Pelita News I Indramayu – Pengendalian hama tikus di areal persawahan yang dilakukan Kelompok Tani (Poktan) Pos Pelayanan Agens Hayati (PPAH) Sri Trusmi Satu Desa Kedokanbunder Wetan Kecamatan Kedokanbunder Kabupaten Indramayu sangat ramah lingkungan. Pengendalian yang dilakukan mitra binaan Pertamina EP Zona 7 Jatibarang Field ini cukup murah meriah dan tidak membahayakan keberadaan pipa Pertamina yang membentang di areal persawahan desa setempat.
Pengendalian yang dilakukan mereka di daerah endemik tikus ini tidak dengan cara dibakar tetapi menggunakan teknologi Trap Barrier Sistem (TBS) dan Linier Trap Barrier Sistem (LTBS) dan rumah burung hantu (Rubuha). Imbasnya, hama tikus terkendali dan produksi pertanian meningkat.
Ketua Poktan PPAH Sri Trusmi Satu Desa Kedokanbunder Wetan Kecamatan Kedokanbunder, Waklan mengatakan untuk mengamankan areal pertanian dari gangguan organisme pengganggu tanaman (OPT) selain menggunakan teknologi pengendalian hama terpadu (PHT) dengan pupuk hayati juga menggunakan teknologi TBS, LTBS dan Rubuha.
Dikatakan, TBS dan LTBS hampir sama bentuknya, TBS merupakan perangkap tikus berbentuk bujur sangkar dan LTBS adalah terpal yang dipasang memanjang dan berfungsi membatasi habitat tikus di sawah. Di kedua sisi TBS dan LTBS lanjutnya diberi jebakan tikus sehingga tikus tidak bisa keluar lagi. Dan dalam satu malam per jebakan mendapatkan 8-20 ekor tikus.
Dalam menggunakan teknologi PHT kata dia, pihaknya mendapatkan pendampingan dari Pertamina EP Zona 7 Jatibarang Field melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) Kerja Tani Berdikari dan Ketahanan Pangan (Jari Tangan) sejak tahun 2018.
“Dibawah pendampingan Pertamina EP Zona 7 Jatibarang Field kami mengembangkan jenis agens hayati dan terbaru adalah TBS, LTBS dan Rubuha,” kata dia kemarin.
Waklan tidak menampik akhir-akhir ini OPT yang menyerang areal persawahan adalah kawanan si moncong. Karena serangannya itu, banyak tanaman padi baik di persemaian maupun di hamparan rusak dan harus disemai/ditanam ulang. Kemudian sambungnya, berkat pendampingan dari Penyuluh Pendamping Wilbin Desa Kedokanbunder Wetan BPP Kedokanbunder dan Pertamina EP Zona 7 Jatibarang Field pihaknya mengembangkan teknologi TBS, LTBS dan Rubuha.
“Karena serbuan si moncong sangat merusak, pada awalnya kami akan membakar sarang tikus namun karena sarang tersebut juga banyak di bawah jalur pipa Pertamina dan dikhawatirkan akan terjadi kebakaran maka diurungkan. Dan sebagai gantinya kami terapkan teknologi ramah lingkungan yakni TBS, LTBS dan Rubuha,” ucapnya.
Officer Commrel & CID-CSR Pertamina EP Zona 7, Andhar Lutfi mengaku kedatangannya ke Poktan PPAH Sri Trusmi Satu Desa Kedokanbunder Wetan untuk melihat dari dekat Program CSR Jari Tangan yang telah digulirkannya.
Ia mengaku senang karena program Jari Tangan di Desa Kedokanbunder Wetan tidak saja dinikmati sendiri namun sudah disosialisasikan ke poktan lainnya baik di wilayah Kecamatan Kedokanbunder maupun wilayah kecamatan lainnya. Terakhir kata dia, mereka (Poktan) Sri Trusmi Satu sedang mengembangkan teknologi TBS, LTBS dan Rubuha.
“Kami hadir di Poktan Sri Trusmi Satu sejak 2018 sd 2022. Kelompok mereka sudah mandiri. Artinya sudah berhasil menerapkan program pengendali Jari Tangan dan sudah disosialisasikan ke poktan lainnya. Meski sudah mandiri namun pendampingan tetap dilakukan,” kata Andhar. @safaro















