Cirebon | Pelita News — Desa Durajaya, Kecamatan Greged, Kabupaten Cirebon, mendadak ramai oleh semangat inklusi dan solidaritas. Lebih dari 590 peserta dari 24 provinsi di Indonesia berkumpul, hidup bersama warga dalam skema live in, dan berkolaborasi dalam sebuah gerakan besar: Temu Inklusi Nasional ke-6.
Acara dibuka langsung oleh Bupati Cirebon, Imron, bersama perwakilan dari Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK). Temu Inklusi bukan sekadar forum diskusi, tapi menjadi ruang hidup bersama, tempat di mana isu difabilitas, pemberdayaan masyarakat desa, dan kebijakan publik berpadu nyata dalam aksi kolaboratif lintas sektor.
“Kami ingin memastikan tak ada satu pun warga yang tertinggal. Di Cirebon, saat ini ada lebih dari 4.300 warga difabel dengan kebutuhan beragam. Kami tengah menyusun Rencana Aksi Daerah Inklusi yang konkret dan menyeluruh,” ujar Bupati Imron.
Langkah progresif juga telah dimulai sejak awal tahun melalui Musrenbang Tematik Inklusi, di mana penyandang disabilitas dilibatkan aktif dalam proses perencanaan pembangunan daerah.
Sementara itu, Woro Srihastuti Sulistyaningrum, Deputi Kemenko PMK, mengingatkan bahwa tantangan masih besar. Data menunjukkan bahwa 77% penyandang disabilitas masih menganggur dan hanya 23,9% yang aktif dalam dunia kerja.
“Kita harus mengubah data ini menjadi aksi nyata. Inklusi bukan sekadar jargon, ini tentang kesempatan, akses, dan keadilan sosial. Dan kuncinya adalah kolaborasi,” tegas Woro.
Lebih dari sekadar seremoni, Temu Inklusi Nasional ke-6 menjadi bukti bahwa kolaborasi antarpemerintah, organisasi difabel, masyarakat sipil, hingga akar rumput di desa-desa bisa mewujudkan perubahan nyata.
M. Joni Yulianto, Direktur SIGAB Indonesia dan penanggung jawab kegiatan, menyebut Temu Inklusi sebagai ruang strategis berbagi praktik baik.
“Cirebon tak hanya jadi tuan rumah, tapi juga contoh nyata bagaimana budaya lokal dan keberpihakan terhadap kelompok rentan bisa berpadu menjadi kekuatan perubahan,” kata Joni.
Dengan semangat gotong royong dan keberagaman yang dipeluk erat, Temu Inklusi Nasional ke-6 di Cirebon bukan sekadar pertemuan, ini adalah pergerakan menuju Indonesia yang benar-benar inklusif.@Bams















