Pelita News | Cirebon Timur – Lagi terjadi, kali ini program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Kecamatan Susukanlebak, Kabupaten Cirebon mendapat keluhan dan protes karena di anggap tidak layak dan tidak sesuai. Atas hal tersebut, publik meminta dilakukannya evaluasi agar tidak menimbulkan insiden yang belakangan marak terjadi ataupun dijadikan ladang keuntungan pribadi dan kelompok pengelola.
Diketahui bersama, pemerintah telah meluncurkan program MBG dengan tujuan meningkatkan gizi masyarakat dan mengurangi angka kemiskinan dengan menargetkan 82,9 juta penerima manfaat dengan alokasi anggaran sebesar Rp171 triliun. Fokus utama program ini adalah peningkatan gizi siswa – siswi PAUD hingga SMA/SMK serta ibu hamil dan menyusui sekaligus berkontribusi pada pengurangan angka kemiskinan hingga 2,6 persen.
Meski dirancang dengan klaim untuk meningkatkan gizi masyarakat, penerapan MBG menuai banyak kritik dan krisis kepercayaan, terutama karena menyebabkan keracunan massal. Lebih dari 5.000 kasus keracunan MBG terjadi di seluruh Indonesia (per September 2025), dengan kasus serentak terbanyak terjadi pada 1.333 pelajar di Bandung Barat.
Presidium OBOR Cirtim, Qorib Magelung Sakti turut mengkritik tajam tidak profesionalnya pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Kecamatan Susukanlebak yang dianggap tidak layak dan tidak sesuai. Ia menekankan pentingnya transparansi dan keterlibatan partisipasi publik dalam perencanaan. Dengan kejadian ini menunjukkan potensi lemahnya kompetensi pelaksana, diskriminasi, ketidak kompetenan dan penyimpangan prosedur dalam program ini.
“Kami mendesak program MBG di Kecamatan Susukanlebak perlu dievaluasi total. Ini pelanggaran hak penerima manfaat program dan bukan sekadar memperbaiki kekurangan kecil,“ tegasnya.
Ia menyoroti variasi menu yang tidak sesuai kebutuhan gizi dan selera anak, serta porsi makanan yang disajikan dinilai kecil dan tidak memenuhi standar gizi seimbang. Bahkan ia menuding peran Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan yang dinilai tidak hadir secara tegas dalam memastikan standar dan keamanan pangan bagi anak-anak sekolah.
“Kami sudah mendengar informasi kekurangan porsi menu ayam pada 300 paket di Hari Senin kemarin akan diganti dengan susu pada Hari Rabu ini, namun hal ini tidak menghilangkan bentuk kelalaian dan ketidak profesionalan dari pihak pengelola,“ tambah Qorib. @Ries















