Pelita News I Indramayu – Yayasan Selendang Puan Dharma Ayu dan Yayasan SAPA Bandung kembali mengkampanyekan isu Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR) dan kesetaraan gender di Kabupaten Indramayu. Dan untuk memperluas cakupan, media pun digandeng.
Kampanye yang terangkum dalam West Java Media Workshop for SRHR and Gender Justice Campaign in Indramayu Districk ini dipusatkan di Aula Hotel Trisula kabupaten setempat, Rabu (12/03/2025).
Empati mereka terhadap kelompok rentan sangat tinggi hingga media juga dilibatkan untuk pemberitaan. Pemberitaan yang berimbang dibutuhkan untuk meminimalisir pemberitaan dengan judul bombastis dan sarkasme.
“Kita perlu pemberitaan berimbang untuk melindungi kelompok rentan dari eksploitasi pemberitaan. Pemilihan judul yang sopan dan tidak sarkasme,” kata staf Media dan Publikasi Yayasan SAPA (SAPA Institute), Badru Tamam Mifka.
Sementara itu, kerjasama antara Yayasan Selendang Dharma Ayu dan Yayasan SAPA Bandung sejak 2021 hingga saat ini terus mengkampanyekan isu HKSR bagi generasi muda dan kesetaraan gender.
Seperti diskusi reguler sebagai upaya penigkatan pengetahuan, pembuatan media kampanye di sosial media untuk menyebarluaskan informasi, advokasi dan aktif melakukan posyandu remaja yang dilaksanakan di komunitas desa dan perguruan tinggi di Kabupaten Indramayu.
Ketua Yayasan Selendang Puan Dharma Ayu, Yuyun Khoerunnisa, mengatakan saat ini Pusat Layanan Komunitas (PLK) telah aktif melakukan berbagai kegiatan untuk memberikan informasi HKSR bagi orang muda. Di antaranya Mireng Wong Enom sebagai ruang untuk mendapatkan dukungan publik dalam meningkatkan kesadaran isu HKSR bersama orang tua dan stakeholders, serta produksi media kampanye melalui media sosial terkait HKSR.
Yuyun menyebut kalangan muda di Kabupaten Indramayu menghadapi berbagai tantangan dalam persoalan HKSR. Berdasarkan hasil pemetaan yang dilakukan oleh Yayasan SAPA pada tahun 2021 mengenai pemahaman HKRS orang muda di Indramayu, menyatakan bahwa sebanyak 62,6 persen mengetahui HKSR dan 19 persen menyatakan tidak tahu.
Namun, banyaknya jumlah responden yang mengetahui HKSR tersebut tidak berbanding lurus dengan pengetahuan yang komprehensif mengenai dampak dari HKSR, karena masih dilekatkan dengan stigma yang negatif.
“Temuan survey menyatakan 40,4 persen orang muda menganggap setuju bahwa pengetahuan HKSR dapat mencederai nilai norma, agama, sosial dan budaya. Sedangkan sebanyak 16,8 persen menyatakan sebaliknya,” kata Yuyun.
Artinya, pengetahuan HKSR masih dinilai bertentangan dengan nilai-nilai masyarakat di kalangan orang muda. Pentingnya HKSR tidak dapat diabaikan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat, terutama orang muda.
Namun, kesadaran yang rendah dan stigma sosial yang melekat pada isu-isu ini menjadikan akses terhadap informasi dan layanan yang memadai sebagai tantangan besar.
Oleh karenanya, kata Yuyun, untuk mengatasi persoalan tersebut, Yayasan SAPA melalui program Right Here Right Now (RHRN) dengan dukungan dari YGSI, telah mengembangkan PLK sebagai inisiatif yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kapasitas orang muda dalam memperkuat isu HKSR.
PLK tersebut dikembangkan di empat wilayah, yaitu PLK Desa Tugu, Desa Kenanga, Universitas Wiralodra, dan Politeknik Indramayu. Pengorganisasian PLK menjadi bagian penting dari inisiatif ini.
“PLK bertujuan untuk menyediakan akses yang lebih mudah dan terjangkau bagi orang muda dalam memperoleh layanan kesehatan reproduksi,” pungkasnya. @safaro















