Pelita News | Cirebonkab. – Ribuan cahaya obor membelah gelap malam di Desa Bakung Kidul dan Bakung Lor, Kecamatan Jamblang, Kabupaten Cirebon, saat masyarakat menggelar pawai obor menyambut malam 1 Suro. Tradisi yang telah berlangsung turun-temurun itu bukan sekadar seremoni budaya, melainkan menjadi ruang refleksi tentang sejarah, identitas, dan masa depan masyarakat Cirebon.
Lautan api kecil yang bergerak menuju Situs Ki Gede Surang menciptakan pemandangan yang memikat. Anak-anak berjalan berdampingan dengan orang tua mereka, para pemuda mengawal barisan, sementara tokoh masyarakat dan sesepuh desa menyatu bersama warga tanpa sekat.
Suasana khidmat terasa sepanjang perjalanan. Bagi masyarakat Bakung, malam 1 Suro bukan hanya penanda pergantian tahun dalam kalender Jawa maupun Tahun Baru Islam. Momentum tersebut menjadi pengingat akan pentingnya menjaga warisan leluhur di tengah derasnya arus perubahan zaman.
Ketua Komisi II DPRD Jawa Barat, Bambang Mujiarto, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut menilai tradisi dan modernitas tidak seharusnya dipertentangkan. Menurutnya, kemajuan akan memiliki arah yang jelas apabila masyarakat tetap berpijak pada nilai-nilai sejarah dan budaya yang diwariskan para pendahulu.
“Sejarah adalah akar yang membuat kita tetap berdiri kokoh. Sementara masa depan adalah tujuan yang harus kita capai bersama,” kata Bambang di sela kegiatan.
Menurut dia, malam 1 Suro menjadi momentum untuk merenungkan perjalanan hidup manusia. Apa yang dilakukan hari ini, lanjutnya, akan menjadi bagian dari sejarah yang kelak dikenang oleh generasi berikutnya.
Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, Bambang menegaskan budaya tetap memiliki peran penting sebagai penjaga identitas masyarakat. Teknologi dapat berubah dan berkembang, namun nilai-nilai budaya menjadi fondasi yang menjaga karakter dan jati diri bangsa.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan di tengah keberagaman pandangan yang tumbuh dalam masyarakat. Menurutnya, perbedaan tradisi maupun cara pandang bukan alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan yang dapat memperkaya kehidupan sosial masyarakat Cirebon.
Ribuan warga yang berjalan bersama dalam pawai obor malam itu menjadi simbol kuat bahwa kebersamaan masih hidup dan terawat di tengah masyarakat.
Bambang turut mengangkat kembali pesan luhur peninggalan Sunan Gunung Jati yang hingga kini masih dikenal luas di Cirebon, yakni “Ingsun Titip Tajug lan Fakir Miskin”. Menurutnya, pesan tersebut tidak hanya bermakna menjaga rumah ibadah dan membantu masyarakat kurang mampu, tetapi juga mengandung nilai tentang pentingnya persatuan, pendidikan, moralitas, dan kepedulian sosial.
“Tajug bukan sekadar bangunan fisik, melainkan simbol nilai dan ruang pemersatu masyarakat. Sedangkan fakir miskin adalah pengingat bahwa kepedulian terhadap sesama harus terus dijaga,” ujarnya.
Ia menilai tantangan pembangunan saat ini tidak hanya berkaitan dengan infrastruktur, tetapi juga bagaimana membangun solidaritas sosial dan menghadirkan keadilan bagi seluruh lapisan masyarakat.
Sebagai putra daerah yang lahir dan besar di Bakung, Bambang mengaku memiliki ikatan emosional yang kuat dengan kampung halamannya. Ia menyebut Bakung sebagai desa yang memiliki sejarah panjang dan melahirkan banyak tokoh yang berkontribusi bagi pembangunan daerah.
Menurutnya, kebanggaan terhadap sejarah tidak boleh berhenti pada cerita masa lalu. Warisan tersebut harus menjadi energi untuk membangun masa depan yang lebih baik bagi Desa Bakung maupun Kabupaten Cirebon.
Malam kian larut ketika ribuan warga tiba di Situs Ki Gede Surang. Namun nyala obor masih bertahan menerangi perjalanan. Di bawah langit Bakung yang tenang, tradisi itu seolah menyampaikan pesan sederhana yang relevan hingga hari ini: kemajuan tidak harus menghapus budaya, dan modernitas tidak harus memutus hubungan dengan sejarah.
Dari pawai obor malam 1 Suro itu, masyarakat Bakung menunjukkan bahwa masa depan yang kuat hanya dapat dibangun oleh mereka yang tetap menjaga akar budayanya. Sebuah pesan tentang persatuan, kemanusiaan, dan harapan yang terus menyala, seterang obor-obor yang menerangi malam di tanah Cirebon.@Bams














