Pelita News , Indramayu – Hasil panen rendeng tahun 2023 tergolong normal antara pengeluaran dan pemasukan cukup berimbang. Tiap hektar bisa mencapai 5 ton hekatre.
Pemilik sawah, Kandi (50) mengatakan hasil panen padi musim tanam (MT) rendeng saat ini cukup lumayan, meski masih ada problem bagi para petani yang mau panen. Dimana untuk tiap hektar masih bisa menghasilkan padi sekitar 5 ton , sehingga walaupun hanya lebih sedikit dibandingkan dengan resiko namun para petani cukup puas melihat tanaman padi di tiap pematang sawah.
Menurut Kandi, saat ini di kecamatan Kroya Kabupaten Indramayu panen lebih awal, namun yang menjadi kendala adalah faktor cuaca, seperti sekarang para petani pemilik sawah hendak melaksanakan panen lebih awal, namun karena kondisi curah hujan masih cukup tinggi maka harus mencari celah, yakni terpaksa harus ditunda menunggu terang dan atau situasi tidak hujan.
Hal serupa disampaikan oleh Carman, hasil panen rendeng sekarang cukup memuaskan petani, dimana harga gabah basah bisa tembus mencapai Rp, 6000 /kg, sehingga jika dikalkulasi para petani tidak mengalami kerugian bahkan ada lebih walaupun sedikit. Namun perjuangan petani cukup berat, dimana harus mampu memberantas hama tikus, oleh karenanya para petani pada saat tanaman baru beberapa bulan , secara gotong royong melakukan memberantas hama tikus dengan cara gropyokan.
Sementara Kuwu Desa Sukaselamet Rajudin S.Pd mengatakan, pada umumnya hasil panen sekarang cukup berhasil tidak terserang hama padi termasuk hama tikus bisa diatasi oleh para petani. Keberhasila petani saat ini adalah berkat kebersamaannya dari mulai dari mulai tanam hingga pemupukan tidak berselang jauh oleh karenanya saat hendak memanen hampir bersamaan.
Hanya faktor cuaca belum bersahabat dengan petani, mestinya sudah bisa di panen namun karena cuaca tidak memungkinkan maka terpaksa ditunda. Disisi lain keberhasilan para petani di musim tanam rendeng sekarang tidak terlepas atas taat kelola perairan yang bagus.
“Kalau tidak dilakukan tata kelola maka banyak air yang terbuang,” pungkas Kuwu (furqon)













