Pelita News | Cirebonkab. — Haul Ki Gede Japura, KH. Hasan Mutohar, serta para sesepuh dan almarhumin warga Japura kembali digelar. Namun, peringatan tahun ini tidak sekadar menjadi agenda untuk mengenang para pendahulu.
Di tengah masyarakat yang terus berubah, haul tersebut menjadi ruang untuk menyambungkan kembali sejarah, tradisi keagamaan, dan hubungan antarsesama warga.
Mengangkat tema “Merawat Sejarah, Mempererat Ukhuwah, Meraih Berkah”, rangkaian kegiatan berlangsung di Masjid Jami Nurul Islah, Desa Japura Kidul, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon, Sabtu (15/8/2026).
Rangkaian acara diawali dengan ziarah ke Makam Ki Gede Japura di Maqbaroh Gedongan, Desa Japura Kidul.
Ziarah menjadi bagian penting dalam tradisi haul. Masyarakat tidak hanya mengenang sosok yang telah wafat, tetapi juga mengingat kembali jejak perjuangan para leluhur yang turut mewarnai perjalanan dakwah Islam di wilayah Japura.
Usai ziarah, masyarakat mengikuti pengajian akbar di halaman Masjid Jami Nurul Islah. Dua ulama hadir memberikan tausiyah, yakni KH. Fahmi Amrullah Hadziq, Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, sekaligus cucu KH. Hasyim Asy’ari, serta KH. Subhan Ma’mun, Pengasuh Pondok Pesantren Assalafiyah Luwungragi, Brebes, Jawa Tengah.
Sesepuh Japura, Kiai Muhammad Jaelani, mengingatkan bahwa haul seharusnya tidak berhenti pada seremoni tahunan.
Menurutnya, momentum tersebut menjadi kesempatan untuk mendoakan para leluhur, sesepuh, dan almarhumin yang memiliki jasa bagi masyarakat Japura.
Lebih dari itu, haul juga menjadi pengingat bagi generasi sekarang tentang bagaimana para pendahulu memperjuangkan dan menyebarkan ajaran Islam di wilayah tersebut.
Karena itu, ia mengingatkan agar pelaksanaan haul tidak bergeser menjadi ajang untuk menunjukkan kebanggaan semata.
“Jangan sampai kita mengadakan acara haul ini untuk bangga-banggaan,” tegasnya.
Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa penghormatan kepada leluhur tidak cukup dilakukan melalui seremoni. Nilai-nilai yang diwariskan justru perlu diteruskan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
Sementara itu, KH. Fahmi Amrullah Hadziq mengajak masyarakat menjadikan haul sebagai momentum memperkuat hubungan kekerabatan.
Dalam kajian At-Tibyan fî Nahyi ‘an Muqatha’atil Arham wal Aqarib wal Ikhwan, ia membahas pentingnya menjaga hubungan dengan keluarga, kerabat dan sesama.
Menurut Kiai Fahmi, memutus tali kekerabatan bukan persoalan sederhana. Hubungan yang dibiarkan renggang dapat berkembang menjadi konflik, perpecahan hingga permusuhan.
Karena itu, ketika hubungan mulai menjauh, masyarakat justru harus mengambil inisiatif untuk menyambungnya kembali.
Silaturahmi, kata dia, membutuhkan kemauan untuk saling mendatangi, berkomunikasi dan membuka ruang pertemuan.
“Harus lebih banyak nyambung silaturahmi dengan siapa pun,” tuturnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak membatasi persaudaraan berdasarkan kelompok maupun lingkungan pergaulan tertentu.
Menurutnya, kehidupan bermasyarakat akan jauh lebih baik jika setiap orang berusaha membangun hubungan dengan semangat persaudaraan.
“Kita itu penting tidak punya musuh. Semuanya harus dijadikan saudara,” ujarnya.
Ketua Panitia Haul, H. Fahmi Tolkha, menyampaikan apresiasi kepada masyarakat, panitia dan seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan.
Ia menyebut keberhasilan acara tersebut tidak terlepas dari kontribusi masyarakat, baik melalui tenaga, doa maupun dukungan lainnya.
“Terima kasih kepada seluruh panitia dan masyarakat yang sudah memberikan sumbangsih, tenaga, doa dan hartanya untuk suksesnya acara ini. Semoga kebaikannya dibalas dengan kebaikan yang berlipat ganda oleh Allah SWT,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan permohonan maaf apabila selama pelaksanaan kegiatan masih terdapat kekurangan.
Pada akhirnya, haul Ki Gede Japura, KH. Hasan Mutohar, serta para sesepuh dan almarhumin warga Japura bukan hanya tentang menengok masa lalu.
Dari makam para leluhur hingga pengajian yang diikuti masyarakat, terselip pesan agar generasi hari ini tidak kehilangan akar sejarah sekaligus tidak kehilangan hubungan dengan sesama.
Sebab, merawat warisan para pendahulu bukan hanya dengan mengingat nama mereka, tetapi juga dengan meneruskan nilai yang mereka tinggalkan: menjaga ukhuwah, memperkuat silaturahmi dan menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.@Bams














