
Cerita Sudarno, dari Master Plan yang Ditentang Masyarakat hingga Miliaran Rupiah Mengalir ke Desa Cemara Kulon
Oleh Saprorudin
Melihat peluang posisi strategis desa di wilayah pesisir laut dan ketersediaan lahan yang belum dimanfaatkan di area sepanjang tanggul Sungai Blendung secara optimal, Pemerintah Desa, Desa Cemara Kulon, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, berencana akan menyulap lokasi tersebut menjadi lokasi pembangunan agro-eduwisata berbasis masyarakat. Agar arah pembangunannya tepat sasaran, Pemdes setempat membuat Masterplan Desa Wisata “Taman Cemara Kulon”, dengan sumber pendanaan dari APBDes TA 2023 sebesar Rp77 juta.
Sayang, meski secara umum, masyarakat mendukung gagasan tersebut, namun mereka menentang kalau pembuatan masterplan di anggarkan dari APBDes. Mereka beralasan, dana sebesar itu akan lebih bermanfaat, kalau untuk mendanai pembangunan insfrastruktur desa dan manfaatnya, bisa dirasakan langsung oleh masyarakat.
Menyikapi hal tersebut, Kepala Desa/Kuwu Cemara Kulon, Sudarno dan perangkatnya, tidak putus asa, secara massif mensosialisakan manfaat masterplan untuk sebuah perencanaan pembangunan desa. Dari buah kegigihannya itu, perlahan namun pasti, masyarakat menerima dan mendukung rencana tersebut.
“Berbekal masterplan itu, miliaran rupiah mengalir ke Desa Cemara Kulon,” kata Sudarno, disela-sela kujungan tim Communication, Relations, & CID (Community Involvement and Development) PT Pertamina Hulu Energi Offshore Northwest Java (PHE ONWJ), di lokasi budidaya lebah madu, kompleks, Taman Cemara Kulon, belum lama ini.
Ia mengaku bersyukur, berbekal masterplan itu, banyak pihak yang memberikan dukungan untuk mewujudkan cita-citanya, di antaranya dari PHE ONWJ, Yayasan Baitul Maal, PLN Nusantara Power (PLN NP), YBM BRILiaN serta dinas dan instansi terkait. Kemudian adanya dukungan dari Penyuluh Kehutanan Wilayah Kecamatan Losarang, Bongas, Gabuswetan, dan Kecamatan Cantigi, Cabang Dinas Kehutanan Wilayah IX, Provinsi Jawa Barat, yang terus melakukan pendampingan.
Sudarno menceritakan, awal mula pihaknya membuka dan mengembangkan lahan tersebut, terinspirasi dari kondisi wilayah Desa Cemara Kulon yang sebagian besar merupakan kawasan pesisir dengan karakteristik tanah asin. Kondisi tersebut membuat tidak banyak lahan yang bisa dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian.
Kebetulan, di desanya, ada lahan berupa semak belukar di bantaran Sungai Blendung, yang belum dimanfaatkan secara optimal selama puluhan tahun. Dari kondisi itulah, pihaknya memiliki cita-cita untuk mengubahnya menjadi ruang terbuka hijau yang produktif dan mudah-mudahan ke depan dapat dikembangkan menjadi kawasan wisata Taman Cemara Kulon.
Dari perencanaan awal, sejak 2023, pihaknya mulai merancang kawasan ini dengan menanam berbagai pohon produktif, seperti mangga, jambu, dan sawo. Selain itu, pihaknya juga mengembangkan tanaman hortikultura, di antaranya cabai, melon, dan semangka serta mencoba membudidayakan lebah madu.
”Semua ini kami lakukan untuk memotivasi dan menyemangati masyarakat agar semakin rajin menanam serta memanfaatkan lahan yang tersedia. Harapannya, lahan yang sebelumnya tidak produktif dan terbengkalai bisa menjadi lahan yang bermanfaat, bahkan menjadi ladang ibadah bagi kita semua,” ucapnya.
Hanya saja, karena lokasi desanya berada di kawasan pesisir dengan karakteristik tanah asin, maka harus dicarikan air tawar untuk penyiraman tanaman. Tanaman akan mati kalau tidak disiram, terutama saat musim kemarau. Gayung bersambut, PHE ONWJ, selain mendatangkan bibit tanaman produktif, stup madu juga dibuatkan sumur bor plus pemasangan paralon untuk penyiraman.
