Pelita News | Kab. Kuningan – Di tengah nestapa negeri yang sudah 4 bulan berjibaku dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tak kunjung padam, kabar buruk kembali datang dari atap tertinggi Jawa Barat.
Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) kembali terbakar. Titik api terdeteksi membakar vegetasi hutan di Resort Pasawahan, Kabupaten Kuningan, Rabu malam (21/10/2026) pukul 20.44 WIB.
Ironisnya, kebakaran ini kembali terdeteksi melalui patroli udara rutin Tim SPTN Wilayah I Kuningan. Artinya, sistem deteksi baru bekerja setelah api sudah menyala, bukan pencegahan sejak dini.
Balai TNGC melalui akun @btng_ciremai merilis: “Telah terjadi kebakaran hutan dan lahan di Grid 15 M Resort Pasawahan. Hasil pantauan patroli udara mengonfirmasi api masih menyala.”
Lokasi yang terbakar berada di Grid 15 M, area yang seharusnya menjadi zona prioritas pengamanan. Pertanyaannya, mengapa di musim kemarau yang sudah diprediksi dan di tengah darurat karhutla nasional yang sudah berlangsung berbulan-bulan, TNGC yang merupakan paru-paru Jabar masih juga kecolongan?
Tim Brigdhal Garuda dan Manggala Agni bersama masyarakat memang sudah bergerak cepat malam itu juga. Apresiasi patut diberikan untuk kerja heroik di lapangan yang mempertaruhkan nyawa di medan terjal dan gelap.
Namun kerja heroik di lapangan tidak boleh menutupi lemahnya sistem antisipasi di hulu. Sudah 4 bulan negeri ini mengepung asap, tapi pola penanganan masih sama: padamkan setelah terbakar. Padahal pencegahan, penyekatan, dan patroli darat intensif jauh lebih murah daripada memadamkan gunung yang sudah membara.
Jika Gunung Ciremai sebagai kawasan konservasi nasional saja terus berulang terbakar setiap tahun, apa kabar komitmen kita menjaga hutan sebagai benteng terakhir kehidupan?
Publik menunggu bukan hanya rilis titik api, tapi penjelasan transparan: apa penyebabnya, berapa luas terbakar, dan apa langkah pencegahan permanen agar Grid 15 M Pasawahan tidak kembali masuk daftar titik api berikutnya.
Jangan sampai Gunung Ciremai hanya menjadi berita kebakaran musiman, yang datang setiap kemarau dan hilang bersama hujan, tanpa solusi. @Ries














