Pelita News | Kota Cirebon — Musim kemarau tahun 2026 diperkirakan akan datang lebih cepat dan berlangsung lebih panjang dengan suhu yang lebih panas dibandingkan pada tahun sebelumnya. Kondisi ini tentunya akan sangat berdampak langsung terhadap sektor pertanian, khususnya ketersediaan air bagi para petani.
Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk Cisanggarung (Cimancis), Dwi Agus Kuncoro mengungkapkan, mengacu pada kondisi yang terjadi pada tahun 2025, pemerintah melalui Balai Besar Wilayah Sungai mulai melakukan berbagai langkah antisipasi untuk mengurangi dampak kekeringan yang diprediksi mencapai puncaknya pada Agustus 2026 mendatang.
“Salah satu langkah yang dilakukan adalah menyiapkan berbagai peralatan penanganan kekeringan, seperti pompa air khusus kekeringan, drone penyiram air, Sprinkler, hingga alat pengebor sumur dangkal dengan kemampuan mencapai kedalaman hingga 60 meter,“ ungkapnya.
Selain itu, BBWS juga telah melakukan pengembangan pompa kekeringan berbasis tenaga surya yang dapat dimanfaatkan oleh petani. Peralatan tersebut dapat dipinjam secara gratis oleh kelompok tani yang membutuhkan, meskipun saat ini jumlah unit yang tersedia masih terbilang terbatas.
“Petani bisa meminjam pompa secara gratis, namun unitnya masih terbatas. Sistemnya nanti bergiliran, misalnya digunakan selama satu minggu kemudian dipindahkan ke wilayah lain yang membutuhkan,“ jelas Agus Kuncoro.
Agus Kuncoro kembali menjelaskan, untuk saat ini BBWS baru memiliki tiga unit pompa kekeringan hasil pengembangan secara mandiri. Keterbatasan tersebut disebabkan oleh keterbatasan anggaran dalam pengadaan bahan dan peralatan. Namun pada tahun 2026 ini, pihaknya telah menargetkan penambahan jumlah unit pompa agar dapat menjangkau lebih banyak wilayah pertanian yang rawan kekeringan.
“Idealnya, setiap daerah irigasi memiliki minimal tiga unit pompa. Dengan kewenangan pengelolaan di delapan daerah irigasi, maka kebutuhan pompa diperkirakan mencapai sekitar 24 unit agar penanganan kekeringan bisa lebih maksimal,“ ujarnya, Kamis (12/3/2026).
Selain pompa, pengelolaan embung dan bendungan juga akan disinergikan untuk menjaga ketersediaan air selama musim kemarau. Mengingat terdapat beberapa wilayah yang belum terlayani jaringan bendungan, sehingga potensi kekeringan masih terbilang cukup tinggi.
“Beberapa daerah yang dinilai masih rawan kekeringan di antaranya wilayah hilir Majalengka serta sebagian kawasan Cirebon Timur. Di daerah tersebut, sumber air masih terbatas karena jarak dari bendungan cukup jauh dan kapasitas tampungan air relatif minim,“ terang Agus Kuncoro.
Agus Kuncoro pun membeberkan upaya lain yang akan dilakukan melalui pemanfaatan sumur dangkal dengan kedalaman sekitar 10 meter menggunakan pompa tenaga surya untuk skala kecil. Menurutnya, cara ini dinilai cukup membantu memenuhi kebutuhan air di lahan pertanian saat musim kemarau.
“Pengalaman tahun lalu menunjukkan langkah-langkah tersebut cukup efektif. Seperti di daerah Brebes, petani bahkan mampu melakukan tanam hingga tiga kali dalam setahun berkat dukungan pompa air dan pengelolaan irigasi yang lebih baik,“ imbuhnya.
Pemerintah berharap dengan penambahan peralatan serta sinergi antara embung, pompa air dan bendungan, akan dapat memenuhi kebutuhan pasokan air bagi petani hingga akhir musim kemarau.
“Dengan dukungan infrastruktur dan peralatan yang ada, kami optimistis kebutuhan air pertanian masih bisa terpenuhi hingga akhir tahun, termasuk sampai Bulan Desember nanti,“ jelas Agus Kuncoro. @Ries















