Pelita News | Cirebon – Ada pesan mendalam yang disampaikan Ketua Yayasan Pendidikan Swadaya Gunung Jati, Prof. Dr. H. Mukarto Siswoyo, Drs., M.Si., kepada para jamaah yang akan berangkat menunaikan ibadah umrah pada tanggal 27 Agustus 2026.
Bukan tentang kemewahan perjalanan. Bukan pula tentang siapa yang paling mampu secara finansial.
Di hadapan para calon tamu Allah, Mukarto justru mengingatkan satu hal yang dianggap jauh lebih penting: meluruskan niat dan membersihkan hati.
Pesan tersebut disampaikan Mukarto saat membuka kegiatan manasik umrah jamaah Yayasan Pendidikan Swadaya Gunung Jati bersama ICMI Travel IT-310, yang digelar di Kantor Yayasan Pendidikan Swadaya Gunung Jati, Jalan Stadion Bima No. 1, Kota Cirebon, Sabtu (15/8/2026).
Kegiatan manasik menjadi tahapan penting sebelum rombongan bertolak ke Tanah Suci. Selain membekali jamaah dengan pengetahuan mengenai tata cara ibadah umrah, kegiatan tersebut juga menjadi momentum untuk mempersiapkan mental, fisik dan terutama hati sebelum menjadi tamu Allah di Makkah dan Madinah.
“Banyak Uang Belum Tentu Bisa Berangkat”
Dalam sambutannya, Mukarto mengajak para jamaah untuk tidak melihat kesempatan umrah hanya dari sisi kemampuan ekonomi.
Menurutnya, seseorang bisa saja memiliki uang yang cukup dan kondisi kesehatan yang baik, tetapi belum tentu mendapatkan kesempatan untuk berangkat ke Tanah Suci.
Karena itu, para jamaah yang mendapatkan kesempatan tersebut harus benar-benar mensyukurinya.
“Jangan salah niat. Yang banyak uang dan badannya sehat belum tentu bisa berangkat. Jadi, kita harus bersyukur bahwa kita yang terpilih ini adalah orang-orang yang mendapat kesempatan untuk bertamu di rumah Allah,” ujar Mukarto.
Pesan itu sekaligus menjadi pengingat agar perjalanan umrah tidak berhenti sebagai perjalanan fisik dari Indonesia menuju Arab Saudi. Lebih dari itu, umrah harus menjadi perjalanan batin untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Di hadapan jamaah, Mukarto juga membagikan sebuah pengalaman pribadi yang menurutnya menjadi pelajaran tentang kekuatan doa dan keyakinan.
Ia menceritakan pengalaman setelah menunaikan ibadah haji. Saat itu, dirinya berdoa agar Allah kembali memberikan keturunan.
Dengan gaya bercerita yang ringan, Mukarto mengisahkan bagaimana doa tersebut kemudian mendapatkan jawaban.
“Saya pernah berdoa setelah pulang ibadah haji. Saya meminta kepada Allah, dari rahim istri saya, ya Allah, berikan saya seorang anak lagi,” kenangnya.
Tidak lama setelah itu, sekitar satu bulan usai kepulangannya dari Tanah Suci, Mukarto mendapat kabar bahwa istrinya hamil.
Anak yang lahir dari doa tersebut kini telah berusia 13 tahun dan sedang menempuh pendidikan di Pesantren Bina Insani.
Bagi Mukarto, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa doa harus disertai keyakinan yang kuat dan hati yang bersih.
“Keyakinan yang kuat, yang bersih, doa akan disegerakan. Niscaya Allah akan mengabulkan doa kita,” katanya.
Pesan itu pun menjadi salah satu inti manasik: datang ke Baitullah bukan sekadar membawa koper, tetapi juga membawa hati yang siap untuk beribadah.
Mukarto kemudian menyampaikan pesan yang cukup tegas kepada jamaah penerima fasilitas umrah dari yayasan.
Ia mengibaratkan kesempatan tersebut seperti kegiatan pelatihan yang diselenggarakan sebuah lembaga. Menurutnya, ada perbedaan sikap antara seseorang yang mengikuti pelatihan dengan biaya sendiri dan seseorang yang mendapatkannya secara gratis.
Orang yang mengeluarkan biaya sendiri, kata Mukarto, biasanya memiliki rasa tanggung jawab dan kesungguhan lebih besar.
Namun, ia menegaskan bahwa analogi tersebut jangan sampai justru membuat jamaah menganggap remeh fasilitas umrah yang diberikan yayasan.
Sebaliknya, karena perjalanan tersebut merupakan bentuk apresiasi lembaga, jamaah harus semakin serius menjalankan ibadah.
“Jangan sampai karena umrah ini dibiayai lembaga atau yayasan, kemudian dimanfaatkan tidak sebagaimana mestinya. Justru harus semakin sungguh-sungguh. Luruskan niat untuk beribadah kepada Allah dan bertamu ke Baitullah,” tegasnya.
Mukarto berharap seluruh jamaah mampu menjaga niat sejak keberangkatan hingga kembali ke tanah air.
Ia juga berpesan agar jamaah menjaga kesehatan, mengikuti tuntunan ibadah dan tidak menyia-nyiakan setiap kesempatan selama berada di Tanah Suci.
Mukarto menegaskan bahwa fasilitas perjalanan umrah tersebut merupakan bentuk penghargaan atau reward dari lembaga.
Menurutnya, tidak ada imbalan khusus yang diminta yayasan dari para jamaah.
Justru, satu hal yang diharapkan adalah doa agar Yayasan Pendidikan Swadaya Gunung Jati terus berkembang dan semakin kuat dalam menjalankan perannya di dunia pendidikan.
“Ini adalah reward dari lembaga, murni niat baik dari UGJ. Kami tidak meminta imbalan apa pun. Kami hanya meminta doa terbaik untuk Yayasan Pendidikan Swadaya Gunung Jati agar selalu maju dan jaya di dalam dunia pendidikan,” ungkapnya.
Pemberian fasilitas umrah tersebut menjadi bagian dari komitmen yayasan dalam memberikan apresiasi kepada pihak-pihak yang dinilai telah memberikan kontribusi.
Dengan demikian, perjalanan ke Tanah Suci tidak hanya membawa misi ibadah bagi jamaah, tetapi juga menjadi bagian dari ikhtiar membangun hubungan spiritual dan nilai-nilai kebaikan di lingkungan Yayasan Pendidikan Swadaya Gunung Jati.
Menariknya, pada perjalanan umrah tahun ini, Prof. Mukarto Siswoyo bersama istrinya, Hj. Ani Mularto Siswoyo, juga turut bergabung dalam rombongan jamaah.
Kehadiran keduanya membuat perjalanan tersebut terasa semakin istimewa. Ketua yayasan tidak hanya memberikan fasilitas dan pesan kepada para jamaah, tetapi juga ikut merasakan langsung perjalanan spiritual bersama rombongan menuju Tanah Suci.
Dengan bekal manasik, pengetahuan fikih, kesiapan fisik dan terutama niat yang telah diluruskan, para jamaah diharapkan mampu menjalankan seluruh rangkaian ibadah dengan khusyuk.
Sebab, seperti pesan Mukarto, yang paling penting dalam perjalanan menuju Baitullah bukan seberapa besar kemampuan seseorang untuk membayar perjalanan, tetapi seberapa siap hati menerima panggilan untuk menjadi tamu Allah.@Bams















