Kabupaten Cirebon Pelita News
Dalam dunia fisika, kita mengenal teori bahwa tabrakan antara dua benda keras akan menghasilkan benturan yang lebih dahsyat, menimbulkan reaksi besar, suara yang nyaring, dan dampak yang tak terhindarkan. Dalam dinamika sosial-politik, teori ini memiliki padanannya sendiri. Ketika seseorang “menabrak” tokoh besar yang tengah berada di puncak popularitas, maka reaksi publik yang timbul pun akan jauh lebih heboh dibanding jika ia menyerang sosok yang biasa-biasa saja.
Tokoh seperti Dedi Mulyadi, misalnya, adalah figur publik yang memiliki magnet tersendiri di mata masyarakat. Ia bukan hanya dikenal luas, tetapi juga dicintai sebagian besar rakyat karena gaya komunikasinya yang membumi dan pendekatannya yang menyentuh akar rumput. Menyerang sosok seperti ini ibarat melempar batu ke kolam yang tenang—cipratannya akan ke mana-mana, menarik perhatian siapa pun yang ada di sekitar.
Di sinilah kita melihat fenomena sosial yang menarik: ada sebagian oknum yang justru dengan sengaja menabrak tokoh-tokoh seperti Dedi Mulyadi, bukan semata karena alasan prinsip, tapi karena sadar bahwa reaksi yang timbul bisa menjadi panggung gratis bagi mereka. Popularitas bisa diraih bukan karena prestasi, melainkan karena berani menantang arus besar. Kontroversi sengaja dipelihara, agar namanya ikut terangkat dalam hiruk-pikuk debat publik.
Tentu, dalam demokrasi, kritik adalah hal yang wajar, bahkan perlu. Namun ketika kritik kehilangan landasan etika dan niat baik, lalu berubah menjadi panggung sensasional, maka yang tersisa hanyalah polusi sosial, bukan pencerahan. Maka kita sebagai publik pun perlu cermat memilah: mana kritik yang jujur, dan mana yang hanya ingin menumpang tenar.
Dengan tidak bermaksud menuduh minor, apakah kasus “benturan” antara Kang Ustad Iman Darusman dengan KDM juga Aura Cinta yang tengah viral sebagai upaya untuk mencuri perhatian publik atau murni sebagai kritik demi kemaslahatan bersama? Tapi yang jelas, semua kejadian itu merupakan skenario Tuhan untuk pembelajaran kita agar lebih bijaksana lagi dalam menghadapinya.(Dedi)















