Cirebon | Pelita Newa.- Kecamatan Suranenggala, Kabupaten Cirebon, baru saja menjadi saksi keindahan dan keberagaman budaya lokal dalam acara yang memukau Festival Budaya Islami Suranenggala.
Acara ini diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Cirebon, dengan dukungan dari anggaran Program Pemberdayaan Infrastruktur Kecamatan (PIK). Festival ini bertempat di Alun-Alun Desa Suranenggala Lor dan berhasil menarik perhatian ribuan penonton yang antusias sepanjang hari.
**Keberagaman Tari Tradisional Memikat Penonton**
Festival ini dimulai pada pagi hari dengan berbagai pertunjukan tari yang dibawakan oleh anak-anak dari Sanggar Seni Tari Anane Jagat, yang terletak di Suranenggala. Dari tari Jaipong hingga tari Topeng, dan tari Senggot, penonton disuguhkan dengan warna-warni seni tari yang kaya akan budaya Jawa Barat. Tidak hanya itu, tari Mojang Priangan pun menjadi bagian dari pagelaran yang membuat atmosfer semakin hidup.
Pada malam harinya, festival ini menampilkan **Sintren** dari Sigro Mangso, yang membawa penonton kembali ke akar tradisi yang kaya akan nilai budaya. Meskipun hanya satu sanggar seni yang tampil, keindahan tarian yang disajikan mencerminkan kebesaran seni budaya lokal yang perlu dilestarikan.
**Festival Bumi Baduran: Menghidupkan Kembali Tradisi**
Festival ini mengusung tema “Festival Bumi Baduran (Pulun Pulun)” yang berarti usaha untuk membangkitkan kembali gairah pelestarian seni budaya yang kian tergerus oleh zaman. Salah satu hal yang menarik, Festival Pulun Pulun yang biasanya melibatkan ritual sesajen kepala kerbau, kali ini dipadukan dengan semangat budaya Islami, menghilangkan unsur-unsur yang dianggap bertentangan dengan ajaran Islam dan mengedepankan sisi modernisasi seni tanpa meninggalkan akar tradisi.
**Tantangan dan Harapan untuk Generasi Muda**
Adnani, pengasuh Sanggar Seni Anane Jagat, menyampaikan rasa terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Cirebon dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata yang telah memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk tampil dan berkreasi. “Kami berharap acara seperti ini dapat terus digelar secara rutin, agar generasi muda, khususnya di Kabupaten Cirebon, dapat lebih mengenal dan mencintai seni budaya tradisional,” ujarnya. Sanggar Anane Jagat sendiri saat ini memiliki lebih dari 300 anak yang terlibat dalam kegiatan seni tari, mulai dari usia dini hingga tingkat perguruan tinggi.
**Komitmen Pemerintah dalam Melestarikan Seni Budaya**
Menurut Drs. H. Abraham Muhamad, M.Si, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Cirebon, Festival Budaya Islami ini merupakan langkah nyata dalam upaya melestarikan seni dan budaya lokal. Sumarno, Kabid Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, juga menyampaikan apresiasi yang tinggi terhadap penyelenggaraan acara ini. “Pagelaran ini menunjukkan profesionalisme para panitia dalam mengemas ajang seni budaya yang menarik dan tidak monoton. Berbagai tari dari seluruh Jawa Barat ditampilkan dengan sangat apik,” ungkapnya.
**Masa Depan Seni Budaya di Kabupaten Cirebon**
Dengan kehadiran acara seperti ini, diharapkan ada semangat baru dalam pelestarian seni dan budaya daerah. Di tengah derasnya pengaruh budaya luar, acara seperti Festival Budaya Islami Suranenggala menjadi ruang penting untuk menunjukkan kepada dunia bahwa seni tradisional masih hidup dan berkembang. Semangat generasi muda yang terus berlatih dan berkreasi adalah harapan terbesar untuk keberlanjutan seni budaya di Kabupaten Cirebon.
Festival ini bukan hanya sekedar hiburan, melainkan juga sebuah upaya pelestarian budaya yang sangat penting untuk diteruskan, agar identitas budaya lokal tetap terjaga di tengah arus globalisasi. @Bams















