Seni Berokan ini sudah ada sejak zaman Hindu Budha, nama Berokan itu berasal dari kata Barongan itu terlihat dari cara memanggil Berokan dengan kata “ Rong “ yang artinya Barong atau Barongan, demikian menurut Budayawan Indramayu Supali Kasim. Di zaman Hindu Budha Berokan ini dijadikan media ritual. Supali Kasim menambahkan, Seni Berokan ini di masa Islam terus berkembang dan jadikan media dakwah oleh Sunan Gunung Jati atau Mbah Walangsungsang. Sementara dari sisi sosiologi Berokan ini oleh masyarakat dijadikan ritual untuk membuang sial atau mengusir wabah. Misalnya disaat adanya pandemic Berokan ini melakukan masuk ke dalam rumah untuk mengusir pandemi atau wabah yang ada di rumah itu dengan mengambil Bantal ( kengulu.red ) dan membuangnya ke atas genting rumah itu. Sedangkan dilihat dadi sesi estetika Berokan ini baik dari pertunjukannya atau bentuk berokan ini memiliki seni estetika yang tinggi. Dari bentuknya, berokan ini badannya menggunakan karung dan
dipunggungnya menggunakan kulit kambing. Sementara kepalanya berbentuk binatang buas yang menakutkan. Ada yang berbentuk buaya, harimau atau singa. Sementara aktraksinya menunjukkan sesuatu yang lucu dan menyenangkan, demuikian penjelasan Supali Kasim
Sementara itu menurut Budayawan dan Ketua Kontak Tani Nelayan Indramayu, Dasma Adiwijaya mengatakan, Seni Berokan itu memiliki makna yang sangat dalam. Berokan itu terdiri dari dua suku kata Ber dan Rok serta mendapatkan aklhiran an. Ber artinya membuka sedangkan Rok itu berasal dari kata ruh. Jadi disini Berokan memiliki makna membuka ruh yang berkaitan dengan kehidupan manusia. Dasma Adiwijaya menambahkan Berokan itu kepalanya terbuat dari kayu begitu pula dengan ekornya. Ini menunjukkan kepala harus hidup begitu pula ekor juga harus hidup. Pada ekor Berokan itu harus lurus ini menunjukkan ekor itu adalah petilasan atau jejak. Manusia akan terlihat apabila memiliki rekam jejak yang lurus. Dalam pertunjukkannya seni Berokan sering mengucapkan awor – awor maksudnya campur ini menunjukkan kepada masyarakat berokan ini ingin nyampur atau bergabung dengan manusia terutama anak-anak, karena dia merasa sama makhluknya Tuhan sehingga dia mengejar anak-anak. Berokan mengejar itu tidak bermaksud untuk menyakiti tetapi untuk bersatu dan bergaul dengan manusia. Sementara anak-anak tidak mengerti apa maksud dari Berokan. Anak-anak merasa takut karena bentuknya seperti binatang buas yang menakutkan. Hal ini menunjukkan seringnya salah paham itu terjadi karena tidak adanya pengrtian antara satu dengan yang lainya, demikian jelas Dasma Adiwijaya. (Sumber : Lembaga Kebudayaan Indramayu Yodhi RS )















