Pelita News | Kab. Cirebon – Distribusi program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMAN 1 Lemahabang Kabupaten Cirebon kembali menjadi sorotan. Pada Rabu (7/10/2026) kemarin, sebanyak 583 porsi MBG dilaporkan terlambat tiba hingga pukul 15.00 WIB, saat jam pelajaran telah usai atau siswa sudah pulang sekolah.
Keterlambatan tersebut terekam dalam video yang beredar dan diterima redaksi, di mana petugas SPPG Cipeujeuh Wetan terlihat membawa kembali ompreng yang masih tertumpuk di teras sekolah yang sudah sepi. 583 ompreng dibawa balik utuh. Mubazir. Anggaran negara menguap.
Atas kejadian ini, pihak SPPG Cipeujeuh Wetan, Kecamatan Lemahabang memberikan klarifikasi resmi terkait insiden tersebut.
Kepala SPPG Lemahabang Cipeujeuh Wetan, Sudradjat Budiman, SH menyatakan, setiap keluhan menjadi bahan evaluasi.
“Setiap keluhan selalu kami catat, tindak lanjuti, dan jadikan bahan evaluasi demi perbaikan berkelanjutan,“ ujarnya.
Terkait 583 porsi yang terlambat, ia menjelaskan:
“Alhamdulillah, seluruh paket makanan tetap tersalurkan dan pihak SPPG sudah memasak sesuai jumlah porsi MBG pada siswa SMAN 1 LEMAHABANG, terkirim 800 dan ada siswa yang terlewat sejumlah 583 dan sudah kami antar 583 ini namun menurut pihak sekolah peserta didik sudah keburu pulang,“ ungkap Sudradjat Budiman.
Sudrajat Budiman juga memaparkan kendala teknis di balik keterlambatan tersebut, yaitu metode pengukusan menu yang memerlukan waktu lebih.
“Untuk menjaga ketersediaan variasi menu harian yang kaya gizi, setiap harinya terdapat penyesuaian teknik pengolahan. Pada hari tersebut, menu yang disajikan banyak menggunakan metode pengukusan (seperti dimsum, kentang, dan wortel). Metode ini kami pilih secara sengaja karena merupakan cara paling aman untuk menjaga kualitas makanan matang secara merata tanpa mengurangi nilai gizi bahan makanan secara signifikan,“ terangnya.
Namun, dalam prosesnya, tim di lapangan menghadapi kendala teknis penunjang operasional, seperti gas yang mengalami pembekuan serta proses penyesuaian intensitas api pada tungku kompor saat pergantian tabung baru yang memakan waktu lebih dari biasanya demi memastikan standar keamanan pangan tetap terpenuhi.
“Pihak SPPG berkomitmen melakukan perbaikan dengan mempercepat jadwal persiapan,“ imbuh Sudradjat Budiman, Kamis (08/10/2026).
Namun, penjelasan tersebut memunculkan pertanyaan baru mengenai kesiapan operasional.
Kondisi ini menjadi catatan penting. Dapur SPPG yang melayani ribuan porsi setiap hari dituntut memiliki manajemen risiko yang matang, termasuk ketersediaan tabung gas cadangan untuk mengantisipasi fenomena pembekuan gas yang lazim terjadi pada pemakaian intensitas tinggi.
Sebelumnya, Wakasek Humas SMAN 1 Lemahabang, Budiyanto, S.Pd., M.Pd.I, mengungkapkan bahwa keterlambatan bukanlah hal baru.
“Kami sering mengingatkan SPPG untuk evaluasi dan tepat waktu dalam distribusi MBG. Kalau yang terlambat sampai bubar sekolah baru terjadi Rabu kemarin, tapi kalo yang mepet jam 14.00 WIB sering terjadi,“ kata Budiyanto, Kamis (08/10/2026).
Ia menambahkan, pernah terjadi satu kelas tidak kebagian MBG sehingga jatah Wakil Kepala Sekolah harus direlakan untuk para siswa.
Di sisi lain, siswa merasakan langsung dampaknya. Pelita Bintan Kamila, Siswi Kelas XE2, mengaku telah menunggu sejak jam istirahat.
“Kami sudah menunggu dari jam istirahat, tapi MBG tidak datang-datang. Pas datang jam 3 sore, kami sudah pulang. Kami sangat kecewa dengan keterlambatan distribusi MBG dan meminta keseriusan SPPG dalam pelayanan pemenuhan gizi untuk pelajar secara profesional sesuai tujuan program,“ ujarnya.
Secara SOP Badan Gizi Nasional (BGN), makanan MBG idealnya dikonsumsi maksimal 2 jam setelah tiba di lokasi untuk menjaga keamanan pangan. Jika tiba pukul 15.00 WIB saat siswa sudah pulang, distribusi menjadi tidak efektif dan berpotensi mubazir.
Dalih kukusan dimsum untuk jaga gizi memang terdengar mulia. Tapi profesionalisme dapur MBG diukur dari manajemen risiko. Dapur yang melayani 1000-3000 porsi wajib punya tabung cadangan. Kalau satu tabung beku, tabung lain harus ready. Bukan malah 583 anak jadi korban eksperimen menu.
Ini bukan soal gas beku. Ini soal manajemen beku. Perencanaan beku. Empati beku.
Kini publik menanti langkah evaluasi dari BGN Kabupaten Cirebon untuk memastikan program prioritas Presiden ini berjalan tepat waktu dan tepat sasaran. Program Presiden Prabowo untuk gizi anak bangsa jangan dirusak oleh SPPG yang tidak disiplin waktu. BGN Cirebon harus turun tangan. Evaluasi total SPPG Cipeujeuh Wetan agar tidak merugikan kembali 583 siswa yang seharusnya menerima hak gizinya kemarin. @Ries











