
Pelita News I Indramayu – Profesi sebagai barista belakangan banyak diminati para pencari kerja seiring menjamurnya kedai/kafe diberbagai sudut kota Indramayu, tak terkecuali Saefudin. Pria yang ditakdirkan lahir tuna rungu wicara sejak lahir ini sudah menjadi barista di kedai Kopi Teman Istimewa di Jalan Istiqomah Nomor 19, Kelurahan Lemah Mekar, Kecamatan/Kabupaten Indramayu sekira 1,3 tahun.
Lulusan SMA SLB Mutiara Hati Indramayu tahun 2019 ini, memilih menjadi barista sejak keluar dari tempat kerja sebelumnya di sala satu minimarket di Cirebon. Ia bekerja di kedai Kopi Teman Istimewa berkat ajakan guru-gurunya di sekolah tempat dirinya menimba ilmu yang sejak 1 November 2023 menjadi sekolah negeri.
Tawaran itu langsung disambut gembira Saef, karena keinginannya yang kuat untuk bekerja guna menopang kebutuhan hidup keluarganya. Sejak ayahnya meninggal, anak kedua dari tiga bersaudara ini menjadi tulang punggung keluarga. Ibunya yang dulu ikut bekerja sebagai buruh tani, kini sakit ditambah kakaknya yang kondisi fisiknya sama dengan Saef juga jatuh sakit. Sementara adik bungsunya yang dilahirkan normal kini bekerja sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) di luar negeri.
Saef (29), tidak serta merta menjadi peracik kopi, namun diawali dari nol. Saef diikutsertakan dalam program pelatihan pembuatan kopi yang diinisiasi PT. Kilang Pertamina Internasional (KPI) Unit VI Balongan. Suport Unit VI Balongan tidak saja dalam pelatihan menjadi barista dengan mendatangkan ahli namun semua hal. Dari mulai peralatan untuk mempermudah temen-temen istimewa, studi banding dan lainnya.
“Saefudin (Saef), sudah bekerja dari awal berdirinya Teman Istimewa. Dimulai dari pelatihan yang difasilitasi Unit VI Balongan hingga saat ini. Dia sudah piawai meracik kopi sesuai pesanan pelanggan,” kata pendamping Teman Istimewa, Sespri Mualana (33), Rabu (30/10/2024).
Pemilik lokasi kedai ini menjelaskan, Saef, domisilinya di wilayah Kecamatan Cikedung. Jarak tempuh dari Cikedung ke Kota Indramayu sekira 20 km. Meski jaraknya jauh, dia selalu pergi pulang (PP) menggunakan kendaraan roda dua. Hal itu, sambungnya, selain membagi waktu untuk mengurusi ibu dan kakaknya yang sakit juga mata Saef ada kelainan. Pandangannya kabur kalau pulang malam. Sehingga saat bekerja dia memilih shift siang dan pulang jam 16.00.
“Saef benar-benar menjadi tulang punggung keluarga. Gaji yang dia terima selain untuk menutupi biaya hidup keluarganya juga ditabung,” jelasnya.
Yang bekerja di Kedai Kopi Teman Istimewa, lanjutnya, ada delapang orang. Enam perempuan dan dua laki-laki. Dari kedelapan pekerja itu semuanya tuna rungu wicara. Secara umum mereka disebut sebagai penyandang disabilitas, namun karena dirasa masih kasar, teman-teman Pertamina menyebutnya temas istimewa dan dalam keseharian di kedai disebutnya teman tuli.
“Dalam berkomunikasi, mereka menggunakan bahasa isyarat sesuai alphabet Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo). Mereka ramah dan selalu tersenyum kepada setiap pelanggan,” ucapnya.
“Terima kasih kepada teman-teman media karena sering publish tempat ini, sehingga orang umum setidaknya sudah mulai belajar bahasa isyarat, jadi saat datang kesini sudah tidak kaget,” tambahnya.
Plh. Kepala SLB Negeri Mutiara Hati Indramayu, Atin Nurhayatin membenarkan terhitung sejak 1 November 2023, lembaga pendidikan yang dipimpinnya menjadi sekolah negeri. Saat ini jumlah siswanya ada 74 anak dengan jenjang pendidikan mulai dari TK, SD, SMP dan SMA.
