menjadi pengepul sampah. Dan, dengan belasan warga lainnya, pada 2016, dia membentuk bank sampah dan terus berkembang. Kepedulian Matori, menciptakan peluang kerja bagi masyarakat.
Kepeduliannya akan lingkungan, akhirnya menarik perhatian PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Unit VI Balongan. Melalui program CSR-nya, pada 2021/2022, Pertamina turut membina kelompok Matori dan pada 2023, diberi nama Bank Sampah Wiralodra. Dalam pengelolaan sampah, mereka, selain diberi pendidikan oleh Pertamina juga bantuan peralatan, studi banding melihat persampahan plastik di daerah lain.
Sejak saat itu, kelompok Matori mulai mengumpulkan sampah khusus plastik dari masyarakat, bahkan sampah dari Pertamina. Plastik-plastik itu kemudian dipisah-pisahkan dari jenis dan warnanya, dibersihkan, dikeringkan dengan cara di jemur, setelah kering baru di cacah dan di cetak menjadi lempengan atau plat plastik. Lempengan plastik itu, selanjutnya didaur ulang menjadi benda yang memiliki nilai ekonomis, seperti plakat untuk even tertentu, souvenir gantungan kunci, kenang-kenangan dari Pertamina dan lainnya.
Sebelum lempengan dicetak, cacahan plastic dilebur/dibakar dengan alat khusus menggunakan bahan bakar minyak jelantah. Setelah mencair baru dipindahkan ke alat pencetak dan di pres hingga menjadi lempengan dan siap dibentuk sesuai kebutuhan.
“Produk masih terbatas pada barang-barang kecil, seperti gantungan kunci, souvenir, plakat dan sebagainya, itu akan kita kembangkan karena pencetakannya memerlukan modal yang cukup besar, ini perlu support dari banyak pihak. Pertamina juga insyallah masih akan support tetapi seandainya bisa dikembangkan lebih luas ke masyarakat dan masyarakat bisa mandiri akan menjadi potensi ekonomi yang besar,” kata Ketua Bank Sampah Wiralodra, Desa/Kecamatan Balongan, Matori, beberapa waktu lalu.
Awalnya, jenis produk yang dibuat sesuai pesanan, seperti plakat. Seiring berjalannya waktu ada pengembangan untuk souvenir seperti gantungan kunci, tempat tisu, manik-manik untuk tasbih, bahkan furniture.
Ia mengaku pemasaran belum maksimal, sementara baru memenuhi kebutuhan Pertamina dan dinas/instansi di Indramayu.
Sementara untuk harga jual bervariasi tergantung ukuran. Gantungan kunci dijual 25 ribu, plakat 250 ribu – 1 juta, hiasan 1,5 – 2 juta, meja kursi, 3 juta, tong sampah 1,5 juta. Sala satu meja kursi hasil produknya dibeli oleh Kedai Kopi Teman Istimewa dengan harga Rp3 juta.
“Dulu pernah dijembatani Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk pesanan plakat dari China,” sebutnya.
Bank Sampah Wiralodra, selain menampung sampah plastik juga mengembangkan peternakan ayam petelur. Dari telur-telur yang dihasilkan itu, mereka menawarkan barter telur ayam ke masyarakat dengan minyak jelantah, selain telur juga bisa ditukar dengan souvenir.
“Kami butuh minyak jelantah untuk bahan bakar peleburan plastik,” tambahnya.
Area Manager Communication, Relation & CSR PT KPI RU VI Balongan, Mohamad Zulkifli, mengatakan, Bank Sampah Wiralodrai, akan terus dikembangkan dengan selektif agar bisa memotivasi masyarakat sehingga program penanganan sampah plastik makin meluas. Hal itu, kata dia, sejalan dengan program pemerintah dalam penanganan sampah khususnya plastik.
Dengan edukasi secara terus menerus, dari rumah tangga sudah bisa disadarkan, rumah tangga sudah bisa membagi jenis sampah. Artinya, saat keluar dari rumah, masyarakat sudah membagi jenis sampahnya, mana yang organic, anorganik dan sampah B3.
Ia sangat mendukung aksi nyata Bank Sampah Wiralodra dalam menangani masalah persampahan. Karena menurutnya, masalah sampah menjadi tanggung jawab bersama.
“Dengan adanya program Wiralodra diharapkan edukasi ke semua warga terus menyebar ke perusahaan-perusahaan dan masyarakat lainnya di luar wilayah Balongan. Dengan aksi nyata secara keseluruhan, Kabupaten Indramayu akan bisa mengelola sampah dengan baik,” pesan Zulkifli. @safaro















