Pelita News, Indramayu – Mimipi seorang penyandang disabilitas di Kabupaten Indramayu, Muhammad Devana Fakhrizal untuk membukukan karya-karya puisinya akhirnya terwujud. Berkat jasa penerbit dari Kota Mangga, Saptaguna, Barisan Pecahan Perasaan Seorang Disabilitas yang terangkum dalam judul “Puisi Tak Punya Nama” ini berhasil diterbitkan Rumah Pustaka dan buku tersebut di launching pada Kamis (12/01/2023).
Seremoni peluncuran buka perdana karya Muhammad Devana Fakhrizal dilakukan secara sederhana dikediaman orang tuanya di RT 04/ RW 08, Blok Kandang Sapi, belakang kantor Pengadilan Negeri Indramayu Kelurahan Lemah Mekar Kecamatan/Kabupaten Indramayu.
Hadir pada kesempatan tersebut, Pengelola Rumah Pustaka, Saptaguna, Penyair Indramayu, Acep Syahril, para guru dari SLB Negeri di Jl Pahlawan Indramayu, kedua orang tua dan sanak keluaragnya.
Dikutip dari kata pengantar Puisi Tak Punya Nama, Muhammad Devana Fakhrizal lahir dari keluarga yang kurang mampu.
Ayahnya, Anas adalah buruh serabutan sedangkan ibunya, Siti Daenah adalah ibu rumah tangga. Pria kelahiran Tanggerang 21 Agustus 1997 ini lahir prematur.
Bayi yang lahir prematur ini kemudian dirawat dengan telaten oleh kedua orang tuanya. Namun pertumbuhan Rizal tampak lambat. Sampai dengan usia empat tahun, Rizal belum bisa berjalan. Hingga usia enam tahun Rizal masih merangkak.
Saat usia sekolah, ibunya mendaftarkan ke sekolah dasar negeri yang tak jauh dari rumahnya. Melihat keadaan fisik Rizal yang berbeda dengan anak-anak lainnya, pihak sekolah “menolaknya” secara halus. Rizal diarahkan masuk ke SLB.
Orang tuanya sepakat memasukkannya ke sekolah yang berada di jalan Pahlawan, Indramayu, Jawa Barat ini.
Kendati Rizal memiliki kelemahan di fisik, tetapi kecerdasannya cukup bagus. Kecakapan bicaranya menonjol. Di sekolahnya dia dijuluki “motivator”. Keterampilannya dalam hal tulis-menulis boleh dikata di atas rata-rata teman-temannya.
Rizal akhirnya berhasil menamatkan pendidikan hingga SMP dan kini sudah lulus SMA.
Kini Rizal mengisi hari-harinya dengan menghadiri pengajian di masjid dan menulis puisi. Ia juga ingin membuka usaha penjualan pulsa di rumahnya. Namun belum terwujud.
Puisi-puisi yang ada dalam buku ini ditulis oleh Rizal. Dia seperti maniak sekali dalam membuat puisi. Jumlah puisinya ratusan. Itu tidak termasuk yang hilang atau yang dia hapus.
Pengelola Rumah Pustaka, Saptaguna mengatakann fenomena Rizal sapaan akrab Muhammad Devana Fakhrizal mengingatkan dirinya pada penulis difabel dari Malang, yakni Ratna Indraswari Ibrahim. Sejak kecil ia sudah mengidap penyakit radang tulang (Rachitis). Oleh karena penyakitnya ini, praktis seluruh pekerjaannya dilakukan di atas kursi roda. Kendati demikian Ratna dikenal sebagai sastrawati yang produktif. Selama hidupnya dia berhasil menulis kurang lebih 400 cerpen dan novel.
Bagi jiwa-jiwa yang memberontak dan mereka yang terus menyalakan bara cita-cita dan impiannya, keterbatasan fisik (disabilitas, difabel) bukanlah suatu halangan.
Kemudian, Steven Hawking. Dunia mengenalnya sebagai ahli fisika. Padahal Hawking menderita penyakit neuron motoric, sebuah penyakit yang menyerang sel-sel syaraf. Akibatnya penderita sulit menggerakkan lengan, kaki dan wajahnya.
Kita juga pernah mendengar Ludwig Van Beethoven, seorang pianis dan komposer terbaik padahal dia seorang yang tuli, juga Steven Wonder penyanyi yang mahir memainkan berbagai alat musik dan piawai mencipta lagu. Padahal dia tuna netra atau Steve Jobs yang ketika sekolah dia menderita kesulitan membaca (disleksia). Namun dunia tahu dialah yang mendirikan Apple Insc. dan membangun Iphone.
“Semoga kisah orang-orang besar yang saya sebutkan di atas bisa menginspirasi Muhammad Dewana Fahrizal. Seperti nasihat ibunya, Daenah kepada Rizal, “Jadikan keterbatasanmu sebagai kelebihan,” kata Sapta sapaan akrabnya usai peluncuran buku. (saprorudin)















