Pelita News | Madinah— Bagi sebagian jemaah umrah, perjalanan ke Madinah tidak hanya tentang memperbanyak ibadah di Masjid Nabawi. Ada pengalaman lain yang tak kalah menarik: mengenal lebih dekat kehidupan masyarakat Madinah, termasuk menikmati hamparan kebun kurma yang menjadi salah satu ikon kota suci tersebut.
Pengalaman itu dirasakan rombongan jemaah umrah Yayasan Universitas Swadaya Gunung Jati (UGJ) Cirebon saat mengikuti city tour hari keempat perjalanan umrah. Didampingi Tour Leader ICMI Travel, Ustaz Fariddzul Adzar, atau yang akrab disapa Ustaz Izul, rombongan mengunjungi sejumlah destinasi, mulai dari Masjid Quba, kebun kurma, hingga Jabal Uhud.
Di kebun kurma, perjalanan yang semula hanya menjadi agenda wisata berubah menjadi pengalaman edukatif. Ustaz Izul mengajak para jemaah mengenali berbagai jenis kurma yang tumbuh di Madinah, cara membedakan karakter buahnya, hingga kurma yang kerap menjadi pilihan oleh-oleh jemaah Indonesia.
“Kurma itu bukan hanya soal rasanya manis. Ada banyak jenis dengan karakter, tekstur, warna, dan cita rasa yang berbeda,” jelas Ustaz Izul kepada para jemaah.
Salah satu jenis kurma yang langsung menarik perhatian jemaah adalah Ajwa, yang populer di kalangan umat Islam karena keterkaitannya dengan sejarah Nabi Muhammad SAW.
Ajwa dikenal memiliki warna gelap hingga hitam, tekstur lembut, dan rasa manis yang khas. Di kalangan jemaah Indonesia, kurma ini sering menjadi salah satu buah tangan yang paling banyak dicari ketika berkunjung ke Madinah.
Ustaz Izul kemudian menjelaskan hadis tentang keutamaan kurma Ajwa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu.
Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa yang mengonsumsi tujuh butir kurma Ajwa pada pagi hari, maka pada hari itu ia tidak akan terkena dampak racun dan sihir.
Hadis tersebut menjadi salah satu alasan mengapa Ajwa memiliki tempat khusus di hati banyak jemaah. Namun, Ustaz Izul juga mengajak jemaah untuk tidak hanya terpaku pada satu jenis kurma.
Sebab, kebun kurma Madinah menyimpan keragaman yang menarik untuk dikenali.
Di antara jenis kurma yang dikenal luas adalah Sukari, yang memiliki tekstur lembut dan rasa sangat manis. Ada pula Medjool, Anbara, dan Safawi, yang masing-masing memiliki karakter rasa dan tekstur berbeda.
Bagi jemaah yang selama ini mengenal kurma sebatas buah berwarna cokelat atau hitam yang biasa disantap saat Ramadan, kunjungan ke kebun kurma memberikan pengalaman berbeda.
Pohon kurma dapat dilihat secara langsung, mulai dari bentuk pohonnya, buah yang masih muda, hingga kurma yang telah matang dan siap dikonsumsi.
“Selama ini banyak orang Indonesia mengenal kurma terutama saat Ramadan. Padahal di Madinah, kurma merupakan bagian dari kehidupan masyarakat dan memiliki banyak jenis,” kata Ustaz Izul.
Hal menarik lainnya yang diperkenalkan Ustaz Izul kepada rombongan adalah kurma muda.
Kurma muda biasanya memiliki warna hijau atau kuning, tergantung varietas dan tingkat kematangannya. Salah satu yang dikenal adalah kurma Barhi.
Berbeda dengan kurma matang yang memiliki rasa manis lebih kuat dan tekstur lebih lembut, kurma muda mempunyai karakter rasa dan tekstur yang berbeda.
Kurma muda juga kerap diperbincangkan dalam konteks kesehatan dan program kehamilan. Namun, manfaat tersebut sebaiknya dipahami sebagai bagian dari pola makan bergizi, bukan sebagai pengganti pengobatan atau jaminan meningkatkan kesuburan.
“Jadi, jangan hanya melihat kurma sebagai makanan ringan. Ada banyak jenis dan karakter yang menarik untuk kita kenali,” ujar Ustaz Izul.
Kunjungan ke kebun kurma ternyata tidak berhenti pada sesi edukasi.
Begitu memasuki area penjualan, suasana berubah menjadi lebih meriah. Para jemaah mulai memilih berbagai jenis kurma untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh bagi keluarga di Indonesia.
Pengalaman ini sudah cukup sering dijumpai Ustaz Izul ketika mendampingi rombongan umrah.
Bahkan, tidak sedikit jemaah yang meminta bantuan dirinya untuk memilih jenis kurma hingga menawar harga.
“Kadang saya sampai bingung karena banyak yang minta referensi, mana kurma yang bagus, mana yang cocok dibawa pulang, kemudian minta tolong ditawar juga,” kata Ustaz Izul sambil tersenyum.
Para jemaah perempuan, khususnya, menjadi kelompok yang paling antusias berburu oleh-oleh. Beragam jenis kurma masuk ke dalam keranjang belanja, mulai dari Ajwa, Sukari, Safawi hingga kurma muda.
Bagi mereka, membawa pulang kurma bukan sekadar membeli buah tangan. Ada cerita perjalanan yang ikut dibawa pulang.
Kebun kurma menjadi salah satu destinasi yang menarik bagi jemaah umrah yang ingin mendapatkan pengalaman berbeda di Madinah.
Selain dapat membeli oleh-oleh, jemaah bisa melihat langsung bagaimana kurma menjadi bagian penting dari kehidupan dan budaya masyarakat setempat.
Sejumlah kawasan perkebunan kurma berada di sekitar Madinah, termasuk wilayah sekitar Masjid Quba dan kawasan perkebunan yang menjadi tujuan kunjungan wisatawan.
Bagi jemaah Indonesia, kunjungan ke kebun kurma juga bisa menjadi kesempatan untuk belajar mengenali jenis kurma sebelum membeli, sehingga tidak sekadar berbelanja berdasarkan kemasan atau harga.
Bagi Ustaz Izul, city tour bukan sekadar membawa jemaah berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
Setiap destinasi, menurutnya, sebaiknya memiliki cerita dan nilai edukasi yang dapat memperkaya perjalanan spiritual jemaah.
“Harapannya, jemaah tidak hanya pulang membawa oleh-oleh, tetapi juga membawa pengalaman, pengetahuan, dan cerita dari Madinah,” tutur Ustaz Izul.
Di antara rangkaian ibadah dan ziarah, kebun kurma akhirnya menjadi salah satu tempat yang membuat perjalanan jemaah UGJ Cirebon terasa semakin berwarna.
Sebab di Madinah, bahkan sebutir kurma pun bisa membawa cerita—tentang sejarah, tradisi, cita rasa, dan kenangan perjalanan menuju Tanah Suci.@Bams