Semua siswanya berkebutuhan khusus, ada tuna rungu, tuna wicara, liberosis dan tuna grahita. Yang banyak tuna rungu wicara dan tuna grahita.
“Lulusan sudah banyak bekerja di berbagai kota seperti Cirebon, Bandung termasuk di Kedai Kopi Teman Istimewa. Saef lulus tahun 2019 merupakan lulusan pertama. Alhamdulillah lulusan SLBN Mutiara Hati khsusnya tuna rungu wicara sudah banyak yang bekerja,” ucapnya.
Atin mengaku menjadi Mitra Binaan PT. KPI Unit VI Balongan sejak tahun 2017. Awalnya para siswa diberi pelatihan membuat jamur tiram di Kompleks Wisma Jati. Belakangan karena trend penikmat kopi meningkat dan melalui program corporate social responsibility (CSR) Pertamina mengadakan pelatihan meracik kopi.
“Mereka dilatih memjadi barista oleh tenaga ahli yang didatangkan oleh Unit VI Balongan,” sebutnya.
Unit VI, kata dia, sangat membantu dalam rangka meningkatkan keterampilan siswa dan para alumni, sehingga lulusannya sudah banyak yang bekerja. Mereka (alumni) diberikan wadah oleh Pertamina untuk bekerja.
“Kalau mereka sudah bisa menjadi barista ahli diharapkan bisa mandiri dengan membuka cafe sendiri,” harapnya.
Atin Nurhayatin mengucapkan syukur alhamdulillah karena sudah difasiliti oleh CSR Unit VI Balongan namun kedepan diharapkan tidak saja anak tuna rungu wicara, juga untuk anak tuna grahita, autis pun difasilitasi juga.
Officer I CSR and SMEEP PT KPI Unit VI Balongan, Andomedo Cahyo Purnomo, mengatakan, berawal beberapa tahun lalu, pihaknya melakukan pelatihan vokasi non akademis dengan melibatkan peserta didik SLB Mutiara Hati Indramayu sejak masih menjadi siswa hingga alumni. Dari pelatihan itu, pihaknya mencoba menerapkan beberapa meteri pelatihan sala satunya terkait pembuatan kopi.
Ia mengaku, ketertarikan mereka luar biasa, sehingga di jaring ada beberapa teman istimewa tuna rungu wicara karena kebetulan siswa SLB tersebut lebih banyak disabilitas tersebut. Dan dimulai menginisiasi program kopi teman istimewa.
“Dengan Kopi Teman Istimewa kita ingin membentuk sebuah ruang inklusi, dimana ada komunikasi dua arah antara temen-temen istimewa (temen dengar) dengan konsumen orang umum. Alasannya, karena saat ngopi nongkrongnya lama sehingga saat itu ada kesempatan untuk berkomunikasi. Kita juga siapkan visual manajemen terkait Bisindo. Bahasa isyarat dengan dua tangan ini antara temen tuli dan non tuli lebih mudah untuk belajar,” jelas Edo sapaan akrabnya.
Selain dari menjadi barista juga ada workshop, seperti kerajinan pemanfaatan limbah plastik jadi produk kreatif, jadi temen-temen juga bisa belajar hal lainnya selain kopi.
“Keberadaan kedai Kopi Teman Istimewa diolah menjadi tempat berkumpulnya para komunitas tuli seperti Gerkatin Indramayu. Dan keberadaannya mendorong beberapa komunitas tuli dari luar daerah seperti Cirebon, Cikarang, Sumedang dan lainnya beberapa kali berkunjung ke sini. Ya seperti studi banding. Mereka berkunjung bagaimana ada ruang inklusi bagi mereka di sini. Mereka juga mungkin mempunyai harapan yang sama sehingga di tempatnya ada hal serupa,” ucapnya.
Yang pasti kata Edo, perusahaan mendorong adanya ruang inklusi bagaimana masyarakat pada umumnya bisa melihat diluar keterbatasan mereka ada kelebihan.
Kedepan, tambahnya, tidak saja tuna rungu wicara yang difasilitasi namun tidak menutup kemungkinan tuna grahita dan autis juga akan difasilitasi.@ safaro















