Pelita News | Jakarta. – Membangun kebebasan finansial tidak cukup hanya dengan memiliki penghasilan besar. Diperlukan perencanaan keuangan, pemahaman risiko, serta strategi investasi yang tepat sesuai kebutuhan dan tujuan hidup.
Pesan tersebut menjadi salah satu pembahasan penting dalam hari kedua penyelenggaraan Capital Market Summit & Expo 2026 (CMSE 2026) di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (6/11/2026).
Mengusung tema Satu Langkah Investasi, Berjuta Peluang Masa Depan, kegiatan ini menghadirkan sejumlah praktisi keuangan, pelaku industri pasar modal, hingga pakar investasi syariah untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pengelolaan keuangan dan pilihan instrumen investasi.
Tiga sesi talkshow menjadi agenda utama hari kedua, mulai dari strategi mencapai financial freedom, mengenali karakteristik produk pasar modal, hingga memahami investasi syariah yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga prinsip dan akad yang sesuai syariat.
Sesi pertama bertajuk Financial Freedom Roadmap: Strategi Investasi untuk Setiap Tahap Kehidupan berlangsung pukul 09.45–11.00 WIB.
Talkshow ini menghadirkan Financial Educator & Consultant Aliyah Natasya serta investor dan praktisi komunikasi kebijakan publik dan keuangan Irsyad Al Ghifari. Diskusi dipandu oleh Digital Creator Maulidya Khairani Rancul.
Salah satu pesan penting yang disampaikan dalam diskusi tersebut adalah bahwa investasi saham tidak bisa hanya mengandalkan keberanian mengambil risiko. Investor perlu memiliki kemampuan melakukan riset, memahami fundamental perusahaan, serta mengelola potensi keuntungan dan kerugian.
Aliyah Natasya menegaskan bahwa investasi saham yang aman bukan berarti investasi tanpa risiko.
“Investasi saham yang aman itu bukan berarti tanpa risiko, tetapi bagaimana kita melakukan riset, menyeleksi secara fundamental, dan aktif mengelola keuntungan maupun kerugian,” ungkapnya.
Pesan ini menjadi pengingat bahwa keputusan investasi perlu didasarkan pada pengetahuan dan analisis, bukan sekadar mengikuti tren atau rekomendasi yang belum tentu sesuai dengan kondisi keuangan pribadi.
Bagi masyarakat yang ingin membangun kekayaan dalam jangka panjang, pemahaman terhadap risiko dan kedisiplinan dalam mengelola portofolio menjadi bagian penting dari perjalanan menuju kebebasan finansial.
Memasuki sesi kedua pukul 13.30–14.45 WIB, pembahasan beralih pada pilihan instrumen investasi melalui talkshow bertajuk Which Investment Fits You? Produk Pasar Modal: Saham, Reksa Dana, ETF, Obligasi.
Diskusi menghadirkan Lily Widjaja dari Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia dan Gresia Kusyanto selaku Ketua Panitia Sosialisasi dan Edukasi (SOSEDU) APRDI 2026. Sesi dipandu oleh Heidy Ruswita, Kepala Divisi Riset BEI.
Pembahasan ini menyoroti pentingnya memahami karakteristik setiap instrumen pasar modal sebelum menentukan pilihan investasi.
Saham, reksa dana, ETF, dan obligasi memiliki mekanisme, potensi imbal hasil, serta tingkat risiko yang berbeda. Karena itu, investor tidak seharusnya memilih instrumen hanya berdasarkan popularitas atau potensi keuntungan yang ditawarkan.
Pesan utama yang mengemuka dalam diskusi tersebut adalah tidak ada satu instrumen investasi yang paling ideal untuk seluruh orang.
“Tidak ada satu instrumen investasi yang paling baik untuk semua orang. Pilihan terbaik adalah investasi yang sesuai dengan kebutuhan, tujuan, dan profil risiko masing-masing,” menjadi pesan yang disampaikan dalam sesi tersebut.
Bagi kalangan bisnis dan masyarakat umum, pemahaman ini penting karena strategi investasi harus mempertimbangkan kebutuhan likuiditas, jangka waktu penempatan dana, serta kemampuan menghadapi fluktuasi pasar.
Dengan mengenali karakteristik produk investasi, masyarakat diharapkan mampu mengambil keputusan keuangan secara lebih terukur dan tidak terjebak dalam pola investasi ikut-ikutan.
Sesi ketiga menjadi penutup rangkaian talkshow hari kedua CMSE 2026. Mengangkat tema Investlife Balance: Profit Halal, Berkah Maksimal, diskusi berlangsung pukul 15.30–17.00 WIB.
Talkshow ini menghadirkan Ustaz Handy Bonny sebagai pendakwah dan Harryka Joddy, perencana keuangan sekaligus investor syariah. Diskusi dipandu oleh presenter dan investor syariah Soraya Larasati.
Pembahasan menitikberatkan pada pentingnya memahami prinsip investasi syariah, terutama terkait sumber keuntungan, proses transaksi, serta kesesuaian akad dalam aktivitas investasi.
Harryka Joddy menekankan bahwa investasi syariah tidak hanya berbicara mengenai besarnya keuntungan yang diperoleh, tetapi juga bagaimana proses keuntungan tersebut dihasilkan.
“Dalam investasi syariah, bukan hanya hasil yang diperhatikan, tetapi juga proses dan akadnya. Jangan sampai keuntungan yang dicari justru menghilangkan keberkahan,” ujarnya.
Perspektif tersebut memberikan pemahaman bahwa keputusan investasi tidak semata-mata didasarkan pada pertimbangan finansial, tetapi juga nilai dan prinsip yang menjadi pegangan investor.
Sebagai agenda tahunan dalam rangka memperingati 49 tahun diaktifkannya kembali Pasar Modal Indonesia, CMSE 2026 menjadi ruang pertemuan bagi pelaku industri, investor, regulator, dan masyarakat untuk memperluas wawasan mengenai perkembangan pasar modal.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh PT Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), dengan dukungan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Berlangsung selama tiga hari, 5–7 November 2026, di Main Hall Bursa Efek Indonesia, CMSE 2026 menghadirkan tujuh sesi seminar dengan beragam pembahasan seputar investasi dan pasar modal.
Selain seminar dan talkshow, kegiatan ini juga dimeriahkan dengan hiburan, door prize, serta kehadiran 104 tenant dengan total 88 booth dari pelaku pasar dan industri.
Rangkaian kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas akses informasi dan meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap berbagai produk serta layanan pasar modal.
Melalui edukasi yang melibatkan praktisi dan pelaku industri, masyarakat diharapkan tidak hanya mengenal investasi sebagai sarana memperoleh keuntungan, tetapi juga memahami pentingnya perencanaan, pengelolaan risiko, dan pemilihan instrumen yang sesuai dengan tujuan keuangan.
Sebab, membangun masa depan finansial yang lebih baik bukan dimulai dari seberapa besar modal yang dimiliki, melainkan dari seberapa tepat seseorang memahami dan mengelola setiap keputusan investasinya.@Bams













