Pelita News | Kabupaten Cirebon — Usai mendapat sorotan dan kritikan dari Pengamat Kebijakan Publik, R. Hamzaiya, S.Hum, kinerja dan tata kelola Terminal Ciledug, Kabupaten Cirebon pada UPTD PPP LLAJ Wilayah IV Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Barat turut mendapat perhatian dari anggota Komisi IV DPRD Provinsi Jawa Barat, Drs. H. Daddy Rohanady.
Menurutnya, adanya sorotan publik ini menjadi PR serius pengelola Terminal Ciledug. Untuk kondisi terminal yang dinilai sepi aktivitas, ia menyarankan semestinya kendaraan elf maupun angkot dapat menjadi pengumpan. Sehingga kendaraan Bus dapat langsung masuk akses Tol Ciledug, dengan demikian akan ada ekosistem perhubungan yang lebih sehat.
“Kendaraan umum seperti elf dan angkot ini yang harusnya mengantarkan penumpang ke terminal. Seperti dari wilayah Sindanglaut, Karangsembung, Babakan, Pasaleman, Losari dan sekitarnya. Nah, kendaraan Bus nya langsung masuk Tol Ciledug, agar terminal jadi hidup,“ ujar Daddy.
Daddy pun mengingat kembali konsep awal UMKM yang akan diberdayakan di terminal, sehingga dulu ada rencana menyediakan kios-kios untuk UMKM di dalam terminal. Tentunya ini juga PR untuk pihak pengelola, fasilitas yang dibiayai negara ini semestinya dapat dimanfaatkan secara optimal.
“Karena ini Dapil saya, maka saya sangat bersyukur dan senang sekali jika terwujudnya pemberdayaan UMKM. Jadi apa yang ditulis oleh media Harian Pelita News dengan narasumber R. Hamzaiya itu memang benar semestinya ideal dimanfaatkan. Dalam artian negara sudah memberikan dan mari kita manfaatkan,“ imbuhnya.
Ia berharap Terminal Ciledug dapat menciptakan ekosistem yang berkaitan dengan terminal. Seperti UMKM, elf dan angkot untuk masuk ke dalam terminal, tinggal diatur dan dilakukan penertiban sedemikian rupa. Sehingga Terminal Ciledug betul – betul bermanfaat untuk masyarakat Cirebon Timur.
“Saya sepakat dengan Kang Hamzah, bahwa semestinya keberadaan terminal dapat di optimalkan pemanfaatannya sehingga berdaya guna dan berhasil guna untuk semua,“ jelas Daddy dalam sambungan teleponnya, Sabtu (31/1/2026).
Terkait kondisi jalan hotmix di depan area terminal menjadi bagian dari PR juga. Daddy berjanji akan meminta Dinas Bina Marga untuk segera melakukan perbaikan, dan semestinya kerusakan jalan ini sudah dapat diselesaikan sejak awal.
“Melihat persoalan yang ada, yang paling utama adalah lebih kepada kekurangan optimalisasi pemanfaatan UMKM. Mau tukang kopi ataupun tukang Indomie terserah, yang penting pemberdayaan lebih kepada UMKM. Jangan sampai yang terjadi disitu ada usaha usaha – usaha besar, kan disitu sebetulnya bukan untuk itu. Idealisnya juga jalan diberesin,“ ungkapnya.
Sebelumnya diberitakan, Pengamat kebijakan publik R. Hamzaiya S.Hum mempertanyakan kinerja dan tanggung jawab pihak pengelola terminal, menyusul kondisi fasilitas publik tersebut yang hingga kini dinilai kumuh, kurang terawat, dan sepi aktivitas, meskipun didukung anggaran pemeliharaan dan konstruksi bernilai puluhan miliar rupiah.
Berdasarkan data pengadaan yang tercantum dalam sistem Data LPSE, tercatat proyek pekerjaan konstruksi yang bersumber dari APBD Tahun 2022 dengan pagu anggaran sebesar Rp56.000.000.000 dan HPS Rp54.567.167.200. Proyek tersebut berlokasi di Jl. Merdeka Utara, Ciledug Kulon, Kecamatan Ciledug, Kabupaten Cirebon, dan dinyatakan telah selesai setelah melalui proses tender pada periode 17 Januari 2022 hingga 3 Maret 2022.
Namun fakta di lapangan menunjukkan kondisi yang jauh dari harapan. Terminal Ciledug saat ini tidak mencerminkan fasilitas transportasi publik yang layak. Kebersihan yang kurang terjaga, minimnya perawatan, serta rendahnya aktivitas angkutan dan penumpang memperkuat kesan bahwa terminal tersebut tidak dikelola secara optimal. @Ries