Paralon itu, ditarik lurus sepanjang areal tanaman untuk memudahkan penyiraman, dan di setiap gundukan tanaman diberi lubang. Tujuannya, agar air mengalir dengan sendirinya ketika mesin penyedot air dihidupkan.
Meski demikian, kendala masih belum selesai, karena sumur bor dengan mesin sedot yang digerakan oleh listrik membutuhkan biaya bulanan yang lumayan besar, seiring banyaknya tumbuhan dan vegetasi yang di siram. Sekira jutaan rupiah untuk membayar bulanan token listrik. Melihat gambaran itu, PHE ONWJ, kembali hadir dan langsung mendatangkan seperangkat alat Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
“Dengan adanya PLTS, kami tidak lagi dibebani tagihan bulanan listrik,” ucapnya bersyukur.
Ia tidak menampik, sebelum membuka dan mengembangkan lahan itu, pihaknya berkonsultasi dengan tenaga ahli yang memiliki pengalaman dalam merancang desa wisata. Mereka diundang untuk melihat langsung kondisi kawasan, sekaligus berdiskusi mengenai potensi pengembangannya.
Berdasarkan kajian dan pandangan akademis, kawasan ini, dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan. Nah, berbekal kajian dan pandangan akademis itu, pihaknya kian optimis untuk menyulap lahan tidur menjadi lokasi pembangunan agroeduwisata. Dan sebagai dasar pembangunannya, pada tahun 2023 pihaknya menyusun masterplan atau rencana induk desa wisata.
“Alhamdulillah, dukungan masyarakat terhadap upaya ini sangat luar biasa. Tanpa dukungan masyarakat, tentu pengembangan kawasan ini akan sulit berjalan dengan baik. Partisipasi dan kebersamaan masyarakat menjadi modal penting bagi kami untuk terus melangkah,” tutupnya.
Menggutip masterplan itu, konsep pengembangan, Taman Cemara Kulon sebagai Eko-Agrowisata Berbasis Masyarakat, dengan Visi, Menciptakan Kawasan Desa Wisata “Taman Cemara Kulon” yang Aspiratif Berbasis Pendidikan, Pelestarian Alam, Mandiri, Produktif dan Berkelanjutan.
Budidaya Lebah Madu tanpa Sengat
Officer Communication, Relations & CID, PHE ONWJ, Putri Nauli Marpaung, mengaku kaget saat melihat langsung masterplan yang dibuat Pemdes Cemara Kulon. Konsepnya jelas dan dibuat sangat detail, mulai dari identifikasi wilayah, konsep pengembangan, rencana pengembangan hingga pola pemasaran desa wisata.
Menindaklanjuti masterplan itu, pihaknya survai ke lokasi. Berdiskusi bersama Pemdes, Kelompok Tani Hutan (KTH), Penyuluh Cabang Dinas Kehutanan Wilayah IX, Provinsi Jawa Barat dan pihak lainnya. Kemudian menanyakan hal mendesak apa yang harus dikerjakan awal. Nah, dari hasil diskusi dan survai lokasi hingga ke pinggir laut itu, pihaknya melakukan perencanaan untuk budidaya lebah madu.
Sebelum diterapkan, pertama yang dilakukan pihaknya, adalah harus ada pembinaan dan pembekalan terlebih dahulu, karena menurutnya, tanpa pembekalan akan sia-sia. Alasannya, KTH belum paham dengan budidaya madu, tidak familier dengan cuaca panas, serta jenis madu apa yang akan dibudidayakan.
Dari perencanaan itu, akhirnya dipilihlah sala satu peternakan lebah madu di Bogor yang dijadikan sebagai tempat pelatihan. Kebetulan, di Bogor ada tempat pelatihan khusus lebah madu tanpa sengat, yakni, jenis triguna itama. Menurutnya, jenis lebah tersebut, disamping kaya akan manfaat juga tidak menyengat ketika dibudidayakan.
Setelah masyarakat yang tergabung dalam KTH mengikuti pelatihan, memahami praktik dan teori budidaya lebah madu, pihaknya, tidak langsung mendatangkan stup atau kotak/peti buatan yang digunakan sebagai rumah atau sarang tiruan bagi koloni lebah madu. Vegetasinya harus dipersiapkan terlebih dahulu. Sebab percuma mendatangkan madu, tetapi vegetasinya belum ada, perkembangannya akan tersendat.
