Pelita News Kabupaten Cirebon
Musim panas yang melanda Kabupaten Cirebon dirasa sangat berdampak pada sektor pertanian khususnya pertanian tanaman padi di Desa Babadan Kecamatan Gunung Jati Kabupaten Cirebon, seluas kurang lebih 84 hektare sawah yang disetiap musimnya selalu ditanami tanaman padi, namun musim panas (kemarau.red) kali ini memaksa seluruh Petani padi tidak bisa bercocok tanam dengan alasan keringnya saluran air pertanian yang tidak memungkinkan membasahi lahan sawah yang ada di Desa Babadan tersebut.
Menurut Hanto Kuwu Desa Babadan Kecamatan Gunung Jati Kabupaten Cirebon saat ditemui Jurnalis Harian Pelita News Selasa 17/09 menjelaskan, sekitar 80 sampai 90 persen warganya berprofesi sebagai petani padi, namun disetiap musim panas sawah yang ada di Desa Babadan tidak bisa ditanami tanaman padi, sehingga sawah yang ada hanya mampu menghasilkan dua kali tanam padi disetiap tahunnya.
“disini hanya dua kali tanam, dan warga kami mayoritas merupakan petani,” katanya.
Disaat musim panas warganya Desa Babadan yang biasanya berprofesi sebagai petani didesanya langsung bandting stir dengan beralih profesi dengan macam-macam profesi yang dijalaninya untuk menghasilkan pundi-pundi rupiah untuk kehidupannya.
“kalau sudah musim seperti ini, ada yang sebagai kuli bangunan, ada yang jualan pokoknya macam-macam,”imbuh Hanto.
Walaupun terdapat sungai yang besar dan pasokan air yang dirasa masih memungkinkan untuk melakukan cocok tanam padi, akan tetapi para petani untuk mendapatkan air tersebut harus merogoh kocek yang cukup besar, pasalnya untuk mendapatkan air dari sungai tersebut para petani harus memompa air dari sungai sampai kelahan sawahnya.
“biayanya cukup mahal, dan itu dirasa belum sebanding dengan hasil yang nantinya didapat, jadi petani banyak yang tidak melakukan cocok tanam kalau sudah musim panas datang,”jelasnya.
Ia juga menambahkan walaupun ada sumur artesis atau sumur bor tanah di beberapa titik sawah, namun air yang dihasilkan dari sumur tersebut dinilainya masih belum mampu memberikan dampak yang signifikan, pasalnya air yang didapat dari sumur bor tanah memiliki rasa payau, sehingga kurang bagus untuk pengairan pertanian sawah padi.
“air sumur ada rasa asinnya, sehingga warga jarang ada yang menggunakan sumur itu,”tambahnya.
Hanto menyebutkan sekitar 84 hektare lahan pertanian padi dimusim saat ini tidak bisa dilakukannya cocok tanam padi, dan lahan sawah yang ada terpaksa dibiarkan menunggu musim penghujan datang.
“84 hektare sawah yang ada di Babadan, kalau saat ini ya tidak bisa tanam, karena disini hanya bisa tanam dua kali dalam satu tahunnya,”paparnya.
Hanto mengharapkan adanya solusi dari pemerintah agar warganya bisa melakukan tanam padi disetiap musimnya, sehingga penghasilan warganya dari bertani tetap didapat disetiap musimnya.
“semoga ada solusi agar bisa tanam tiga kali dalam satu tahun,”harapnya.(Sur)
















