Pelita News | Cirebon Timur – Banjir rob atau banjir akibat pasang air laut adalah fenomena alam yang perlu ditangani dengan antisipasi dan mitigasi yang tepat. Pencegahan dan penanggulangannya melibatkan berbagai upaya, mulai dari pembangunan infrastruktur hingga pengelolaan ekosistem pesisir.
Banjir rob fenomena alam di mana air laut meluap ke daratan, terutama di wilayah pesisir, saat air laut pasang tinggi. Fenomena ini terjadi karena kombinasi faktor alam seperti pasang surut air laut, tekanan udara, dan angin, serta faktor manusia seperti penurunan muka tanah, erosi pantai, dan kerusakan hutan mangrove.
Seperti yang diungkapkan Wa Durji, akhir-akhir ini masyarakat pesisir pantai sering di risaukan oleh banjir rob yang datang hampir setiap pertengahan bulan. Hal ini akibat dari gravitasi bulan dan matahari terhadap bumi.
“Dulu masyarakat pesisir (nelayan), banjir rob biasanya ada di pertengahan bulan Agustus – September. Karena di dua bulan ini cuaca panas, suhunya bisa mencapai 25 °c – 32°c bahkan lebih,“ ungkapnya.
Kemudian Wa Durji kembali menjelaskan, pada posisi bulan, matahari dan bumi berjajar secara bersamaan. Sehingga air laut meningkat pasang dan menimbulkan banjir rob, masyarakat nelayan biasa menyebutnya mangsa peteruh (pasang purnama).
“Sekarang banjir rob tidak dapat di prediksi, sering kali terjadi bukan saja di bulan tertentu melainkan hampir di tiap pertengahan bulan, ini sebuah fakta,“ terangnya.
Bahkan menurut BMKG, banjir rob yang sering terjadi bukan saja di sebabkan oleh gravitasi bulan dan matahari terhadap bumi, namun juga di sebabkan pemanasan global sehingga kutub utara dan kutub selatan gletsernya mencair ke lautan kemudian menghasilkan volume air meningkat dan terjadilah air pasang atau banjir rob.
“Banjir rob tidak dapat di hindari, dampaknya masyarakat akan sangat merugi. Contohnya seperti tanggul tambak budidaya banyak yang jebol, akses jalan tidak dapat di lewati karena faktor banjir, aktivitas penduduk terhambat bahkan rumah banyak yang terendam,“ papar pria kelahiran asli Cirebon Timur ini.
Ia pun menyampaikan harapan masyarakat, agar banjir rob tidak sering terjadi, sehingga aktivitas warga tidak terhambat dan petani budidaya tambak akan tetap aman.
“Tentunya dalam menghadapi persoalan ini tidak lepas dari adanya dukungan dan peran serta pemerintah dalam mengantisipasi sedini mungkin, agar persoalan banjir rob dapat di minimalisir. Bila harapan ini terealisasi, maka masyarakat pesisir akan sangat merasa senang dan tenang,“ tuturnya. @Ries















