Pelita News Kabupaten Cirebon
Ambruknya gapura gerbang pataraksa beberapa waktu lalu mendapat sorotan tajam dari aktivis Cirebon, walaupun saat ini bangun itu sedang dalam tahap perbaikan kembali namun hal itu tidak akan menghapus sejarah akan tragedi runtuhnya bangunan dengan biaya yang mahal.
Menurut Ade Riyaman Aktivis Anti Korupsi Cirebon mengatakan merupakan contoh kecil dari kegiatan yang ada di Pemerintah Kabupaten Cirebon, sehingga atas kejadian tersebut pihaknya berharap terbuka pintu untuk mengetahui dalang penyebab atas kejadian tersebut, dan tak hanya itu Ade Riyam menyebut kejadian runtuhnya gapura gerbang pataraksa diduga adanya kerusuhan pada proses lelang.
“tragedi runtuhnya gapura pataraksa itu saya pikir sampel saja contoh kecil dari semua kegiatan-kegiatan yang ada di pemerintah Daerah kabupaten Cirebon mudah-mudahan dengan apa namanya kejadian ini menjadi sebuah pintu Pandora yang akan membuka siapa sebenarnya dalam-dalam kerusuhan ini ini saya bilang rusuh kenapa (PPBJ) Panitia Pengadaan Barang Dan Jasa,”katanya.
Masih Kang Ade biasa disapa, ia meminta agar kepanitiaan pada proses PPBJ dikroscek kembali, pasalnya ia menduga kuat ada ketidak beresan dalam proses lelang.
“kepanitiaannya coba dicek lagi, sudah bener belum, ada dinas nih mengakomodir lebih dari kemampuan perusahaan ini maksimal misalnya 5 (lima), ini bisa 30 sampai 40 kegiatan dalam satu tahun anggaran di satu perusahaan,”lanjutnya.
Kang Ade mengklaim bahwa ia memiliki banyak data yang mengatakan bahwa terdapat satu perusahaan yang mendapatkan banyak paket pekerjaan, sedangkan perusahaan memiliki batas maksimal paket pekerjaan.
“jadi data ada, jelas, tapi kita juga tidak apa namanya apriori ke satu orang ya, karena ini pelakunya banyak perusahaannya, contohnya ada satu perusahan mendapat 15 paket pekerjaan,”sebutnya.
Ia menduga lemahnya pengawasan dan kekurangannya tenaga ahli pada paket pekerjaan gapura gerbang pataraksa, sehingga dalam kurun waktu singkat bangunan itu runtuh walaupun pemerintah sudah membayarnya dengan harga yang mahal.
“misalnya untuk tenaga pengawas, tenaga ahli dan lain sebagainya termasuk permodalan kan tidak fokus, bagaimana mungkin dengan kualitas yang baik,”ungkapnya.
Kembali Kang Ade menduga bahwa terdapat suatu akal-akalan pada proses lelang Pataraksa, sehingga perusahaan yang memenangkan tender sudah ditandai oleh oknum PPBJ.
“perusahaan perusahaan ini mengerjakan pataraksa dan yang sedang mengerjakan pataraksa ini punya pekerjaan-pekerjaan, juga bendera dibuat mainan atas Tengah bawah ranking 11 12 13 itu terus yang memang rangkingnya bagus ranking 1 ranking 2 enggak punya ciri menang itu biasanya belasan,”paparnya.
Ambruknya gerbang gapura pataraksa Kang Ade duga merupakan salah satu kemampuan pihak rekanan yang tidak becus, sehingga dalam kurun waktu yang tidak lama hasil dari pekerjaan membuahkan hasil yang memalukan, dan tak hanya itu Kang Ade juga menuding kurang teliti oknum dinas untuk menyeleksi pihak rekanan yang nantinya akan mengerjakan pekerjaan itu.
” ini kemampuan rekanannya yang tidak tidak becus, tidak benar, idak punya kemampuan, terus juga mungkin saja karena itu sempat macet-macet, itu mungkin saja permodalan yang kurang, dan kurang telitinya dinas untuk menyeleksi,”tegasnya.
Kang Ade meminta kepada para petinggi di Kabupaten Cirebon terutama pihak DPRD Kabupaten untuk menanggapi kejadian yang ada pada pembangunan pataraksa, dan memberikan sikap tegas atas kejadian itu, Kang Ade juga sentil adanya dugaan kuat pada Oknum-oknum dewan yang bandarin proyek.
“kelemahan pengawasan, mestinya tanggaplah petinggi-tinggi yang ada di kabupaten Cirebon, misalnya dewan komentar dong, ketua dewan harus rubah Cirebon, kemudian juga ada oknum-oknum dewan yang udah jadi rahasia umum, yang memang bandarin proyek, ya punya catatan sendiri bersikap dong kenapa sampe sekarang nggak ada suaranya kemana,”pungkasnya.(tim)















