Pelita News Kabupaten Indramayu
Selama ini, berdasarkan jenisnya, mayoritas timbunan sampah nasional pada tahun 2022 berupa sampah sisa makanan dengan proporsi 41,55%. Kemudian diikuti sampah plastik di urutan kedua dengan proporsi 18,55%. Hal ini menunjukkan bahwa penanganan sampah plastik memerlukan perhatian serius, terutama dalam hal pengelolaannya agar tidak berdampak buruk terhadap lingkungan.
Bijih plastik jenis PP yang diproduksi Polytama memberikan solusi lebih berkelanjutan karena sifatnya yang dapat didaur ulang dan tidak mengandung ikatan kimia beracun, sehingga aman untuk digunakan sebagai kemasan makanan. Dengan kemasan yang dapat dipakai berulang kali, plastik PP berkontribusi dalam mengurangi jumlah sampah plastik sekali pakai yang berpotensi mencemari lingkungan.
Terbatasnya wawasan Masyarakat akan pengelolaan dan pemanfaatan plastik secara tepat guna telah menggerakkan polytama untuk memberikan edukasi terkait penggunaan plastik terutama jenis PP yang dapat dikenali dengan kode plastik simbol segitiga nomor 5.
Resin PP hasil produksi Polytama termasuk produk yang ramah lingkungan jika dibandingkan dengan produk-produk petrokimia lainnya. Dengan penanganan tepat, sampah plastik PP dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan.
Ada pula program TJSL unggulan lain yang dilakukan Polytama untuk turut menghidupkan potensi ekonomi wilayah sekitar seperti Pengembangan Pindang Lombang atau Bang Pilo.
Dwinanto Kurniawan, Direktur Polytama menyampaikan, “Program Bang Pilo memberikan pelatihan terkait pengemasan makanan yang tepat. Ini dengan memanfaatkan keunggulan-keunggulan dari plastik PP hasil produksi Polytama”
Produk PP tidak hanya menambah nilai jualmelalui kemasan yang kreatif, tetapi juga memperpanjang masa simpan produk sehingga bisa memperluas jangkauan pemasaran.
Upaya lain Polytama atas pemanfaatan limbah, telah diterapkan melalui pembuatan stasiun pengisian listrik di Polytama yang memanfaatkan limbah B3 oligomer sebagai sumber energi.
Fasilitas ini, selain menghemat biaya, kehadiran charging station tersebut berkontribusi mengurangi polusi udara dan biaya untuk membeli bahan bakar.
“Ke depannya, Polytama akan terus aktif dalam menjalankan keberlanjutan lingkungan dengan memperkuat sinergi bersama seluruh lapisan masyarakat. Sehingga bisa saling bahu-membahu mengelola lingkungan secara bertanggung jawab” ujar Dwinanto.
Sementara itu, untuk pengerjaan proyek PPB (Polypropylene Balongan), sesuai komitmen, Polytama bertekad mengoptimalisasi potensi yang dimiliki oleh daerah, diantaranya dalam serapan tenaga kerja lokal untuk dilibatkan dalam pengerjaan proyek tersebut. (Duliman)