“Selanjutnya, kami bersama Pemdes Cemara Kulon dan KTH memperbanyak penanaman vegetasi sebagai sumber makanan lebah,” kata Mbak Putri, sapaan akrab Putri Nauli Marpaung, dengan gestur mengenang masa awal pihaknya datang ke Desa Cemara Kulon.
Semua pihak saling support, PHE ONWJ, Dinas Kehutanan Jawa Barat melalui petugas lapangan yang ahli di bidang tumbuh-tumbuhan dan mempunyai pengalaman yang banyak tentang budi daya lebah, pertama, untuk memperbanyak vegetasi, kedua, disiapkan tempat lebah dan stup madu didatangkan.
Semua bisa berjalan baik, walaupun ditengah perjalanan ada saja kendalanya. Seperti saat ini, musim kemarau ekstrem. Ya, meski tidak seperti saat musim hujan namun lebah masih bertahan meski produksi madunya berkurang.
Mbak Putri menceritakan sejarah awal, pihaknya datang ke Cemara Kulon, disini merupakan kantong-kantong nelayan, dan daerah operasional PHE ONWJ, ada di tengah laut, dan setiap hari bertemu dengan nelayan. Jadi, tetangga terdekat daerah operasinya adalah nelayan, sala satunya, adalah nelayan dari Desa Cemara Kulon. Pihaknya harus merangkul masyarakat/nelayan agar operasional berjalan baik.
Kemudian Ketika segala sesuatu yang didukungnya bisa bermanfaat bagi warga, itu juga merupakan sesuatu amal ibadah, dan itu membuatnya lebih semangat lagi
“Itu bisa dikatakan simbiosis mutualisme, kita sering ke sini dan nelayan juga tahu kita ada di tengah-tengah laut. Kita saling mendukung dan saling menjaga dan selama ini, tidak ada kejadian-kejadian atau persinggungan di tengah laut,” pungkasnya.
Sala satu anggota KTH Desa Cemara Kulon, Kadori membenarkan awal mencoba budidaya lebah madu sekitar tahun 2023. Saat itu, masih sebatas uji coba karena belum memiliki banyak pengetahuan dan pengalaman tentang budidayanya.
Pihaknya tidak paham bagaimana proses adaptasi lebah terhadap kondisi lingkungan di sini, terutama cuaca yang panas. KTH juga sudah mencoba menanam berbagai jenis vegetasi dan mencari tanaman lain yang cocok dengan kondisi lahan, tetapi tidak semuanya mampu bertahan karena suhu yang cukup tinggi.
Pada awalnya, karena keterbatasan biaya, hanya memiliki satu hingga dua kotak sarang lebah. Kemudian, ketika ada kunjungan dari PHE ONWJ, pihaknya mendapat dorongan untuk mengembangkan budidaya agar jumlah koloni lebah bisa ditambah.
Ia juga membenarkan mendapat kesempatan mengikuti studi banding ke Bogor. Dari kegiatan tersebut, pihaknya mulai memperoleh pengetahuan tentang cara membudidayakan dan merawat lebah madu.
“Ilmu yang kami dapatkan, kemudian kami terapkan secara bertahap di sini,” ucapnya.
Seiring berjalannya waktu, saat ini, terdapat sekitar 15 kotak sarang lebah yang sudah berisi koloni. Meski demikian, produksi dari setiap kotak tidak selalu sama. Apalagi pada musim kemarau seperti saat ini, cuaca panas membuat produksi madu menurun. Dalam kondisi tertentu, satu kotak sarang bisa menghasilkan sekitar satu hingga dua liter madu, bahkan tiga sampai empat liter ketika produksinya sedang bagus. Namun, hasil tersebut tidak selalu bisa diperoleh karena sangat bergantung pada kondisi cuaca dan ketersediaan pakan lebah.
Untuk pemasarannya, selama ini masih banyak dibeli oleh orang-orang dari lingkungan PHE ONWJ. Madu dijual dalam kemasan berukuran 100 mililiter dengan harga Rp50.000. Permintaan biasanya datang secara bertahap, sehingga produksi yang terbatas masih bisa disesuaikan dengan pesanan.
“Meskipun menghadapi berbagai kendala, kami tetap berusaha mempertahankan budidaya ini. Kami merasa sayang, jika usaha yang sudah dirintis sejak awal, termasuk penanaman vegetasi dan perawatan kawasan, harus ditinggalkan begitu saja. Karena itu, dalam kondisi apa pun, kami berupaya agar usaha ini tetap berjalan dan bisa berkembang,” tandasnya. (***)













