Pelita News I Indramayu – Anggota DPR RI Komisi IV dari Fraksi PDI Perjuangan, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, M.S., menghadiri kegiatan Gerakan Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) tikus di Desa Plosokerep, Kecamatan Terisi, Kabupaten Indramayu, Selasa (27/10/2026). Kehadiran mantan Menteri KKP RI ini, didampingi Ketua Gerakan Nelayan Tani Indonesia (GNTI) Kabupaten Indramayu, Tarsono.
Kegiatan ini merupakan upaya memperkuat perlindungan tanaman pangan, khususnya padi, dari ancaman serangan hama tikus yang dapat menyebabkan kerusakan tanaman, mengurangi hasil panen, hingga menimbulkan kerugian bagi petani.
Pengendalian hama tikus menjadi langkah penting dalam menjaga produktivitas pertanian dan mendukung ketahanan pangan daerah. Pelaksanaannya membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, petugas perlindungan tanaman, penyuluh pertanian, hingga kelompok tani.
Melalui gerakan pengendalian secara terpadu, penanganan hama diharapkan dapat dilakukan secara lebih terarah, efektif, dan berkelanjutan, sehingga risiko kerugian yang dialami petani dapat ditekan.
Ketua GNTI Kabupaten Indramayu, Tarsono, mengatakan pengendalian OPT tikus perlu menjadi perhatian bersama karena berdampak langsung terhadap keberlangsungan usaha tani dan kesejahteraan petani.
Menurutnya, petani membutuhkan dukungan nyata dalam menghadapi ancaman hama, baik melalui pendampingan teknis, peningkatan pengetahuan, maupun koordinasi yang baik antara petani dan instansi terkait.
“Pengendalian OPT tikus harus dilakukan secara bersama-sama dan berkelanjutan. Petani tidak bisa berjalan sendiri. Diperlukan dukungan pemerintah, petugas pertanian, penyuluh, serta seluruh kelompok tani agar pengendalian hama dapat berjalan optimal dan kerugian petani bisa diminimalkan,” kata Tarsono, dalam keterangannya, Kamis (29/10/2026).
Ia menilai gerakan pengendalian tersebut juga menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran petani agar tidak hanya melakukan tindakan ketika serangan hama sudah meluas, tetapi turut mengutamakan pencegahan dan pemantauan secara rutin.
Sementara itu, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, M.S., menekankan pentingnya perhatian terhadap persoalan yang dihadapi petani, termasuk ancaman organisme pengganggu tumbuhan yang dapat memengaruhi produktivitas pertanian.
Pengendalian hama tikus, kata dia, menjadi sala satu langkah penting untuk menjaga keberlangsungan produksi padi. Upaya ini perlu didukung melalui koordinasi lintas sektor, penerapan teknik pengendalian yang tepat, serta keterlibatan aktif para petani di lapangan.
“Pertanian merupakan sektor strategis dalam menjaga ketahanan pangan. Karena itu, berbagai kendala yang dihadapi petani, termasuk serangan hama tikus, harus ditangani secara serius dan bersama-sama. Pengendalian perlu dilakukan secara terpadu dengan melibatkan pemerintah, petugas pertanian, penyuluh, dan kelompok tani agar produksi pangan tetap terjaga,” ungkapnya.
Ia juga mengharapkan agar kegiatan pengendalian OPT tidak berhenti pada pelaksanaan di lapangan, tetapi dilanjutkan dengan pemantauan dan evaluasi untuk mengetahui efektivitas tindakan yang dilakukan serta menentukan langkah penanganan berikutnya.
Dengan demikian, upaya perlindungan tanaman dapat memberikan manfaat berkelanjutan bagi petani dan mendukung penguatan ketahanan pangan, khususnya di Kabupaten Indramayu yang dikenal sebagai salah satu daerah penghasil beras di Jawa Barat.
Kegiatan Gerakan Pengendalian OPT Tikus di Desa Plosokerep dihadiri perwakilan Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan, Satpel BPTPH Wilayah III Indramayu, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Indramayu, Camat Terisi, Kepala Desa Plosokerep, Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Terisi, petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) se-Kabupaten Indramayu, serta Kelompok Tani Tani Makmur. @safaro














