Pelita News, Kab. Cirebon
Simbol suatu daerah merupakan arti penting yang harus lestarikan dan dikenal Publik, untuk menunjukan identitas atau Aikon Wilayah/daerah tersebut, dengan tujuan agar para generasi penerus bisa memahami arti serta asal – usul sejarah daerahnya sendiri. di bangunnya sebuah monumen dengan bentuk apapun pada intinya untuk memuat Impormasi penting perihal sejarah sebelum dan sesudah Daerah itu berdiri. Seperti Halnya Patung Kerbau Dongkol yang sengaja di Bangun oleh Pemerintah Desa Luwung Kencana Kecamatan Susukan Kabupaten Cirebon Jawa Barat. Senin, 12/06/2023.
Saat awak mendi Pelita News berkunjung ke Desa Luwung Kencana dan bertemu Kuwu Mustofa dikantornya, ia menuturkan Patung “Kerbau Dongkol” Sengaja Kami Bangun di halaman Balai Desa atas persetujuan Para masyarakat (Tomas) dan Toko Agama dengan tujuan untuk melestarikan sejarah dan Budaya Desa agar Generasi Milenial yang menjadi penerus tidak melupakan sejarah, menurutnya, karena adanya kita berarti adanya nenek moyang sebelumnya yang telah banyak
memberikan banyak arti pada terbentuknya peradaban hingga saat ini. Untuk itu kami sebagai generasi penerus tentunya harus memahami artikulasi perjuangan para pendahulu yang banyak memberikan arti penting untuk kita semua, karena adanya kita berarti berarti adanya nenek moyang. Jelasnya.
Dan Kuwu Mustofa, menjelaskan perihal Sejara singkat tentang sejarah Desa Luwung Kencana. Siapa nama Bapak Jenggot, Pada Tahun 1933 diadakan pemelihan kepala Desa untuk yang pertama kalinya pada saat itu masih menggunakan biting terbuat dari bambu lalu dimasukkan kedalam bumbung yang ada wukunya agar biting tersebut tidak jatuh pada saat itu, dengan tujuan untuk menentukan pemimpin sebagai Kuwu terpilih dan sah menjadi Pemimpin pemerintahan pada saat itu, dan Kuwu yang pertama di tanah tersebut, dengan sebutan Nama Desa Bedeng B Yaitu Bapak Kuwu Rabil Kemudian pada masa Pemerintahan Desa dipimpin oleh Kuwu Kaira selanjutnya Tahun 1942 masehi atas prakarsa Camat susukan Nama Desa Bedeng B ( Bedeng Kidul ) dirubah dengan nama Desa Luwungkencana Bedeng A ( Bedeng Wetan Menjadi Blok Kertawinangun ) Sedangkan Bedeng C ( Bedeng Lor menjadi Blok Kertasari ). Dan arti Luwung yang berarti Alas Belantara yang dibabad menjadi sebuah Desa dan kencana berarti emas ( emas adalah lambang kesuksesan / kemajuan / kejuaraan /dan lambang kemakmuran) yang harapan kedepanya Desa Luwungkencana yang awalnya Alas belantara menjadi Desa Bedeng B akan menjadi Desa Luwungkencana Yang sukses, maju dan makmur dengan segala sumber daya manusianya.
Kemudian pada Tahun 1966 setelah terjadi Peristiwa Gerakan 30 September 1965 atas Prakarsa Bapak Kuwu Casmita Blok Kertasari di pindah karna melihat kondisi tegalan yang gersang dan tandus tidak ada air sumber untuk kebutuhan Rumah Tangga sehari-hari, apalagi kalau terjadi musim kemarau masyarakat Blok Kertasari harus mengambil air dari sungai pembuangan atau sungai Kedung dongkol akirnya Bapak Kuwu Casmita memindahkan seluruh masyarakat blok kertasari atau dikenal dengan istilah ( Gugur Gunung ) Pindah ke dataran yang lebih rendah yang dekat dengan perbatasan Desa Ujunggebang dan di namai Blok Gebangsari, karna mendekati berbatasan Desa Ujunggebang sedangkan Sari berarti meninggalkan Blok Kertasari. Dan Desa Luwungkencana terbentuk pada Tahun 1942 masehi. Terpisah jarak antara Desa Luwungkencana dengan Desa Kedungkencana Kecamatan Ligung Kabupaten Majalengka dibentang sungai dan sungai tersebut bernama Kali Kumpul Kwista jadi Kali Kali Kumpul Kwista merupakan batas Desa sekaligus juga sebagai batas Kecamatan Susukan Kabupaten Cirebon dengan Kecamatan Ligung Kabupaten Majalengka. Desa Luwungkencana sekarang terdiri dari 3 ( Tiga ) dan 12 RT, blok Desa Luwungkencana , blok Kertawinangun dan blok Gebangsari. Itulah sekilas sejarah singkat Desa Luwungkencana, Kacamatan Susukan Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. (Hartono)
















