Pelita News | Cirebonkab. — Di sebuah ruang yang menyimpan jejak masa lalu, suara-suara muda hari ini menghidupkan kembali bahasa yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Museum Pangeran Cakrabuana, Sumber, Kabupaten Cirebon, pada Rabu, 30 September 2026, berubah menjadi ruang perjumpaan antara puisi, bahasa daerah, dan generasi muda. Di tempat benda-benda sejarah dirawat agar tidak dilupakan, para pelajar SMA/sederajat justru merawat ingatan melalui kata-kata.
Mereka beradu tafsir, intonasi, penghayatan, dan keberanian dalam Lomba Baca Puisi Bahasa Cirebon tingkat SMA, yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Cirebon.

Bukan sekadar perlombaan membaca puisi, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kembali bahasa Cirebon/Jawa Bebasan kepada generasi muda. Museum pun tidak berhenti sebagai ruang penyimpanan koleksi masa lalu, tetapi bergerak menjadi ruang edukasi budaya yang mempertemukan sejarah dengan suara anak-anak zaman sekarang.
Dari puluhan peserta yang tampil, tiga juri—Edeng Syamsul Maarif, Fathan Mubarak, dan Imam Emje—menetapkan enam pemenang berdasarkan penilaian yang telah dilakukan selama perlombaan.
Ghina Peri Mahira, peserta nomor urut 24 dari SMAN 1 Palimanan, tampil sebagai peraih Juara 1 dengan perolehan 983 poin.
Posisi Juara 2 diraih Lara Sadewo, peserta nomor urut 17 dari SMA N 1 Kaliwedi, dengan 927 poin.
Sementara Juara 3 menjadi milik Khanca Khsitumim, peserta nomor urut 37 dari SMA N 1 Beber, yang mengumpulkan 920 poin.
Adapun tiga gelar juara harapan diraih oleh:
Juara Harapan 1: Dwi Apriyani, nomor urut 18, SMA N 4 Cirebon — 908 poin.
Juara Harapan 2: M. Ihsan Al Fikri, nomor urut 47, SMA N 1 Karangwareng — 905 poin.
Juara Harapan 3: Syarifudin, nomor urut 25, SMA N 1 Susukan — 900 poin.
Perbedaan angka di antara para pemenang menunjukkan ketatnya persaingan. Namun, yang dipertaruhkan dalam panggung itu sesungguhnya bukan hanya angka pada lembar penilaian.
Ada sesuatu yang lebih panjang umurnya daripada sebuah piala: bahasa.
Bahasa Cirebon menjadi medium bagi para pelajar untuk menunjukkan bahwa bahasa daerah tidak harus tinggal sebagai suara yang dikenang orang-orang tua. Ia masih bisa menjadi bahasa puisi, bahasa ekspresi, dan bahasa yang menemukan tempatnya di tengah kehidupan generasi muda.
Pemilihan museum sebagai lokasi perlombaan juga memberi makna tersendiri. Di antara koleksi-koleksi yang merekam perjalanan kebudayaan Cirebon, para pelajar menghadirkan bentuk warisan budaya yang lain: suara manusia yang mengucapkan kata-kata dengan penghayatan.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian pameran koleksi museum yang berlangsung pada 28 September hingga 1 Oktober 2026 di Museum Pangeran Cakrabuana, Jalan Sunan Drajat Nomor 9, Sumber, Kabupaten Cirebon.
Pada akhirnya, ketika perlombaan selesai dan nama-nama pemenang diumumkan, yang tertinggal bukan hanya daftar juara.
Di ruang museum itu, bahasa Cirebon telah mendapatkan panggung.
Dan melalui suara para pelajar, kata-kata lama menemukan cara baru untuk terdengar kembali.@Bams















