Pelita News | Cirebon Timur – Memasuki bulan kemerdekaan Republik Indonesia, masyarakat di wilayah Halimpu – Wangkelang, Kecamatan Greged dan Beber, masih menghadapi kondisi jalan rusak berat yang tak kunjung diperbaiki secara menyeluruh. Aliansi Peduli Cirebon Selatan (ASPECS) menilai situasi ini sebagai bentuk kelalaian dan pengabaian nyata dari Pemerintah Kabupaten Cirebon terhadap hak dasar warganya.
Ruas Halimpu–Wangkelang bukan sekadar jalan—ia adalah nadi kehidupan. Di atasnya berlalu pelajar yang menempuh ilmu dengan pakaian penuh debu, petani yang membawa hasil panen melewati kubangan, hingga warga sakit yang terhambat ambulansnya karena lubang yang menganga. Sementara pemerintah masih bergelut dalam pertemuan-pertemuan kosong yang tak pernah menyentuh realitas di lapangan.
Sekretaris Jenderal ASPECS, Alip Agus mengungkapkan, ketika pihaknya memintai tanggapan terkait kondisi jalan rusak di wilayahnya, justru ironisnya mendapatkan lontaran kalimat yang sangat menyakiti nalar dan hati rakyat. Lontaran kalimat tersebut terucap dari salah satu staf Wakil Ketua DPRD Kabupaten Cirebon yang berbunyi “Jalan jelek begini aja ngebut, apalagi kalau jalan bagus”.
“Pernyataan ini adalah tamparan keras terhadap akal sehat publik. Ketika rakyat mengadukan luka, para elit malah bercanda di atas penderitaan,“ kecamnya.
Ia juga menyinggung Pemerintah Kabupaten Cirebon seakan punya keahlian luar biasa, mendiamkan yang genting dan membiarkan yang mendesak. Jalan rusak itu seperti luka lama yang digarami setiap hari dan rakyat selalu disuruh bersabar, seperti domba di ladang pembantaian birokrasi.
“Ketika ada pejabat atau staf dewan yang dengan pongah berkata “‘jalan jelek aja ngebut”, maka kami tak bisa menahan geram. Betapa murahnya nyawa rakyat di mata para wakilnya. Betapa dalamnya jurang antara realitas rakyat dan lelucon elit,“ tambah Alip.
Alip mengungkapkan perasaan masyarakat yang telah bosan dengan janji-janji yang disusun rapi, diketik formal, ditandatangani pejabat, lalu ditelan angin. Maka ia tegaskan jika di awal Agustus nanti jalan rusak ini masih tak disentuh, maka biarkan rakyat yang akan menyentuhnya dengan langkah kaki perlawanan di depan kantor bupati.
“Ini bukan orasi murahan. Ini adalah alarm terakhir. Jangan paksa kami mengganti kata dengan massa. Jangan tunggu rakyat mendobrak ketika pintu-pintu keluhan sudah tidak pernah dibuka,“ ancamnya.
Untuk itu, ASPECS menyerukan kepada seluruh rakyat Cirebon Selatan, pemuda, mahasiswa, petani, buruh, dan semua yang masih memiliki hati untuk bersatu melawan ketidakadilan ini. Jangan biarkan pernyataan arogan itu menjadi cermin watak kekuasaan kita.
“Jalan adalah hak rakyat. Jika tak diperbaiki, rakyat akan bergerak!
Hidup Rakyat! Hidup Perlawanan!” @Ries















