Pelita News Kabupaten Cirebon
Permasalahan limbah kerang yang menumpuk di lingkungan Desa Karangreja Kecamatan Suranenggala Kabupaten Cirebon menjadi perhatian mahasiswa PPG prodi PGSD Universitas Swadaya Gunung Jati. Melalui kegiatan Proyek Kepemimpinan, mereka hadir membawa solusi sederhana namun potensial dengan mengolah limbah kerang menjadi aksesoris bernilai jual.
Desa Karangreja dikenal sebagai sentra pengepul kerang, sebagian besar warganya berprofesi sebagai meka (pengepul) yang setiap hari bergelut dengan hasil laut, khususnya kerang. Sayangnya, limbah cangkang kerang yang dihasilkan dari aktivitas ini kerap dibiarkan menumpuk dan tercecer di sekitar lingkungan, sehingga menimbulkan pencemaran dan kesan kumuh.
Melihat persoalan tersebut, mahasiswa peserta mata kuliah Proyek Kepemimpinan melakukan observasi dan dialog dengan warga, dari hasil pengamatan tersebut, muncullah ide untuk mengubah limbah kerang menjadi barang kerajinan tangan seperti gantungan kunci, bros, asbak dan aksesoris lainnya.
“Kami melihat bahwa potensi kerang di desa ini luar biasa besar. Sayangnya, limbahnya belum dikelola dengan baik. Maka kami hadir mencoba memberikan solusi kecil dengan mengedukasi warga cara memanfaatkannya menjadi aksesori sederhana,” ujar salah satu mahasiswa pelaksana.
Kegiatan pelatihan dilaksanakan pada 24 Februari 2025 di Balai Desa Karangreja dengan melibatkan ibu-ibu PKK dan warga sekitar. Mereka diajarkan teknik dasar membersihkan, melubangi, dan merakit kerang menjadi aksesori unik. Meskipun masih berskala kecil, kegiatan ini mendapat sambutan hangat dari warga.
Ibu Kuwu Desa Karangreja, Ibu Juhaeni, mengapresiasi langkah mahasiswa yang dinilainya sangat relevan dengan kondisi masyarakat.
“Kami sangat terbantu dengan adanya pelatihan ini. Warga jadi tahu bahwa limbah kerang yang biasanya dibuang begitu saja, ternyata bisa diolah jadi sesuatu yang menarik dan bisa dijual. Harapannya ke depan bisa dikembangkan lebih besar,” ungkapnya.
Melalui proyek ini, para mahasiswa tidak hanya mengasah kemampuan kepemimpinan mereka, tetapi juga turut serta menciptakan dampak sosial dan lingkungan di tengah masyarakat. Mereka berharap pelatihan ini bisa menjadi langkah awal menuju pengelolaan limbah yang lebih berkelanjutan dan mendukung ekonomi lokal.(*)
















