Pelita News | Cirebon Timur — Paket pekerjaan gorong-gorong pada Ruas Jalan Kanci – Sindanglaut tepatnya di Desa Cipeujeuh Wetan, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon disorot warga. Proyek yang dikerjakan CV Dwi Yanti senilai Rp278.530.000,- tersebut bersumber dari APBD Kabupaten Cirebon Tahun Anggaran 2026. Tak hanya mengkhawatirkan, kondisi ini membahayakan keselamatan pengendara.
Pantauan Pelita News di lokasi, menunjukan progres pekerjaan gorong-gorong yang menggunakan Box Culvert baru terpasang separuh jalan. Namun, elevasinya terlihat lebih tinggi dari badan jalan eksisting mencapai 35 cm. Akibat perbedaan ketinggian yang signifikan itu, di sisi kiri dan kanan Box Culvert perlu segera dilakukan pengurugan sementara sebagai transisi agar kendaraan bisa menanjak dan menurun lebih landai dari bahu jalan.
*Banyak Kendaraan Tersangkut*
Ketinggian elevasi menyebabkan banyak kendaraan mobil, termasuk bus tersangkut saat melewati tanjakan Box Culvert. Kini sejumlah kendaraan mobil terpantau enggan melintas dan memilih menggunakan jalur lawan arah, kepadatan jalan pun tidak dapat terurai.
*Begini Penjelasan Konsultan*
Konsultan Pembangunan Gorong-Gorong Ruas Jalan Kanci – Sindanglaut, Tiara menjelaskan bahwa ukuran eksisting gorong-gorong sebetulnya 100×100 cm, namun diganti menggunakan Box Culvert ukuran 150×150 cm. Jika 50 cm nya dilakukan pengerukan lebih dalam lagi akan membuat air tidak mengalir atau mengendap di bawah gorong-gorong.
“Kita sudah lakukan pengerukan lagi dan hanya bisa menambah kedalaman 35 cm dari eksisting dan sudah lebih dalam dari saluran terbuka, tapi Box Culvert tetap menonjol 15 cm ditambah ketebalan beton cor 20 cm. Sehingga elevasi gorong-gorong naik lebih tinggi 35 cm diatas permukaan jalan,“ terangnya.
Ia juga menegaskan bahwa pekerjaan ini sudah sesuai dengan gambar dan RAB. Selain itu, ia memastikan akan dilakukan lanjutan pekerjaan pengurugan dan pengaspalan hotmix agar nantinya permukaan jalan lebih landai dan tidak menanjak tegak seperti saat ini.
“Pekerjaan ini belum selesai, nanti akan dilakukan pengurugan biar lebih landai sekaligus dilakukan pengaspalan hotmix,“ tegas Tiara.
Warga setempat, Asep berharap DPUTR segera meninjau lokasi dan melakukan pengurugan sementara dilokasi pekerjaan agar permukaan jalan lebih landai menuju gorong-gorong, sehingga kendaraan mobil dapat melintas di atas gorong-gorong dengan aman sesuai lajurnya.
“Banyak mobil enggan naik ke gorong-gorong karena terlalu tegak menanjak dan membuat mobil tersangkut. Bahaya juga buat pengendara sepeda motor yang melintas malam hari dan tidak mengetahui kondisi menanjak ini, bisa oleng terbalik kalo sedikit saja kencang,“ ujarnya, Minggu (19/4/2026).
Ia mengusulkan jika Box Culvert tidak bisa lebih diturunkan karena adanya pipa PDAM, warga meminta oprit dibuat permanen dengan lapis pondasi dan aspal, sudut tanjakan di perlandai, diberi rambu peringatan, serta penerangan yang cukup agar tidak membahayakan pengguna jalan.
“Mestinya dari awal dikoordinasikan sama PDAM. Kalau pun harus naik, opritnya nanti harus diperlebar, di perlandai, dan diperkeras. Untuk sementara ini segera dilakukan pengurugannya dahulu, agar lalulintas berjalan lancar serta mengurangi kemacetan dan kepadatan kendaraan,“ kata Asep.
*Dugaan Penyebab: Selain Hindari Pengendapan Aliran Air, Hindari Jalur PDAM*
Informasi yang dihimpun di lapangan, elevasi Box Culvert yang lebih tinggi dari badan jalan disebabkan juga adanya jalur pipa PDAM eksisting di bawahnya. Untuk menghindari pemotongan atau relokasi pipa PDAM, elevasi dasar Box Culvert terpaksa dinaikkan sehingga berdampak pada elevasi puncaknya yang melebihi tinggi jalan. @Ries















