Pelita News, Indramayu – Tidak terasa, tujuh tahun sudah, Kelompok Tani (Poktan) Wong Tanggul Ceblok (WTC), Kelurahan Karanganyar, Kecamatan/Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat (Jabar) mengelola lahan PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Unit VI Balongan di komplek Perumahan Bumi Patra Kecamatan Indramayu. Sejak tahun 2018, WTC menyulap lahan seluas 4,5 hektare menjadi kebon mangga, dan mangga yang ditanam jenis varietas baru yakni mangga Agrimania.
Varietas unggul dengan bobot buah antara 0,5 kilogram hingga 1,8 kilogram, dan dengan kisaran harga Rp50 ribu per kilogram ini, awalnya dikembangkan oleh petani Kecamatan Lelea, Indramayu pada 2011.
Karena melihat bentuknya yang unik, bulat seperti buah apel namun ukurannya cukup besar, ditambah rasanya manis dan bijinya tipis dan harga jualnya cukup menjanjikan, akhirnya banyak pihak yang tertarik untuk mengembangkannya. Peluang cuan dari keberhasilan perkebunan itu, menarik minat Poktan WTC untuk membudidayakannya. Gayung pun bersambut, penemu varietas unggul ini tak pelit untuk berbagi ilmu. Beragam pelatihan diberikan sala satunya kepada kelompok petani Wong Tanggul Ceblok (WTC) Kelurahan Karanganyar Kecamatan/Kabupaten Indramayu.
Disuport Corporate Social Responsibility (CSR) atau tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) Unit VI Balongan, si Bongsor sebutan lain mangga Agrimania kemudian dibudidayakan Poktan WTC di komplek perumahan Bumi Patra. Saat itu, Poktan WTC menanam mangga Arimania sebanyak 600 bibit dan dalam perjalannya tumbuh subur.
Selang tiga tahun, tepatnya, tahun 2021 si Bongsor panen, dan saat panen perdana itu si Bongsor menghasilkan 2 ton buah mangga. Hebatnya, peluang cuan itu, tidak saja dari hasil penjualan mangga Agrimania juga dari hasil alam lainnya. Pasalnya, lahan seluas 4,5 hektare itu dijadikan lahan tumpangsari, selain ditanami mangga Agrimania juga ditanami padi dan palawija.
“Penanaman di komplek Perumahan Bumi Patra dilakukan pada 2018 sebanyak 600 pohon. Dengan bekal adanya pelatihan dan bimbingan dari para pihak termasuk dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Indramayu dan support pendanaan dari CSR atau TJSL Unit VI Balongan, pada 2021 ratusan pohon mangga itu berbuah dan panen perdana,” kata Area Manager Communication, Relation & CSR RU VI Balongan, Mohamad Zulkifli, belum lama ini.
Menurutnya, selain mengembangkan penanaman juga ada pembibitan. Tujuan dari pengembangan Agrimania itu selain membantu meningkatkan perekonomian petani juga program pengurangan emisi karbon.
Dengan adanya pemanfaatan lahan itu, kata Zulkifli, tentunya sangat membantu para petani penggarap yang tergabung dalam WTC dalam meningkatkan taraf ekonominya. Mereka, selain menikmati hasil dari panen buah juga adanya penghasilan tambahan dari panen padi dan palawija.
Melihat potensinya, sambungnya, mangga Agrimania terus dikembangkan. Pengembangan tersebut tidak saja di lahan kosong milik Pertamina namun juga di tempat lain, yakni Desa Rawadalem, Kecamatan Balongan, Indramayu. Bahkan lahan di desa yang menjadi ring satu Pertamina itu lebih luas.
Menjadi satu-satunya di Indramayu, si Bongsor ikut dipamerkan diberbagai even lokal maupun nasional diantaranya pameran lokal Indramayu, Bandung, Bogor, beberapa kegiatan Pertamina di Jakarta.
Ketua Kelompok Tani (Poktan) Wong Tanggul Ceblok (WTC), Mista, mengaku suka cita karena upaya kelompoknya dalam menjaga, merawat dan memelihara ratusan pohon mangga Agrimania di lahan komplek Perumahan Bumi Patra itu telah menghasilkan cuan untuk kelompoknya.
Ia mengucapkan terima kasih kepada Unit VI Balongan, karena menurutnya, perusahaan, tidak saja menyediakan lahan namun juga bimbingan, pelatihan bahkan pembibitan kepada petani agar budidaya mangga Agrimania bisa sukses dan menghasilkan cuan untuk poktan.
Mista membenarkan bobot buah mangga itu cukup besar berkisar antara 0,5 hingga 1,8 kilogram, dengan kisaran harga jual Rp50 ribu per kilogram.
Ia menjelaskan, si Bongsor awal mulanya dibudidaya dan dikembangkan oleh petani dari Kecamatan Lelea, di kawasan Situ Bolang Kecamatan Cikedung dan kemudian dikembangkan secara luas termasuk Poktan WTC.
“Kami mengelola lahan milik Petamina dengan cara tumpangsari. Pemanfaatan lahan itu tidak bayar sewa, alias gratis. Jumlah anggota Poktan WTC sebanyak 12 – 15 anggota. Semuanya warga Blok Ceblok,” kata dia
Selama tujuh tahun mengelola lahan itu, kata dia, pihaknya sudah berkali-kali panen mangga. Panen perdana pada kisaran 2021 menghasilkan 2 ton buah mangga dan terus berkembang, saat ini bisa panen hingga 8 ton.
Menurutnya, meski lahan itu milik Pertamina, namun saat panen semuanya untuk petani dan perusahaan tidak kebagian, jika perusahaan membutuhkan buah mangga mereka harus membeli.
Karena harga jual buahnya cukup mahal maka tidak semua orang bisa membelinya. Untuk pemasarannya dilakukan secara online, dibeli perusahaan atau diikutsertakan dalam pameran baik lokal maupun nasional yang diikuti Unit VI Balongan.
Menurutnya, seiring keberhasilan pihaknya mengelola mangga Agrimania, pihaknya termotivasi untuk mengembangkan jenis varietas lainnya, yakni mangga Miyajaki. Varietas dari Jepang ini harganya cukup menggiurkan karena berdasarkan informasi yang diterima bisa mencapai Rp1 juta per kilogramnya.
“Pada Tahun 2024 kami mencoba mengembangkan mangga Miyajaki, saat itu, kami menaman 30 pohon. Pohon tersebut, pada tahun ke-4 diprkirakan sudah bisa panen. Dengan harga jual buah mangga Miyajaki hingga mencapai Rp1juta semoga pundi-pundi cuan untuk Poktan WTC terus mengalir dan kesejahteraan semakin meningkat,” pungkasnya. @safaro















