
Pelita News Kabupaten Cirebon
Proyek pekerjaan penanaman pipa yang berada di Blok Wasiat Desa Jungjang Wetan dan Blok Plawad Desa Jungjang Kecamatan Arjawinangun Kabupaten Cirebon kembali dikeluhkan warga, pasalnya imbas dari pekerjaan tersebut diduga sangat berdampak pada area sawah warga. Penanaman pipa tersebut disinyalir merupakan program kerjasama antara pihak Perumda Air Minum Kabupaten Indramayu dengan Perumda Air Minum Kabupaten Kuningan yang hingga saat ini diduga kuat belum ada keterbukaan informasi terhadap publik.
Menurut Jahuri warga Desa Jungjang Wetan mengaku bahwa sawah yang saat ini sedang digarapnya, terkena dampak dari hasil pengerasan tanah yang saat itu diduga menjadi material pengurugan jalan tersebut, Ia juga menyebutkan sawah yang digarapnya merupakan tanah milik pribadi bukan milik Perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) maupun Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), serta milik pemerintah setempat.
“tanah Carik (tanah milik), sawah ini Saya yang garap, dulunya nggak ada batu, sekarang banyak batu kecilnya,”ujarnya.
Adanya batuan kecil yang masuk ke area pesawan yang saat ini sedang digarapnya diduga sangat merugikan, Ia menjelaskan bahwa seharusnya saat pelaksanaan pekerjaan pengurugan atau pengerasan jalan tanah yang ada dilokasi diberikan sirtu, akan tetapi diduga tanah yang ada disitu kembali ditimbun dan diduga diberi urugan.
“jelas dirugikan, dulunya ini nggak ada batu satu pun, sebenarnya harus diangkut dimobil jangan digelar disini,”jelasnya.
Jahuri menduga, sepanjang 200 meter hingga 300 meter sawah yang ia garap diduga kuat terkena imbas, Jahuri yang saat itu bersama Jurnalis Harian Pelita News menunjukkan batuan kecil disepanjang area sawah yang ia maksud dan menurutnya sebelum ada proyek tersebut tidak ada batuan kecil dipinggir sawah itu.
“batu yang masuk ke sawah sekitar 200 sampe 300 meteran, sebelumnya nggak ada batu satu pun, karena tanahnya dimasukin ke pinggir kali jadi ada batu saat ini,”ungkapnya.
Dirinya merasa terkena dampak dari hasil proyek itu, bahkan ketika Ia bersama anaknya sedang menggarap sawah, Jahuri mengaku telapak kaki, dan tangan anaknya dan dirinya sering terkena batuan kecil itu yang dinilainya cukup tajam.
“dampak pasti ada, ini aja anak saya sudah kena serpihan batu, batu kan kecil-kecil tajam,”bebernya.
Jahuri pernah berusaha untuk meminta pihak perusahaan yang sedang melaksanakan pekerjaan itu, akan tetapi hingga saat ini diduga Jahuri belum mendapatkan pertanggungjawaban sesuai harapannya.
“tanggungjawabnya seperti apa, di telpon saja, nanti diberesin katanya, tapi sampai saat ini belum,”imbuhnya.
Hasil dari pekerjaan tersebut bukan hanya ada perubahan pada kondisi badan jalan yang telah digali, akan tetapi terdapat juga suatu perubahan pada saluran tersier sawah yang dulu ya kecil saat ini dirasanya cukup lebar, sehingga hal itu mengurangi luas sawahnya.
“saluran dulu sempit, sekarang lebar, jelas ini sudah mengurangi area lahan sawah,”paparnya.
Walaupun diduga terdampak, Jahuri mengaku tidak ada ganti kerugian yang ia terima dari pihak perusahaan ya g sedang melaksanakan pekerjaan itu, dan hingga samapi berita ini dimunculkan Ia tegaskan belum menerima kompensasi maupun ganti rugi.
“nggak pernah nerima kompensasi, dan nggak ada sampai saat ini,”tegasnya.
Atas kejadian ini, Jahuri akan melayangkan surat aduan kepad instansi terkait dan pihak-pihak terkait, sehingga kedepannya pihak pengusaha maupun lainnya dapat memperhatikan kondisi yang disebabkan dari suatu pekerjaan yang dilakukan.
“nanti saya akan bersurat, untuk melaporkan kejadian ini,”tutupnya.(Sur)















