Pelita News I Indramayu – Kepala Bidang Tanaman Pangan pada Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Indramayu, Dr. H. Imam Mahdi, S.P., M.M., mengajak para petani untuk kembali ke pertanian ramah lingkungan menggunakan pupuk organik. Ajakan itu bukan tanpa sebab karena dilatarbelakangi terjadinya penggunaan pupuk kimia secara terus menerus hingga lebih dari 30 tahun, sehingga berlebihan atau over dosis yang menyebabkan kerusakan lahan. Lahan menjadi kritis atau terdegradasi.
Ajakan itu dikemas oleh Imam Mahdi dengan meluncurkan rancangan aksi perubahan melalui kegiatan pencanangan gerakan organik padi lahan untuk kemakmuran Indramayu melalui penyusunan peraturan bupati di Kabupaten Indramayu. Rancangan itu sebagai persyaratan Pelatihan Kepemimpinan Administrator Angkatan III Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Jawa Barat Tahun 2025.
Gagasan tersebut merupakan gagasannya karena setiap peserta diklatpim itu harus memiliki gagasan sendiri berdasarkan tupoksinya sesuai dinas masing-masing. Tidak bias meniru dan harus asli.
Rencana aksi ini, kata dia, sudah mulai disosialisasikan seperti di rapat-rapat dinas, dengan masyarakat Desa Mundakjaya Cikedung kolaborasi dengan Pertamina EP melalui program “jari tangan” termasuk dengan kelompok tani di Desa Krasak Kecamatan Jatibarang dan poktan lainnya.
Dalam rancangannya, Imam mengatakan ketika pupuk kimia diberikan/ditambah secara terus menerus, maka bukan menambah produksi namun semakin menurunkan produksi padi termasuk jenis produksi tanaman lainnya. Menurutnya, itu sejalan dengan the law of diminishing return (hukum kenaikan hasil yang semakin berkurang). Ketika ditambah pupuk terus menerus bukan meningkatkan produksi tetapi malah menurunkan, karena tanahnya over dosis atau jenuh. Jadi harus menggunakan pupuk yang berimbang.
“Karena sudah lama maka harus dilakukan suatu gerakan kembali ke pertanian ramah lingkungan dengan menggunakan pupuk organik. Gerakan tersebut tentunya harus kuat, karena petani sudah terbiasa menggunakan pupuk kimia,” kata dia ketika ditemui di kantornya, Selasa (29/07/2025).
Gerakan itu, sambungnya menjadi latar belakang adanya aksi perubahan gerakan organik padi lahan. Karena menurutnya, padi bisa ditanam pada lahan berbeda, seperti lahan tegalan, sawah, pasang surut, bantaran, lahan perhutani dan lainnya bahkan bisa di tanam di lahan pekarangan. Pada sisi lain, program pembangunan global yakni Sustainable Development Goals (SDGs) itu mengusung pembangunan berkelanjutan sebagai turunan dari kesepakatan Paris, Prancis dan Rio De Jeneiro, Brasil. Kesepatan itu menjadi dasar pembangunan di seluruh negara harus mengacu kepada poin-poin SDGs, diantaranya green ekonomi, mengurangi pencemaran, menurunkan pemanasan global, dan kerusakan lingkungan.
Program-program itu berkelanjutan sehingga gerakan pencanangan gerakan organik di lahan in line (sejalan) dengan SDGs, Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN), Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Provinsi Jawa Barat dan in line dengan RPJPD Kabupaten Indramayu. Bahkan program unggulan nomor 9, Bupati dan Wakil Bupati Lucky Hakim – Syaefudin, membuat pupuk organik dan mengembangkan pertanian organik. Program unggulan itu merupakan turunan misi nomor 2 yakni meningkatkan kesejahteraan para petani. Sangat in line, sehingga saya menggagas aksi perubahan ini, aksi itu bukan kaleng-kaleng tapi ada dasarnya.
“Aksi ini sejalan dengan program dunia, RPJPN, RPJPD Provinsi dan RPJPD Kabupaten yang di dalamnya ada visi misi Bupati dan Wakil Bupati yakni ingin mengembalikan kesuburan lahan agar kedepan lahan tersebut bisa diwariskan kepada anak cucu,” ujarnya.
Adapaun tujuan dari rancangan aksi perubahan melalui pencanangan gerakan organik padi lahan, adalah meningkatkan produksi dan produksifitas padi. Sejalan dengan program unggulan Presiden Prabowo dengan Asta Citanya yakni swasembada. Kalau lahannya kritis atau terdegradasi, bisakah produktifitasnya meningkat, lama-lama menurun. Kuncinya pada lahan.
Menurutnya, berdasarkan hasil penyuluhan dan pembinaan pihaknya pada kelompok tani (Poktan) Sri Makmur Desa Krasak Kecamatan Jatibarang yang sudah lama menggunakan pupuk organik hasil produksinya meningkat. Semula rata-ratanya 7 ton/hektare (ha) bisa meningkat satu sampai dua ton menjadi 8-9 ton/ha, maka pendapatan petaini akan meningkat pula, ketika pendapatannya meningkat maka akan memperbaiki kesejehteraan para petani.
Dikatakan, berkaitan dengan rancangan aksi perubahan itu, maka di desa lokus pihaknya juga akan melatih para petani melalui Poktan Sri Makmur Desa Krasak yang sudah biasa membuat pupuk organik agar petani lainnya bisa membuat pupuk sendiri.
Intinya, penggunaan pupuk organik, pada tahap penumbuhan dan pengembangan itu mendampingi pupuk-pupuk kimia sintetis agar serapan pupuk kimia itu tinggi dan maksimal. Maksudnya, ketika lahan sudah kritis, pupuk mikro (mangan, zink, ferum, Boron, molibden dan lainnya) yang sangat dibutuhkan oleh tanaman habis maka pertumbuhan tanaman terhambat, tapi jika NPK pupuk makro tidak ada, tidak apa-apa, tanaman masih hidup. Tapi kalau tidak ada hara mikro, tanaman bisa mati. Ini bisa disebut dalam posisi di ujung tanduk, masih ada makro dari pupuk-pupuk kimia namun mikronya sudah habis. Produksi masih ada tapi melandai.
Imam menyebutkan, ketika pupuk kimia diberikan ke lahan pertanian kritis yang diserap hanya 60 persen sisanya 40 persen menumpuk di lahan, akar, batang dan itu terjadi bertahun-tahun. Contohnya, ketika jerami dipangkas ada kandungan pupuk yang tidak dimanfaatkan, itu mubajir. Oleh karenanya kata Imam, supaya tanamannya kuat dan sehat maka serapan pupuk kimia sintetis habis maka diimbangi pupuk organik mikro dan ditambah dengan bakteri mikroba.
Pihaknya memprediksi kalau penggunaan pupuk organik berhasil maka penggunaan pupuk kimia akan ditinggalkan karena dengan organik saja hasilnya sudah bagus dan itu sudah dibuktikan oleh Poktan Sri Makmur Desa Krasak, Kecamatan Jatibarang.
Dari aksi perubahan ini diharapkan ada pencanangan untuk jangka menengah dan panjang dan pencanangan kemungkinan dilakukan tahun 2026.
“Dari aksi perubahan diharapkan adanya pembuatan pupuk organik tiap tahun dan bisa terus disebarkan ke poktan-poktan lainnya dengan metoda adopsi dan adaptasi,” pungkasnya. @safaro















