Pelita News, Indramayu
Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Cantigi menggelar kegiatan Penyuluhan Pertanian Musim Tanam 2022/2023.
Kegiatan Penyuluhan Pertanian yang dihadiri oleh Forkopimcam Cantigi, Kuwu Cantigi Wetan, Koordinator BPP Kecamatan Cantigi, Penyuluh Pertanian Lapangan, Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), Pengamat Pengairan, Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) dan petani Desa Cantigi Wetan ini dipusatkan di Kantor Desa Cantigi Wetan, Rabu (21/12/2022).
Pada penyuluhan itu para petani siap melaksanakan anjuran untuk meningkatkan produktivitas padi.
Koordinator BPP Kecamatan Cantigi Sujana menyampaikan, dari evaluasi hasil panen musim gadu, hasilnya kurang maksimal dikarenakan adanya gangguan hama dan penyakit yang menyerang pertanaman, diantaranya yaitu penggerek batang padi putih karena sundep dan beluk, penyakit blas yang disebabkan oleh jamur, wereng dan keresek.
Syjana mengimbau untuk musim tanam rendeng Tahun 2022/2023 petani harus lebih waspada dan teliti dalam menangani hama penyakit yang menyerang pertanaman.
“Untuk pengendalian hama penggerek batang padi putih harus dari mulai persemaian dengan bumbung konservasi untuk membunuh larva penggerek dan membiarkan hidup predator dan parasitnya. Sedangkan untuk pengendalian penyakit blas harus dimulai dari pertumbuhan vegetatif. Jangan mengendalikan di saat generatif, bisa dikatakan ini sangat terlambat,” kata Sujana dalam keterangannya.
Sujana juga mengatakan, upaya meningkatkan ketahanan pangan di Kabupaten Indramayu menjadi tugas bersama serta harus mencari upaya-upaya untuk mengatasi permasalahan lahan pertanian yang semakin berkurang.
“Ketahanan pangan itu tugas kita bersama dan bagaimana agar masyarakat tetap makan nasi sedangkan lahan semakin berkurang. Salasatu caranya adalah dengan upaya intensifikasi dan ekstensifikasi,” tegasnya.
Menurutnya, upaya intensifikasi dimulai dari yang dikenal dengan panca usaha tani, insus, supra insus sampai kemudian pada teknologi Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT).
Selain itu, upaya ekstensifikasi ini telah dilaksanakan dengan mengubah dari lahan non produktif menjadi produktif serta usaha menambah luas panen.
“Yang dulunya hanya sekali panen, sekarang diusahakan jadi dua kali panen, tiga kali panen dan seterusnya,” ujarnya.
Sementara itu dalam menyikapi dampak dari kemarau basah dan antisipasinya, perlu ketersediaan air irigasi, budidaya padi sesuai anjuran, pengendalian hama atau penyakit terpadu, sosialisasi kartu tani untuk pupuk subsidi, Asuransi Usaha Tanaman Pangan (AUTP) maupun PUSPA. (saprorudin)















